Menerima Penghargaan Tupperware She can Award 2013

Tupperware SheCAN! Award 2013, penghargaan untuk 89 orang yang menginspirasi Indonesia dengan karya-karya sosial mereka

Menerima Penghargaan Indi Women Award 2013

21 Perempuan Inspiratif Menerima pengharagaan "Indi Women Award" dari PT. Telkom Indonesia, dihadiri oleh Ibu Linda Gumelar, Menteri Peranan Wanita. Bagian saya, Socio Activist untuk Save Street Child

Crowd Funding Projects

Kita bisa keroyok project-project sosial ini bersama-sama untuk masa depan yang lebih baik. Gabung sekarang! ^^

Bersama Sarah Sechan dan Keluarga Save Street Child

Talk Show di NET TV bersama Sarah Sechan. Adik-adik ternyata sudah berbakat sebelum ditraining jadi host TV!

Kumpulan Puisi

Kumpulan puisi-puisi karya sendiri atau saduran dapat dibaca disini

Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juni 2014

Kulkas Kosong




Apakah kau pernah merasa sendirian dan merana?

Aku hampir tiap malam.

Sebetulnya aku tidak takut sendiri, tapi ketika dingin menyergap, dan kulkas kosong lalu perutku lapar... Aku takut aku akan mati.

Aku tidak begitu menakuti kematian. Hanya saja, aku tidak suka membayangkan rohku tercabut dari raga, katanya sih sakit. Aku pernah menanyai Nenek Grasia yang tinggal di seberang jalan, katanya ia pernah mengalami kematian. Ia kini menjalani hidup kedua. Oleh karena itu, ia berganti kelamin. Katanya, “Seharusnya, aku tak dilahirkan sebagai laki-laki, namun, perempuan”. Nama sebenernya adalah Gerson.

Lagian, kenapa takut mati? 

Aku cuma manusia yang kebetulan lahir saja. Ibuku pernah bilang aku ini bayi yang nggak disengaja lahirnya. Menurutku itu baik, menurutnya tidak. Tapi, entahlah. Kalau tidak baik, bagaimana mungkin aku menyukai diriku, kan? 

Hal lain yang kuingat adalah... ada semacam kebotakan berbentuk lingkaran di beberapa jengkal jari setelah jidat. “Kau dulu divakum” cerita Ibuku. Dulu, aku berpikir kalau aku ini adalah debu. Aku lihat di televisi, mereka menyebut penyedot debu sebagai vakum. Ternyata aku manusia. “Ada-ada saja kau ini,” suatu hari ibuku tertawa, dikiranya aku melucu. Padahal aku memang belum tahu perbedaan antara bayi dengan debu. Aku pikir mereka sama, toh, sama-sama di-vakum.

“Bu, apakah yang dilakukan orang-orang di liang lahat?” aku pernah bertanya. Aku ini sangat takut akan gelap. Katanya sih, liang lahat itu gelap.

“Kuburan, maksudmu?”

“Iya...”

“Entahlah, mereka sudah mati. Orang mati mana bisa gerak?” ujarnya sambil menenggak bir dingin. Aku tidak suka baunya. Terutama kalau ibu sudah capek kerja sepanjang malam dan pulang dalam keadaan mabuk. Ia pasti mengira aku ini maling dan mengejarku kesana-kesini sambil memukuli pantatku. Aku sering cemas kalau mendapatinya mabuk. Biasanya di akhir bulan. Ketika gajinya menipis, dan aku harus makan indomi tiap malam. 

“Brengsek ayahmu! Kau mirip dengannya, maling kau pasti. Bajingan!” begitu yang biasa ia katakan. Dan aku akan terjaga sepanjang malam sambil berlarian dan melihat-lihat apakah ibuku akan melukai dirinya sendiri dengan pisau yang ia bawa untuk mengejarku. Setelah capek, biasanya ibu akan tergeletak di lantai dan tidur. Keesokan paginya, aku harus menyiram mukanya dengan air dingin supaya bangun dan mengingatkannya untuk mandi, lalu sarapan (aku pernah mencoba mencipratinya saja, tapi tidak berhasil, jadi aku mulai terbiasa untuk mengguyur seember). Setelah ia bangun dan sarapan, ia akan bergegas kerja shift pagi sebelum lanjut shift malam. Ia hampir tak pernah libur. Makanya, aku juga tak pernah marah meski sering dipukuli ketika ibu mabuk. Ia menyayangiku, kok.

“Dua hari lagi kau ulang tahun, Ibu akan kasih hadiah ya... Sudah ibu siapkan," katanya setelah mendapati dirinya basah kuyup karena guyuran air seember. Sambil mengepel bekas air yang masih merembes hingga ke karpet ruang tamu, aku mengangguk pelan. Aku cuma ingin ketemu ayahku. Tapi Ibu bilang itu tak mungkin, ayahku sudah pergi dan tidak mungkin kembali. Aku pikir ia sudah mati. Tapi ibu menggeleng. Ia bilang ayahku masih hidup, hanya saja tinggal dengan keluarga lain. Ia juga mengingatkanku untuk menggunakan kata “meninggal”, bukan “mati”. Kata “mati” itu cuma buat tikus. Misal, tikus mati di got, atau tikus mati kejepit pintu.

“Nanti kau akan menyesal, lho.... Ibu udah kasih tau, ya...”

“Kalau ayah meninggal, aku lebih senang....” desisku sambil meneruskan mengepel. Ibu tersenyum sambil menggumam kalau kepalanya sakit terantuk lantai. Sepertinya ia tidak ingat kalau terpeleset semalam.
***
“Bu, kau mau apa?”

“Diamlah, demi kebaikanmu” ia meneruskan mengikatkan lilitan kawat, metal, dan kaca melingkari tubuhku. Aku tau itu sebuah bom. Ia ingin kami mati. Kau tau kan? Aku takut mati. Tapi, tidak di hari terik seperti ini, apalagi sedang bersama ibu. Aku sangat menyayanginya. Aku tau ia pun begitu. 

“Sakit tidak?” tanyaku penasaran, sambil tetap diam sampai ibu selesai mengikatku, lalu mengikat dirinya sendiri.

“Enggak” jawabnya singkat.

Menurutnya, bunuh diri menggunakan bom tidak akan sakit. “Aku membacanya di internet,” dengusnya sambil kesulitan melingkarkan kawat ke badannya sendiri. Seharusnya ia tak perlu membawa dua bom sekaligus. Ia harus menyimpan salah satu. Jaga-jaga kalau percobaan bunuh diri pertama kami tidak berhasil. “Ini pasti berhasil, Joe memberitahuku,” jawabnya ketika kutanyai kenapa dia harus repot memasang keduanya pada masing-masing kami.

“Tetangga bakal kena juga, bu?”

“Nggak, radiusnya kecil kok. Lagian kan cuma kita yang ingin mati, bukan mereka,”

“Bagaimana kalau mereka juga ingin mati seperti kita?”

“Nggak mungkin, Ndre... Hidup kita yang merana, bukan mereka” lanjutnya. Sebelum menekan tombol pemicu, ia mendesis, "Selamat ulang tahun, Ndre. Kau tak perlu hidup susah lagi sekarang."

Aku terkesiap oleh dentuman kencang dan hamburan metal, kaca, besi dalam hitungan detik. Aku sedikit sadar sebelum menemukan potongan tanganku dan beberapa cacah daging yang berserak diantaranya.

***

Dua hari sebelum ibu memutuskan untuk mengakhiri hidup kami menggunakan bom, aku sering melihatnya dan laki-laki itu bertengkar. Kali ini hebat sekali, sampai tetangga mengunci rapat-rapat rumah mereka. Tidak ada yang mau berurusan dengan laki-laki itu dan ibuku. Mereka takut. 

Laki-laki itu adalah pacar ibu. Ia sering diantar laki-laki itu sepulang kerja, karena hari terlalu larut. Mungkin, ini hal yang wajar ketika dua orang yang memiliki hubungan spesial saling menjaga. Entahlah. Biasanya, setelah sampai di rumah, mereka ciuman dan tidur di ranjang. Aku memergoki mereka ketika ingin mengambil air minum tengah malam. Sudah kali ketiga aku melihat mereka seperti itu, dan sepertinya, setelah di ranjang, mereka akan berhubungan seksual (aku pernah melihat video seperti itu di ponsel Thomas, tetanggaku, kelas 3 SMP). 

Keesokan paginya, mereka terlihat mesra, aku berangkat ke sekolah dan tidak tahu apa-apa lagi. Aku lupa nama laki-laki itu. Kami tidak mengobrol banyak. Lagian dia kayaknya nggak suka sama aku. Menurutnya aku ini cuma tikus kecil pengganggu. “Kalau nggak ada dia, lebih enak” ujarnya suatu ketika, dan aku tidak peduli. Ibu menyikutnya pelan dan bilang kalau cuma aku yang dia punyai dalam hidupnya yang sangat menyedihkan. “Jual aja nanti kau dapat duit,” dengusnya sambil terseok memakai sepatu kumal warna coklat. Bau anyir menyebar cepat ke seluruh penjuru ruang tamu ketika ia mencopot sepatu itu, hampir tiap malam. Ibu terlihat cemberut dan tidak berkata apa-apa, sambil sesekali melihatku. Aku tersenyum mencoba menenangkannya, aku tidak apa-apa. Aku tidak peduli padanya. Aku cuma peduli pada Ibuku.

“Terima kasih ya, Ndre, kau sudah manis sama dia. Dia bosku. Aku punya hutang banyak sama dia,” kata ibuku sembari berbisik. Aku mengangguk dan pamit untuk pergi ke sekolah tanpa sarapan.

Djakarta, 11 Juni 2014

Jumat, 11 April 2014

Tempat Persembunyian Paling Aman


Langit sedang gelap mendung. Hujan tumpah, seperti air mata dewa yang tangannya teriris kapak oleh kekasihnya. Mungkin, rasa terkhianati lebih menyakitkan dari kehilangan tangannya yang bisa ditumbuhkan lagi. Dewa-dewa memang seperti itu. Ia teramat sakti, namun, karena kadang menjelma menjadi manusia untuk mengawasi umatnya, Dewa sering lupa untuk mengembalikan wujud menjadi Sang Hyang.

Dewa terkadang masih menyimpan sifat-sifat kemanusiaan, memiliki hati, yang seharusnya tidak disertakan ke dalam perwujudan ilahiah.

“Benarkah seperti itu? Darimana kau tau?”

“Aku mengarangnya”

Sore ini, langit gelap mendung. Dan hatiku sangat cemas. Entah apa yang kucemaskan. Mungkin ini efek dari sindrom menstruasi atau semacam itu, aku juga tak pernah percaya. Setauku, menstruasi memang bagian dari perlengkapan reproduksi perempuan, yang, seharusnya, Tuhan ngerti kalau perempuan kadang tidak mood untuk menjalani proses menstruasi.

Seandainya di awal penciptaan perempuan ada formulir opsional untuk proses menstruasi, aku akan mengisinya. Selama setahun, aku setuju untuk melakukan proses menstruasi sebanyak enam kali. Jadi, aku bisa ambil libur tiap dua bulan sekali.

Kau tau nggak gimana rasanya? Rasanya melelahkan! Kami harus berjalan lebih lambat dan mengalami nyeri di sekitar perut, sambil kadang harus mengurangi jajan untuk membeli pembalut. Harganya mahal-mahal sekarang, apalagi yang bergambar hello kitty. Kenapa juga kapas penyumpal darah buangan segala dipercantik dengan gambar kucing jepang begitu, aku nggak ngerti.

“Apa yang kau cemaskan?”

“Aku kan sudah bilang, nggak tau.”

Tapi sebetulnya, aku agak mumet dengan kredit rumah.

Seharusnya memang aku tak usah ambil kredit rumah terlalu cepat. Kata Ibuku, anak muda penting untuk memikirkan masa depan. Aku jawab, apakah itu kematian? Dia bilang aku bodoh, dan terlalu serius dalam menjalani hidup. Lalu ia mengempit dompet ke dalam sempilan payudaranya yang menyembul dari balik kebaya tua. Aku ingat, kebaya itu kubelikan setahun lalu dari gaji pertama. Lalu, ia akan mulai mengoceh tentang menjadi perempuan yang bernilai mahal. Ibuku memang kuno dalam hal berpakaian, tapi, pandangannya begitu kekinian kalau menyangkut soal pernikahan. Sejak umur delapan tahun, aku sudah direncanakan untuk dinikahkan, tapi harus jual mahal, dengan anak juragan kelontong desa sebrang. Saat itu umurnya lima tahun diatasku. Ibu memanipulasi diriku sedemikian rupa sehingga aku terlihat sangat cantik dan bodoh. Padahal aku juara matematika tingkat kecamatan. Tapi, katanya, perempuan pintar itu menakutkan bagi laki-laki. Mereka akan merasa minder dan menggebuki istrinya yang pintar karena selalu mengoceh pagi, siang, malam. Kalau tidak seperti itu, perempuan pintar akan dijauhi dan akhirnya tak dapat pasangan dan menjadi perawan tua. Tentunya itu akan menjadi aib keluarga. Makanya, aku tak boleh terlalu pintar dan harus menjaga penampilan.

Tak lama, ibuku berhasil juga meyakinkan calon besannya bahwa aku memang gadis bodoh yang sangat cantik, dan bisa menyusui anak dengan baik melalui payudaraku yang penuh dan sintal. Ibuku selalu membanggakan bawaan fisikku yang tentu saja merupakan warisan genetik darinya.

Meski ibu bodoh, tapi tubuh ibu adalah tubuh yang diidamkan baik laki-laki dan perempuan, kau harus mensyukuri itu.

Kalau sudah bilang begitu, aku sebetulnya bersyukur pernah memiliki ayah yang rajin dan selalu mengajariku sehingga aku mengerti hitung-hitungan dan ilmu tentang bumi. Sayang, ayahku pergi mengejar perempuan lain. Kami pun ditinggalkan.

“Ibumu menarik ya?”

“Iya. Dia bodoh, ambisius, tapi sangat cantik. Orang-orang memanggilnya Mbok Rondho Wangi, artinya Janda Wangi”

“Hush, nggak boleh ngomong gitu. Lalu kenapa kau tak jadi menikah?”

“Cowok itu gantung diri. Dia udah naksir cewek lain, katanya”

“Menyedihkan sekali, ya, kalian ini. Korban orang tua.”

“Tidak. Aku yang menyedihkan. Dia sudah mati. Dia sudah bebas”

Bertahun-tahun kami dirudung malu karena gagal menggelar resepsi. Kami? Maksudku, ibuku. Aku malah senang. Usiaku saat itu baru dua belas tahun. Aku lebih tertarik pada penemuan bintang jatuh di sudut Amerika nun jauh di sana. Aku penasaran. Kenapa bintang bisa jatuh, ya? Lalu temanku bilang, mungkin tidurnya kurang ke tengah. Dan itu nggak lucu sama sekali. Sejak komentarnya yang begitu bodoh itu, aku tak mau main bareng dengannya.

“Jadi itukah yang kau cemaskan?”

“Entahlah, mungkin juga”

“Toh ibumu sudah tiada, kau tak perlu cemas apa-apa lagi, kan?”

Memang benar. Aku sebatang kara sekarang. Aku pun menjadi mengerti, kenapa ibuku sangat ngotot menjodohkanku, ia mengerti bahwa, kehadirannya tak lama lagi di dunia ini. Ia menderita kanker rahim. Tapi, aku juga nggak begitu paham, bisa jadi karena dia takut aku hidup sebatang kara, atau dia takut tidak ada yang mengurusi warisan dari kakek. Jangan sampai harta pindah tangan ke keluarga ayahku, maksudnya.

Aku tidak begitu peduli dengan harta.

Aku lebih peduli kenapa aurora borealis tidak ada di Indonesia.

Aku begitu jatuh cinta pada gejala alam dan studi-studinya.

“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

“Aku mau pinjam payung. Kemungkinan hari akan hujan”

Aku akan menikmati waktu senggang dengan membaca jurnal-jurnal ilmiah lalu menuliskannya kembali ke blog pribadiku. 

Cuma itu duniaku. 

Dan aku bahagia.


Rabu, 09 April 2014

Nyanyian Angin (Bagian Satu)


1
Apakah kau tau? 

Ah. Pasti kau tak tau.

Aku kasih tau, ya.

Angin.

Kau tau angin?

Haha. Bukan. Bukan angin dari perutmu itu.

Ini aku lagi mau cerita tentang angin, kau tau? Yang biasa berembus sepoi-sepoi mengenai wajahmu yang kisut kena terik, dan menjadikannya segar kembali seperti tanaman kesiram air.

Bagus tidak?

Tapi ini rahasia, ya?

Sebetulnya angin adalah melodi alam.

Kau tau?

Ah. Pasti kau tak tau.

Makanya, ini aku kasih tau.

“Hei, kau! Jangan banyak bicara, ayo kerja!”

Oke. Besok aku lanjutkan lagi ceritanya, ya.
2
Kemarin sampai mana ceritanya?

Oya, sampai aku menjelaskan tentang angin itu melodi alam.

Iya. Angin itu adalah nyanyian.

Sebetulnya, ia bernyanyi, dan cuma kulitmu yang bisa mendengarnya.

Kau tau kan? Itu yang bikin kulitmu segar kembali.

Bagus tidak?

Nyanyiannya beragam dan ia punya klasifikasi dalam bernyanyi sesuai dengan pendengarnya.

Klasifikasi ini berdasarkan jumlah kulit-kulit yang bersedia untuk mendengar.

Pasti kau tak tahu kalau kulitmu itu ganjen, ya?

Haha. Iya, mereka haus nyanyian.

Kalau kulit orang Indonesia, sih.... Biasanya mereka suka nyanyian mini dengan tingkat suara tennor.

Aku kasih tau, ya.

Kalian kan suka ngatain bule, ya?

Nah, bule-bule ini lebih suka nyanyian sopran.

Hihi, mereka emang aneh. Padahal, nyanyian sopran ini biasanya mendekati badai.

Ngomong-ngomong tentang badai, itu sebetulnya bukan bagian dari angin seperti kami.

Di negri angin sendiri, badai dan topan termasuk aliran pembelot. Seperti kalau di negrimu itu orang-orang ‘kiri’, ya? Hihi.... Nah, di negri angin ini, merekalah angin-angin ‘kiri’. Tapi, sebetulnya aku kurang setuju, sih. Aku juga suka membaca. Dan, menurutku, aliran ‘kiri’ itu memberontak terhadap kemapanan sistem yang tidak adil. Bukan semata-mata berbuat kerusakan. Gitu nggak, sih? Nah, kalau badai dan topan ini, mereka emang sengaja banget berbuat kerusakan. Nggak salah juga, sih. Mereka emang ditugaskan seperti itu. Apa boleh buat, namanya juga kerjaan, ya kan?

Beberapa waktu lalu, aku mendengar berita.

Banyak orang menyalahkan kami karena Topan Haiyan, di Filipina.

Sumpah. Itu bukan angin-angin seperti kami, itu si pembelot. Mereka sebetulnya sedang melakukan rencana untuk memperburuk citra angin di mata manusia. Dan ini membuat kami semua sedih. Kami tak pernah ingin berbuat jahat pada manusia, justru kami ingin menolong mereka. Tapi, badai dan topan bersekongkol untuk berbuat kerusakan, dan akhirnya, manusia akan marah dan tak sudi lagi mendengarkan nyanyian kami.

“Bu, kalau misal manusia tak lagi butuh nyanyian kita, bagaimana?”

“Kita akan berubah menjadi debu, nak”

Begitulah.

Dalam satu tahun, setidaknya, kami harus bernyanyi sebanyak dua ratus kali dan berkeliling selama enam bulan tanpa pulang ke rumah untuk menyelesaikan tugas. Kadang juga harus menggantikan tugas kawan lain yang sudah menjadi debu karena tak berhasil mengumpulkan poin tersebut. Itu membuat kami harus bekerja keras.

Penduduk di negri angin saat ini kian terkikis.

Banyak diantara kami yang sudah menjadi debu, karena tak banyak lagi orang yang mau mendengarkan dan menikmati nyanyian angin.

Inilah masa-masa yang diharapkan oleh badai dan topan untuk mengambil-alih kerajaan dan memimpin dengan tirani.

Ramalan Kingtone mengatakan, dua ratus abad lagi, angin-angin akan punah dan dunia ini akan menuju kehancuran karena badai dan topan membentuk kesatuan untuk memimpin dengan tiran, dan menghancurkan dunia dengan amukan.
(bersambung)



Selasa, 08 April 2014

Anomali


1
“Aku benci banget deh, sama cowok” dengusnya gusar. Sesekali ia melihat layar ponselnya dan berharap seseorang menghubunginya. Setidaknya, itu yang kulihat pada diriku dulu, ketika pertama kali jatuh cinta.

“Memangnya kenapa sih?” aku mencoba mengajaknya berbicara. Sedari tadi kami hanya berhadapan, dan meminum kopi masing-masing, tanpa membicarakan hal penting. Aku lebih banyak menghitung deretan lukisan yang menggantung di dalam kedai, ia lebih banyak menggumam dan memandangi layar ponsel seakan menunggu undian berhadiah dan membawa pulang mobil tanpa dikenakan pajak, semua orang pasti suka.

“Cowok ini, seenaknya aja, habis nidurin aku, nggak ngasih kabar sama sekali. Kalau aku hamil, gimana? Mana pertanggungjawabannya?”

“Ya tapi kamu kan nggak mungkin hamil”

“Siapa bilang? Kalau Tuhan berkehendak? Aku bisa apa?”

Ia masih terlihat kesal, sembari terus menyesap kopi, tak tampak sedikitpun guratan kepuasan dari mimik wajahnya. Padahal, kopi adalah minuman favorit Rino.

“Aneh kau”

“Biarin. Pokoknya aku sebel sama cowok”

“Lah, kau pun cowok”

“Cowok. Duh, beb. Cowok yang cowok gitu, deh..... Ah, kamu tuh nggak ngerti”

Aku terkekeh, dan menepuk dahinya dengan gemas.

“Coba ceritakan, gimana kau kesal dengannya”

“Apa? Nggak ah. Private. Praaayvet, ngerti. Huh”

“Baiklah”

Aku pura-pura tak peduli. Biasanya, kalau begini, Rino akan mulai menahan nafas. Kesal. Lalu bercerita karena sebenarnya ia juga ingin bercerita, tapi ia akan marah, kenapa aku tak memaksanya dengan sungguh-sungguh. Lalu dia pasti akan mengumpat....

“Dasar perempuan eskimo, gini ya...aku ceritain...”

Benar kan.

“Namanya Toni. Bodinya sekeren Tony Starks, gitu deh”

“Tony Starks, siapa?”

“Yaampun. Ini anak dari kampung mana, sih. Iron Man.”

“Okay”

“Gitu. Aku awalnya nggak ngerti juga kalau dia juga gay. Dia itu pacarnya sahabat temanku. Linda. Kami ketemuan beberapa minggu lalu di salon. Linda sama sahabatku, nyalon, aku cuma maskeran sebentar, lalu menemani Toni menunggui Linda. Sahabatku namanya, Jane. Tapi dia tak terlalu penting. Nah, si Toni ini tiba-tiba mengajakku ngobrol. Lalu, kami tiba-tiba klop aja gitu beb”

“Okay”

“Nah, beberapa hari setelah pertemuan kami di salon itu, Toni mengajakku jalan, dalihnya, mau beliin Linda kado buat annivesary mereka gitu”

“Lalu?”

“Ya gitu beb. Pas di mobil, dia itu ngerangsang-ngerangsang aku. Aku kan kaget! Aku pikir, ini cowok gimana sih, udah punya pacar, lagian......kok tiba-tiba gitu. Aku sebenernya udah naksir sih, sama Toni. Tapi, aku nggak berani, dia kan pacarnya Linda”

Ditengah-tengah tumpahan cerita Rino, tiba-tiba pelayan kedai menyodorkan kentang goreng yang tidak kami pesan. Tapi Rino langsung menerima dan bilang kalau nanti dia yang bayar. Kebetulan, buatku. Ini seperti menonton film bioskop hanya saja tanpa adegan banyak-banyak, hanya monolog. Yasudah, setidaknya aku punya kentang goreng dan kopi. Hidupku sesederhana itu untuk berbahagia.

“Sampai mana tadi?” Rino menyomot kentang goreng dan mencocolkannya pada saus sambal sedikit. Ia tak begitu suka pedas, tapi, sepertinya, ada dosa kolektif jika makan kentang goreng tanpa dicocolkan ke saus. Sepertinya Rino penganut paham itu. Setidaknya, ia bisa minta dibawakan saus tomat saja.

“Kamu dirangsang di mobil”

“Iya gitu, beb. Terus yaudah. Kejadian deh” Rino mengubah mimik antara sedih campur bahagia. Anak itu emang jago main peran.

“Bilang aja suka.... Pake sedih segala,” celetukku sambil melemparkan beberapa kentang ke arahnya. Rino manyun dan mendengus sebal lalu mengambili kentang tadi dan langsung membuangnya ke tempat sampah.

“Suka sih, tapi kan dia pacar orang”

“Lalu, gimana si Linda?”

“Apaan sih, beb. Kok langsung nanyain Linda? Aku dulu kek ditanyain gimana perasaannya”

“Iya, iya, sori. Jadi kamu gimana, beb?” Aku mencoba menirukan logatnya dan seketika membuatku mual. Rino tak kalah muak dengan tingkahku.

“Jangan bikin aku muntahin kentang goreng enak ini, deh, beb. Ya..pokoknya, setelah kejadian itu. Dia nggak menghubung-hubungi aku lagi”

Aku mengangguk. Memetakan kembali tebakanku yang ternyata tepat. Benarlah Rino sedang jatuh cinta. Toni, nama yang dikaguminya.

“Sekarang kamu gimana?”

“Kangen, cemas, merasa bersalah”

“Aku ngerti” aku memeluknya dan mencolekkan sambal sedikit ke hidungnya. Rino mengumpat. “Sabar ya....”

Ia mencolekkan sambal ke hidungku sebagai pembalasan dendam.

Tak lama, ponselnya berdering.

Setengah terkesiap, Rino mengangkatnya, tanpa gairah.

Ia mendadak menghambur keluar kedai, dan menginsyaratkan supaya aku tetap duduk di tempatku. Aku khawatir. Sepertinya ada yang penting, karena, Rino tak biasanya merahasiakan pembicaraan telepon di hadapanku.

Lima menit setelah menerima telepon, Rino mendatangiku dengan muka setengah masam, namun, ia terlihat memaksakan senyum.

“Kenapa?”

“Enggak, nyokap,”

“Oh...”

Aku paham. Kenapa dia agak masam. Biasanya, Ibu Rino ini membincangkan ekspektasi-ekspektasinya pada Rino, mungkin topik itu bukan topik yang tepat saat mood Rino sedang cemas begini.

Rino adalah anak terakhir di keluarganya, dan satu-satunya yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Keluarga Rino begitu membangga-banggakan Rino. Dan seakan bersumpah bahwa Rino ini bisa jadi penyelemat generasi keluarga yang sudah empat turunan melarat. Berkat kegigihan Bapak Rino menjual rongsokan, dan akhirnya punya lapak dagang sendiri, Rino bisa sekolah hingga ke SMA dan melanjutkan perguruan tinggi dengan prestasinya sendiri. Rino memang cerdas. Aku sudah bersahabat dengannya sejak duduk di bangku SMA. Namun, kami tak kuliah di kampus yang sama. Kebetulan aku mendapat beasiswa ke Jakarta, sedangkan Rino masih kuliah di Surabaya. Minggu-minggu ini, aku mudik. Dan tentu saja, aku selalu menyempatkan untuk ketemu dengannya.

“Eh, beb, aku harus pergi nih...”

“Lah? Cepet amat. Besok aku udah balik Jakarta loh....”

“Yah, iya sih...tapi ini nyokap minta jemput,”

“Yaudah nggak papa.....”

Rino lalu membayar semua tagihan kami.

“Thanks, No”

“Plasure. Eh mau aku drop?”

“Nggak usah, aku masih mau disini, mau nulis kayaknya”

“Yaudah, take care, beb. Kabari kalau udah di rumah,”

Kemudian ia mencium keningku. Rino orangnya sangat perhatian dan penyayang. 

Siapapun yang dicintanya pasti beruntung.
2
Sebenarnya, kalau bukan karena kampus ini tenar dan jurusanku adalah salah satu tujuan hidup, aku malas tinggal di Jakarta. Kota ini begitu sumpek, panas dan polusinya melebihi ambang wajar, terlalu banyak manusia yang jarang senyum dan makanannya mahal. 

Akhir-akhir ini, selain sibuk dengan diktat kuliah, aku juga disibukkan oleh aneka kegiatan organisasi pers kampus yang bikin aku jatuh sakit, tipes. Ini karena tugas-tugas liputan yang cukup menguras energi dan pikiran. Sebetulnya, aku juga memiliki kondisi fisik yang lemah, jadi paket-paket itu menjadi komplit dan menyerang kekebalan tubuh secara signifikan.

Ngomong-ngomong, aku juga sudah putus kontak dengan Rino. Entah apa kabarnya anak itu. Terakhir dia bilang mau liburan ke Bali dengan Toni, itu sms dia beberapa minggu setelah aku bertolak ke Jakarta dari Surabaya. Sepertinya mereka sudah dekat. Aku ikut bahagia mendengarnya.
3
Aku menampar pipi berkali-kali.

Aku tidak percaya Rino mengirimiku pesan di facebook seperti ini:
Dear Flo. Aku cuma mau bilang, aku sayang banget sama kamu. Makasih udah jadi orang yang mengerti aku dengan segala anomali yang ada pada diriku. Tapi, kamu saja ternyata belum cukup untuk menguatkan aku. Persahabatan kita begitu indah, tapi, maaf, Flo. Aku ternyata tak cukup bahagia menjadi diriku. Orang tuaku tak puas, kakak-kakakku tak puas, teman-teman terdekatku menjauh secara teratur. Mereka sudah tahu kalau aku gay. Padahal, sebelum mereka mencari tahu, aku pun akan coming out, dan memberitahu tentang orientasi seksual aku pada dunia. Aku hanya butuh waktu. Cuma kamu yang menguatkanku. Toni, bahkan dia, tidak. Ia bisa seketika menjadi pacar Linda, dan seketika menjadi pacarku meski itu pun rahasia. Dia juga tak ingin disangkutpautkan denganku. Aku tak memiliki siapa-siapa lagi.Terima kasih, Flo.Aku rasa, hidupku sudah tak terlalu penting lagi. Toh, aku sudah lama dibunuh. Aku sudah lama disuruh mati, tak merasakan kehadiranku dengan keanehan-keanehan yang ada pada diriku. Aku pun bingung, aku pun tidak tahu harus bagaimana. Tapi, yang aku tahu, disini, aku tak bisa menjadi diriku sendiri.Sampai jumpa di langit ke tujuh, Florina. Terima kasih atas persahabatan kita yang sangat indah.
Aku langsung mengambil telepon dan memencet nomor Rino dengan tangan gemetar setengah basah. Aku panik. Aku tak mengerti kenapa Rino mengirimiku pesan seperti itu.

“Halo”

“Iya, Maaf ini Kakaknya Rino, Rinonya...”

“Kak Indra? Ini Flo”

“Oh, Flo. Apa kabar?” Sapanya, lalu ia menangis. Dan menceritakan padaku kalau Rino ditemukan membujur kaku kemarin subuh di kamarnya. Sontak hal ini membuat sekeluarga shock. Ibu Rino pingsan berkali-kali. Dan mereka tidak tahu kalau Rino bunuh diri juga karena mereka. Ia tidak siap dengan penghakiman-penghakiman yang, bahkan, ia sendiri sedang berjuang untuk mengkonfirmasi identitasnya.

Aku ingin sekali terbang ke Surabaya dan memeluk Rino, sembari membisikinya kalau ia tak perlu khawatir. Aku akan selalu disampingnya. Aku mencintainya.

Ia adalah sahabat yang sangat baik dan penyanyang.

Siapapun yang dicintanya pasti beruntung.

Tapi nyatanya, tidak ada yang layak untuk dicintainya.

*Sebuah tulisan untuk mengenang seorang sahabat, semoga damai selalu menyertai keberadaannya yang telah bertemu dengan Pencipta, aku merindukanmu.


Shei Layla, Jakarta, 9 April 2014

Senja Bergelayutan


Dari lantai 9 gedung ini, aku bisa melihat senja bergelayutan, terombang-ambing.

Mungkin ia bimbang.

Sinar oranye-nya, tak merata, di sela timur agak putih dan semburat merah, di sela barat, merahnya menyala seperti Hutan Kalimantan yang terkena kobaran pembalak liar.

“Kenapa kau tau hutan Kalimantan begitu, memangnya kau pernah tinggal di sana?”

“Liat di berita,” kataku.

“Kenapa kau bilang senja bimbang? Memangnya dia punya perasaan?” tanyanya lagi.

“Memangnya apa yang tidak punya perasaan? Henponmu aja perlu diperlakukan dengan lembut, kan?” cetusku.

Ia terdiam. Benar juga, gumamnya. Lalu aku meneruskan menulis puisi tentang senja yang bergelayutan. Tapi aku tak ingin siapapun mengetahuinya. Ini adalah kisah senjaku dengannya. Ia cukup tau saja judulnya, tidak perlu isinya.


Senin, 07 April 2014

Layang-Layang Warna Biru


Layang-layangku putus.

Ah. Andai saja aku punya dia. Pasti aku bisa minta uang beberapa kali pun. Tapi ini apa? Aku harus menjualkan layang-layang milik Robi dulu baru dapat bagian sekian persen untuk membeli layang-layang baru. Aku benci dia.

“Lisa! Cepat kemari kau, brengsek!”

Sial. Kalau aku tak butuh persenan dari penjualan layang-layang darinya, aku sudah menghajar mukanya yang kayak tikus itu.

“Sebentar, aku menggulung benang dulu”

“Kemari sekarang atau kutendang bokongmu!”

Aku menghampirinya sambil tetap menggulung benang. Layang-layang putus dan benangku tersendat. Sungguh hari yang buruk.

“Kau tau anak di Gang Lima? Namanya Hengki. Dia tadi meneleponku minta 3 layang-layang ini, kau kasihlah ke dia sekarang. Nanti kukasih satu untukmu, yang paling jelek” ujarnya sambil mengelap ingus. Aku menerima layang-layang itu namun sebisa mungkin tak menyentuh tangan bekas mengelap ingusnya itu. Aku malas tertular penyakit dari anak tikus macam dia.

“Tumben kau baik?”

“Pergi sekarang atau aku berubah pikiran”

Aku berjalan menjauh dari Robi menuju ke Gang Lima. Disini tak ada yang namanya Gang Kelinci, entah kenapa juga aku membahas hal itu. Gang di pemukiman ini berdasarkan angka. Satu, dua, tiga, hingga sepuluh. Ada sekitar 400 kepala keluarga yang tinggal di “Pemukiman Tiga Belas” ini. Entah kenapa namanya seaneh itu. Aku nggak peduli. Aku pun tinggal disini karena terpaksa, ikut ibuku. Karena Ayahku entah kemana. Ibuku membesarkanku seorang diri, dan kebetulan, setelah nenek meninggal, ia dapat warisan. Dibelilah tanah disini. Sedikit demi sedikit, tanah kami dipasangi beton, batu kali, semen, lalu kerangka-kerangka besi. Bagaimana aku tau? Aku juga ikut membangun rumah kami. Meski aku kurus kerempeng begini, aku masih kuat mengangkat dua ember adukan semen dan mengantarnya pada pak tukang, sehinga kami tak perlu membayar kuli bangunan lagi. Cukup seorang dan aku. Waktu kami membangun rumah, hari sangat cerah, bulan April. Ibuku bekerja, sementara aku membangun rumah. Sebenarnya agak menyedihkan juga, ya. Anak-anak sepertiku di bulan April sibuk membangun rumah, bukannya main layang-layang. Aku merasa aneh. Tapi biarlah, toh sekarang rumah sudah jadi, setelah tiga tahun lamanya kami mencicil membangun rumah. Dan akhirnya, aku juga bisa main layang-layang di bulan April.

“Hengki?”

“Kenapa kau tau namaku? Oh. Itukah layang-layangku? Wooooow! Cantik-cantik sekali..aih! Makasih loh, ya, manis. Aku suka sekali. Pasti kau pesuruh Robi, ya? Ah sialan bocah itu, pesuruhnya manis sekali. Mau nggak kapan-kapan kita main PS bareng?”

“Maaf, aku sedang sibuk. Ini lima ribu rupiah semuanya”

“Baiklah, kukasih enam ribu, ya, manis. Kau pasti haus. Sana beli es”

“Thanks”

Menjijikkan sekali. Hengki. Kenapa dia memanggil-manggilku manis. Penghinaan. Padahal rambutku sudah cepak begini. Aku nggak suka dipuji manis atau cantik. Lagian, anak itu kan sudah SMA, kenapa masih main layang-layang.

“Nih, Lima Ribu”

“Gimana dia? Menjijikkan ya? Maksudku, bencong, gitu ya? Hahahaha”

“Iya”

“Yasudah sana kau pergi, kalau nanti aku butuh bantuanmu, kupanggil lagi. Nih!”

Robi melemparkanku sebuah layang-layang warna biru. Cantik sekali. Aku sudah nggak sabar untuk segera memainkannya.

“Thanks” kataku lagi, Robi sudah menjauh menaiki sepeda gunungnya yang dibelinya dengan uang sendiri. Sebenarnya anak itu pekerja keras, tapi menyebalkan. Umurnya tiga tahun diatasku. Kami dulu sekolah bareng, tapi ia dipindahkan karena ternyata ia terkena gangguan mental, entah apa namanya. Ibuku sudah tau itu, dan mencoba memberitahukan ke orang tua Robi, tapi malah dimaki-maki sundal. Robi akhirnya pindah sekolah setelah mendapat pemeriksaan dari psikolog atau semacamnya itu, aku juga tau dari gosip Tante Firna. Dan ia prihatin kenapa ibuku dikatai sundal, padahal, dia sendiri yang bilang begitu. Aku tak mengerti dunia orang dewasa, begitu penuh kebencian dan ketidakjujuran.

Tapi,

Layang-layangku ini cantik sekali.

Aku sampai lupa ini sudah jam lima. Aku harus pulang. Aku harus memasak nasi karena ibuku sebentar lagi membawakan kami lauk untuk makan malam.

Jam lima sore adalah waktu yang aku tunggu-tunggu, selain jam tujuh pagi. Karena itu adalah jam makan. Aku tak dapat jatah makan siang, tapi tak apa. Toh, ibuku juga lagi kerja di pabrik. Ia tak dapat mengunjungiku kalau siang. Jam kerjanya selesai pukul lima sore. Aku biasa kerja sampingan untuk membeli makan siang. Seperti, kerja pada Robi jual layang-layang, atau pergi ke warung Bibi Mariam untuk mencuci piring. Aku biasa diupah lima ribu rupiah setelah mencuci piring sebanyak 30 buah. Aku suka menghitung piring-piring yang kucuci, karena, menurutku mereka menjadi cantik dan bersih.

“Jadi, gimana harimu, sayang?”

“Bu, berhentilah memanggilku sayang. Nggak lucu.”

“Haha, baiklah, Lis, gimana? Ngapain aja hari ini?”

“Main layang-layang”

“Kenapa tak sekolah?”

“Aku tak mau, mereka membicarakanmu, membicarakan kita, mereka menagih, nggak kira-kira”

“Gimana nggak kira-kira, sayang? Eh, Lis?”

“Membicarakanmu? Sundal. Membicarakan kita? Anak haram, Ibu Sundal. Nagih nggak kira-kira? Masa disuruh bayar uang sekolah lima bulan langsung lunas, uang darimana, Bu? Sudahlah, tak penting. Aku kerja di Bibi Mariam aja, bisa kok buat hidup kita berdua, Bu”

Ibu tampak senyum mendengarku mengeluh. Sebenarnya aku tak ingin membuat harinya yang berat menjadi semakin berat. Aku pernah mengantarkannya makan siang suatu hari, setelah bekerja mencuci piring dengan upah lebih banyak tiga kali lipat. Aku melihat ibu sama sekali tak berhenti menggoyangkan kaki dan tangannya sembari tetap duduk di depan mesin jahit, hampir tidak beristirahat selama delapan jam. Untuk solat dan makan siang saja, ia harus mengemis-ngemis dulu, kataya waktu itu.  Ketika aku muncul dan membawakannya bekal, ia tampak bahagia sekali dan memelukku sambil mengusap kepalaku dan segera menyuruhku pulang sebelum dilihat Pak Mandor. Orangnya galak, katanya, dan nggak suka anak-anak.
“Aku buatin teh, ya. Ibu kali ini mau manis apa tetap tawar?”

“Manis aja, ibu mau mandi lalu minum teh buatanmu, Lis. Nanti kita omongin lagi masalah ini ya. Ibu akan pikirin. Oya, Lis. Ibu tadi beliin kamu ini”

Aku mendelik melihat dua buah kutang kecil yang disodorkannya kepadaku.

“IBU! APA INI??!!”

Ia tertawa dan beringsut ke kamar mandi.

“Kau harus pakai mulai besok. Ini perintah, sayang. Tidak ada tapi-tapian lagi. Demi kebaikanmu”

Aku pikir, aku akan memainkan layang-layang warna biruku dengan kutang kecil itu, mulai besok pagi.


Sial.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More