Menerima Penghargaan Tupperware She can Award 2013

Tupperware SheCAN! Award 2013, penghargaan untuk 89 orang yang menginspirasi Indonesia dengan karya-karya sosial mereka

Menerima Penghargaan Indi Women Award 2013

21 Perempuan Inspiratif Menerima pengharagaan "Indi Women Award" dari PT. Telkom Indonesia, dihadiri oleh Ibu Linda Gumelar, Menteri Peranan Wanita. Bagian saya, Socio Activist untuk Save Street Child

Crowd Funding Projects

Kita bisa keroyok project-project sosial ini bersama-sama untuk masa depan yang lebih baik. Gabung sekarang! ^^

Bersama Sarah Sechan dan Keluarga Save Street Child

Talk Show di NET TV bersama Sarah Sechan. Adik-adik ternyata sudah berbakat sebelum ditraining jadi host TV!

Kumpulan Puisi

Kumpulan puisi-puisi karya sendiri atau saduran dapat dibaca disini

Tampilkan postingan dengan label children. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label children. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Juni 2014

13 Jurus Antisipasi Pedofil


(picture taken from here)

Memiliki anak memang anugerah tersendiri. Tapi, ini juga menjadi alarm para orang tua untuk selalu waspada. Pelecehan terhadap anak kian meningkat, Arist Merdeka Sirait, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyatakan bahwa jumlah kasus kekerasan seksual pada anak meningkat dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 2012 jumlahnya 124 kasus, tahun 2013 mencapai 1,937 kasus. Untuk tahun 2014, sudah mencapai 200 kasus dengan jumlah korban hampir hampir 300 anak (baca berita ini)

Apakah anak anda aman?

Jawabannya mungkin, belum tentu. Iya. Jurus antisipasi harus selalu di-upgrade seiring makin canggihnya modus kasus kejahatan terhadap anak. Salah satu yang menjadi fokus keprihatinan saya adalah tentang “kejahatan seksual”, dan sebagai antisipasi, para orang tua seharusnya memang mengajarkan 13 Jurus Antisipasi Pedofil berikut ini pada anak:

1. Ingatkan anak anda (terutama perempuan) untuk TIDAK DUDUK DIPANGKU oleh siapapun, bahkan oleh paman sendiri.

2. Hindari berganti pakaian/ telanjang dihadapan anak-anak sejak usia mereka baru 2 tahun. Bergantilah di ruang privat. Hal ini juga berlaku untuk anak-anak, hindari memandikan mereka/ mengganti pakaian di tempat umum.

3. Jangan pernah perbolehkan siapapun memanggil anak anda dengan sebutan “istriku” atau “suamiku”

4. Jika anak anda bermain dengan teman-temannya, selalu perhatikan apa yang mereka mainkan. Anak-anak sekarang pun bisa menjadi pelaku perkosaan (baca berita ini)

5. Jangan pernah memaksa anak untuk mengunjungi orang dewasa yang mereka tak sukai (kemungkinan ada hal tertentu yang buat mereka tak nyaman). Observasi, ajak anak bicara dan lakukan aksi yang perlu.

6. Curigai jika anak anda terlalu lengket dengan orang tertentu. Masih, observasi, ajak anak bicara dan lakukan aksi yang perlu.

7. Lakukan edukasi untuk anak anda tentang seksualitas. Jika tidak, maka, masyarakat yang akan berikan edukasi delusional dan nilai-nilai yang salah.

8. Selalu lakukan inspeksi terlebih dahulu terhadap bacaan/ tontonan baru anak-anak anda.

9. Yakinkan bahwa “Mode Panduan Orang Tua” selalu aktif di TV kabel/ internet anda, dan pastikan di lingkungan terdekat yang biasa anak-anak kunjungi juga.

10. Ajari anak usia 3 tahun untuk melakukan sendiri aktivitas “cebok” dan “mandi”. Beritahu mereka untuk tidak membiarkan orang dewasa lain melakukannya (bahkan anda sendiri).

11. Blacklist beberapa hal yang dapat membahayakan kejiwaan anak anda seperti musik, film, bahkan teman-teman/ keluarga yang suka membully.

12. Ajari anak untuk mengerti bahwa, sesekali mereka harus keluar dari mainstream, jika memang nilai-nilai mereka terganggu.

13. Jika anak anda mulai komplain terhadap perlakuan seseorang, lakukan aksi dan tunjukkan bahwa anda adalah orang tua yang dapat dipercaya dan diandalkan.

Silakan diteruskan ke para orang tua lainnya ya jika informasinya dirasa perlu. 
Have a nice day =)

Disadur dari: berbagai sumber

Jumat, 02 Mei 2014

Bagaimana Cara Mengunggah Foto Anak?

Courtesy of http://styledstagedsold.blogs.realtor.org/ 

Sebagai orang tua, pasti normal kalau ingin mendokumentasikan fase perkembangan anak-anaknya. Ibu saya pun begitu. Bedanya adalah, ibu saya memiliki album foto sebesar A3 dan terletak di lemari kaca berkunci, sehingga, siapapun yang ingin melihatnya harus meminta izinnya dulu. Tapi sekarang? Para ibu-ibu sudah bisa bebas mendokumentasikan foto anak-anak mereka ke media sosial seperti facebook, twitter, path, pinterest, dan lain sebagainya. Lalu saya penasaran, apa mereka nggak was-was, yah? Gimana kalau foto anak mereka disalahgunakan? Rasa penasaran saya ini muncul (dengan kuatnya) setelah santer kasus pedofilia di internet dewasa ini. Tak berhenti disitu, rasa penasaran saya berikutnya adalah “Lah? Memangnya salah ya? Mengunggah foto anak ke internet?

Dan, akhirnya, setelah saya baca-baca artikel di parents.com, saya menemukan tips-tips berikut ini:

Kenali Setting Keamanan Sosial Media Anda
Punya sosial media, tentu kudu paham bagaimana media tersebut bekerja. Mintalah bantuan teman anda untuk mengajari bagaimana mengeset “privacy setting" atau setting keamanan supaya bisa dilihat “hanya oleh teman anda”, atau mungkin hanya bisa dilihat oleh orang tertentu, termasuk “hanya oleh anda sendiri”.
Misal di facebook, setelah klik “unggah foto”, aturlah siapa yang bisa melihat foto tersebut.

Foto 1: Cara Mengeset Setting Keamanan

Menurut Common Sense Media, organisasi yang menyediakan informasi dan pendidikan tentang anak dan media, tidak masalah jika anda ingin mengunggah foto anak. Asalkan, foto tersebut hanya bisa dilihat oleh orang-orang lingkaran terdekat (nah kan, atur privace setting anda ya!)

Gunakan Penanda Foto (Watermark)
Watermark adalah penanda foto. Gunanya untuk klaim foto tersebut milik anda dan tidak bisa disalahgunakan oleh pihak lain.

Dewasa ini, sangat mudah memberi penanda foto, silakan unduh aplikasi di playstore untuk Photo Grid,  Pics Art atau semacamnya di ponsel untuk mengedit foto anda. Jika anda mengunggah pada PC, anda bisa kunjungi Fotor.com untuk mengedit foto kesayangan anda.

Saya bekerja di sebuah perusahaan CSR, dan saya sering mengunggah foto menggunakan penanda fotoseperti ini, anda pun sudah harus mencobanya!

Foto 2: Contoh foto dengan watermark

Perkecil Resolusi
Resolusi mempengaruhi kualitas foto. Semakin kecil resolusi, semakin kecil pula resiko foto anak anda disalahgunakan untuk keperluan marketing (kadang-kadang ada agency nakal yang suka comot foto di internet). Belum lagi, ancaman foto anak anda dicetak dan diperbesar lalu dipajang di kamar predator sebagai objek kepuasan seksual. Mengerikan, kan?

Matikan Geo-Tag atau Pencari Lokasi di Ponsel Anda
Pamer lokasi memang hal yang sangat penting demi eksistensi (saya juga melakukannya). Tapi, jika foto yang akan diunggah adalah foto anak, maka, sebaiknya fitur geo-tag atau pencari lokasi di ponsel anda dimatikan saja. Tidak hanya membahayakan sebagai target stalking, namun, hal ini juga memicu kemarahan orang tua lain jika dalam foto tersebut terdapat foto anak mereka. Keamanan dan privasi mereka bisa saja terancam. Mulai bijak ya menggunakan fitur-fitur ponsel andalan.

Hindari Ekspos Wajah Anak & Alat Vitalnya
Seganteng atau Secantik apapun anak anda, mereka tentu akan terpapar ancaman yang sangat tinggi jika overekspos (bahkan, anda sendiri juga bisa mengalaminya). Bisa jadi, para predator berhasrat pada mereka, atau para penculik jadi berkeinginan untuk menjual mereka. Bukankah itu adalah bahaya yang mubazir energi? Memang terlihat berlebihan, tapi jangan sampai kita jadi tidak antisipasi terhadap hal ini. Orang kadang lebih suka menyesal daripada mewanti-wanti diri. Bukankah kita tak mau kalau kebanggaan sedetik tersebut bisa merusak masa depan anak selamanya, kan? Saran saya, sebaiknya ambil jarak foto anak dengan jarak sedang atau jauh, lalu hindari foto-foto close-up dan tentu saja foto-foto telanjang anak. Memang sih, foto bayi yang baru mandi itu lucu, tapi apakah kelucuan itu ditangkap sefrekeunsi oleh predator anak? Lalu, plis deh ya….nggak perlu juga foto penis anak yang baru disunat (akhir-akhir ini saya melihat ada yang posting foto penis anaknya yang menjijikkan). Dear mom and dad, please be wise :)

Semoga bermanfaat tips-tips di atas.

Silakan disebarkan jika perlu.

Salam sayang,
Shei.

Senin, 28 April 2014

Berburu Sampah di Kelas Save Street Child


Halo! Senang sekali akhirnya saya bisa mengisi blog ini lagi. Maaf agak lama untuk menulis lagi, saya tadi harus membersihkan sarang laba-laba saking lamanya blog ini ditinggal.. Hihi…

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi pengalaman setelah bermain dan bersenang-senang dengan adik-adik dari #KelasKpBeringin Save Street Child, Sabtu (26/04) lalu. Setelah dari Posko ODOS untuk rapat perencanaan transformasi gerakan tanggap bencana tersebut menjadi institusi berbadan hukum, saya bertolak menuju ke Kampung Beringin, Pondok Cina, Depok.

Di antara deretan lapak pemulung, ada gang kecil yang pasti penuh anak-anak jika anda melewatinya pada pukul 4 sore sampai 6 petang. Rumah kontrakan salah satu warga dijadikan pusat belajar oleh Save Street Child.

Karunia Dwijayanti, yang pada sore itu sedang berulang tahun, adalah kepala sekolah Kelas Kampung Beringin (Selamat ulang tahun, kak Nia!). Dia adalah seorang yang sangat ramah dan baik, serta berkepribadian hangat. Tak ayal, anak-anak mencintainya. Relawan pengajar yang membantu Kak Nia (begitu kami menyebutnya), adalah Kak Indy, Kak Kafi, Kak Ipung, Kak Fina, dan masih banyaaak lagi. Saya nggak hapal. Karena memori otak saya belum di-defrag. Masih penuh dengan kenangan masa lalu *ditabok*

Kelas Kampung Beringin adalah kelas yang sederhana dengan piranti-piranti mengajar ala kadarnya, namun, diselenggarakan dengan penuh cinta setiap minggunya. Saya sangat beruntung bisa menghabiskan sore yang sejuk bersama adik-adik dan kakak-kakak yang penuh semangat.

Jadi ya…..
Kepikiran banget untuk mencipta sebuah permainan yang bisa melatih ketangkasan dan kreativitas anak-anak. Di suatu malam yang agak dingin, karena, Jakarta sedang musim hujan…. Saya menghubungi Kak Nia melalui aplikasi chat di handphone dan menawarkan diri untuk mengajar.

Alhamdulilah, proposal saya diterima, saya pun bersemangat untuk mempersiapkan materi pengajaran untuk Sabtu sore mendung tadi.

Saya pun menciptakan permainan klasik yang bisa dilakukan siapa saja. Namanya adalah: TRASH-SURE HUNT!

Iya, “treasure” itu harta karun kan ya? Nah, kalau diganti jadi “trash” artinya, kudu dicari dari sampah-sampah… Hehe…. Adek-adek awalnya sebel, tapi akhirnya mereka berlomba-lomba memilah sampah yang ada di sekitar. Hihi….

Barang penunjang yang dibutuhkan untuk “Trash-sure Hunt” adalah:

1)      Lem Fox

2)      Kertas HVS


3)      Crayon/Spidol/Pensil Warna


4)      Sampah-sampah yang dikumpulkan anak-anak
5)      Imajinasi

P.S:
Kakak-kakak relawan tak perlu memberi contoh pada anak-anak, karena, contoh dari kamu itu nantinya jadi standar pengerjaan prakarya, anak-anak jadi tidak bebas mengeksplorasi imajinasi mereka.
Selamat mencoba ya!
Dan,
Selamat dikomplain anak-anak yang tangannya lengket karena lem PVC ahaha….

Gallery
 Foto 1: Sebelum mulai berburu, saya memberi brief singkat pada anak-anak.

Foto 2: GO! Anak-anak mulai berburu sampah

Foto 3: Proses pengerjaan prakarya,"Kak..lengket kaak". Yaudah.

 Foto 4: Ini hasil karyaku! Judulnya "Aku dan Rumahku"

  Foto 5: Ini hasil karyaku! Judulnya "Wajah"

 Foto 6: Ini hasil karyaku! Judulnya "Seorang anak di Rumahnya"

  Foto 7: Ini hasil karyaku! Judulnya "Rumah Kipas"

 Foto 8: Ini hasil karyaku! Judulnya "Rumah Pohon"

  Foto 9: Ini hasil karyaku! Judulnya "Kota"

 Foto 10: Ini hasil karyaku! Judulnya "Senyum"

 Foto 11: Ini hasil karyaku! Judulnya "Desa"

  Foto 12: Ini hasil karyaku! Judulnya "Bunga" dan "Pohon"

 Foto 13 Ini hasil karyaku! Judulnya "Televisi"

Mencintai Anak dengan Didikan yang Benar*



Menjadi orang tua berarti menjadi individu yang tak lagi egois. Karena, pada fase tersebut, kita sudah dititipi buah hati yang harus diasuh dengan sebaik-baiknya. Sebaik-baiknya disini berarti, harus bisa diusahakan. Kalau nggak ngerti, ya nanya... Kalau nggak tau nanya siapa, ya cari info dari mana aja. Kesiapan mental bisa jadi isu utama dalam peran kita sebagai orang tua. Oleh karena itu, tak heran, pernikahan perlu perencanaan, tentu saja hal ini terkait dengan kenaikan fase yakni menjadi orang tua.

Beberapa waktu ini, sungguh sangat ironis, banyak kasus pedofilia yang ramai dibicarakan di media. Ini tentu menjadi pematah hati para orang tua,"Gimana kalau si korban itu adalah anak kita?". Mau dibawa kemana perasaan yang remuk redam, mendapati bahwa, anak yang disayang-sayang diperlakukan tak senonoh oleh penjahat?

Nah,
Saatnya membekali diri sendiri dengan ilmu-ilmu, jurus-jurus, dan antisipasi demi anak.
Sebelum ke sana, ada baiknya para orang tua memahami dulu fase tumbuh kembang anak untuk mengoptimalisasi pengasuhan. Bukankah, antisipasi lebih baik? Anak yang disayang dan diasuh secara tepat, akan memiliki daya survival yang lebih kuat dibanding anak yang kurang kasih sayang.

Saya memang belum menjadi orang tua, tapi setidaknya, saya pernah mengasuh anak-anak..Nah, catatan ini juga saya bagikan ke anda sekalian sebagai tambahan referensi. Tentunya, masih banyak psikolog anak, pakar anak, dokter anak, dan segala macamnya yang bisa dimintai nasihat dan pertolongan jika terjadi sesuatu pada anak anda.

Waktu berharga pengasuhan anak:

7 tahun pertama (0-7 tahun):
Perlakukan anakmu sebagai raja.
Zona merah - zona larangan
jangan marah-marah, jangan banyak larangan, jangan rusak jaringan otak anak.
Pahamilah bahwa posisi anak yang masih kecil, saat itu yang berkembang otak kanannya.

7 tahun kedua (7-14 tahun):
Perlakukan anakmu sebagai  atau tawanan perang.
Zona kuning - zona hati-hati dan waspada.
Latih anak-anak mandiri untuk mengurus dirinya sendiri, mencuci piring, pakaian, setrika, dll.
Banyak pelajaran berharga dalam kemandirian yang bermanfaat bagi masa depannya.

7 tahun ketiga (14-21 tahun):
Perlakukan anak seperti sahabat.
Zona hijau - sudah boleh jalan.
Anak sudah bisa dilepas untuk mandiri. Mereka sudah bisa dilepas sebagai duta keluarga.

7 tahun keempat (21-28 tahun):
Perlakukan sebagai pemimpin.
Zona biru - siap terbang.
Siapkan anak untuk menikah.

Pada masa anak-anak yang berkembang otak kanannya. Otak kiri berkembang saat usianya menjelang 7 tahun. Anak perempuan keseimbangan otak kanan dan kirinya lebih cepat. Sedangkan anak laki lebih lambat. Keseimbangan otak kanan dan kiri pada anak laki-laki baru tercapai sempurna di usia 18 tahun, sedangkan anak perempuan sudah cukup seimbang otak kanan dan kirinya di usia 7 tahun.
Luar biasa ya perbedaannya?

Ternyata ada rahasia mengapa perbedaan perkembangan laki-laki dan perempuan sedemikian timpangnya.

Laki-laki dipersiapkan untuk jadi pemimpin yang tegas dalam mengambil keputusan. Untuk itu, jiwa kreatifitas dan explorasinya harus berkembang pesat. Sehingga pengalaman itu membuatnya dapat mengambil keputusan dengan tenang dan tepat.

Sementara perempuan dipersiapkan untuk jadi pengatur dan manajer yang harus penuh keteraturan dan ketelitian.

Untuk memberi intruksi pada anak, gunakan suara Ayah. Karena suaranya bass, empuk dan enak di dengar.

Kalau suara Ibu memerintah, cenderung melengking seperti biola salah gesek. Itu bisa merusak sel syaraf otak anak. 250rb sel otak anak rusak ketika dimarahin.

Solusinya, Ibu bisa menggunakan bahasa tubuh atau isyarat jika ingin memberikan instruksi.
Suara perempuan itu enak didengar jika digunakan dengan nada sedang. Cocok untuk mendongeng atau bercerita.

Cara berkomunikasi yang efektif dengan anak:
1. Merangkul pundak anak sambil ditepuk lembut.
2. Sambil mengelus tulang punggung anak hingga ke tulang ekor.
3. Sambil mengusap kepala.
Dengan sentuhan ada gelombang yang akan sampai ke otak anak sehingga sel-sel cintanya tumbuh subur.

Silakan dicoba ya :)


*Catatan ini didapat dari seminar “Smart Parent Smart Children” yang diadakan di Has Darul Ilmi 12 April 2014. Dengan Pembicara Bunda Kurnia Widhiastuti dari Sygma Parenting Community. Saya sendiri memperoleh dari kawan, Bunda Pradipta Ayu Andini. Semoga bermanfaat. Silakan disebarkan jika perlu.


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More