Menerima Penghargaan Tupperware She can Award 2013

Tupperware SheCAN! Award 2013, penghargaan untuk 89 orang yang menginspirasi Indonesia dengan karya-karya sosial mereka

Menerima Penghargaan Indi Women Award 2013

21 Perempuan Inspiratif Menerima pengharagaan "Indi Women Award" dari PT. Telkom Indonesia, dihadiri oleh Ibu Linda Gumelar, Menteri Peranan Wanita. Bagian saya, Socio Activist untuk Save Street Child

Crowd Funding Projects

Kita bisa keroyok project-project sosial ini bersama-sama untuk masa depan yang lebih baik. Gabung sekarang! ^^

Bersama Sarah Sechan dan Keluarga Save Street Child

Talk Show di NET TV bersama Sarah Sechan. Adik-adik ternyata sudah berbakat sebelum ditraining jadi host TV!

Kumpulan Puisi

Kumpulan puisi-puisi karya sendiri atau saduran dapat dibaca disini

Minggu, 08 Juni 2014

An Open Letter for President of FIFA



Photo Source: Tribun
Jakarta, June 3rd 2014
To:
Mr. Joseph S. Blatter
President of FIFA
In Zurich, Switzerland

Dear Sir,
I hope this letter find you well.
My name is Shei from Indonesia, a country with 250 million populations in which most of them are fans of football like I do. I could not wait to enjoy the world cup this year. I’m so excited! 

However, I have some concerns to share with you. The World Cup will happen at the same time with the presidential election in our country on July 9 2014. As always, during the election, our television will be dominated by tons of political campaigns. Unfortunately, the TV networks that hold exclusive right to broadcast the World Cup, TV-One and ANTV, are belong to a businessman who strongly support one of the presidential candidate. We heard some rumors that he would use the World Cup to conduct massive political campaign. And it's not fair.

I do concern to the presidential election. I also have decided whom to vote, but, of course, it is beyond that personal political right. I don’t care. What I care the most is, we have swing voters here, mostly youths. So, can you imagine? How the election rule would be violated here? There’s a media mogul whom would do anything to success one particular candidate (which we only have two candidates here). So, I hope, FIFA do concern to supervise things out here. I mean, the spirit of “true competition” should be implemented well. 

Football should be a very fun yet competitive game. That’s why I love soccer. The spirit to keep on the right track, keep on the rule, is what define a healthy game. I believe, politic should be the same. If it’s not, why do they have such rules, right?

I believe you guys have some rule so the legal broadcasting right not to be misused.
It would be great and highly appreciated if you could take any necessary and possible action to ensure that world cup broadcast would not be used as a political tool to gain voters. Remember the spirit of a healthy game, sir :)
Bunch of thanks for your kind consideration and help.  
Have a lovely day!
Best regards,


[Shei Latiefah, Chairperson of Sekarya Sobat Cinta Indonesia Foundation @SaveStreetChild


P.S:
The news regarding to this letter can be read at:
1) Kabar 24 
2) Portal KBR   

3) TribunNews
4) Yahoo Indonesia




Selasa, 03 Juni 2014

Pernyataan Politik #JokowiDay

Selamat pagi.
Dengan ini aku menyatakan diri sebagai pemilih Jokowi. 
Aku MENOLAK capres pelanggar HAM memimpin republik ini. Mau kampanye yang sama? Aku sertakan template untuk diedit pake foto kamu.

Aku tidak akan memaksamu memilih pilihanku. 
Kita bebas menggunakan hak suara. 
Tapi, teliti dulu ya apakah pilihanmu tersebut memang bijak atau tidak. 
Yah, kayak memilih aku jadi pasangan hidup kamu gitu lah #eh.

Teman², jangan salah pilih presiden ya. 
Mungkin ia cuma memimpin selama 5 tahun ke depan, tapi bekas² nya akan dapat berefek ke 5 generasi setelahnya. 
Sebagai orang waras, aku tak mau ada Wiji Thukul² lain yang hilang entah dalam rangka memperjuangkan apa yang menjadi haknya.

Apakah Jokowi akan demikian?
Kita tak akan pernah tau. Tapi, itu bisa kita kawal. Dan, menurutmu, apakah rekam sejarah itu dapat terhapuskan begitu saja? Jika ada dua versi rekam jejak tentang kebaikan dan keburukan, kau pilih yang mana?

Rekam jejak buruk tentang penculikan aktivis atau rekam jejak penghargaan² karena piawai memimpin kota?

Btw, masih ingat gimana kejamnya orde baru?
Your call.
Stand for what you believe.
#JokowiDay


A Timeless Moment of Love


Rena sayangku,
Apa kabar? Semoga kau membaca surat ini dalam keadaan sehat.
Aku mengisahkan cerita ini dari balik jendela sebuah kapsul yang berjalan begitu cepat, secepat bagaimana engkau mengedipkan mata. Blink. Dan kau sudah berada di bintang lain dalam pusat galaksi ini.

Otakku mungkin tak dapat memproses informasi secepat aku mengedipkan mata. Artinya, kerja memoriku tak secepat waktu yang berlalu di sekitar saat ini. Aku entah sedang berada di mana. Yang pasti, aku sedang ditugaskan untuk sebuah misi. Itu tak penting. Aku sudah menyelesaikannya. Toh, hanya sebuah perbaikan biasa saja. Ada beberapa komponen satelit yang tak berfungsi, dan sudah menjadi kewajibanku untuk membenahinya sebelum ia benar-benar tak berguna.

Kau tau? Kabar bagusnya adalah, di sistem galaksi yang sesuatu berjalan begitu cepat ini, kau menyadari betapa waktu sebetulnya bukan hal yang patut dikhawatirkan. Ia bisa sangat manipulatif. Kuberitahu ya, seperti saat aku sedang berada bersamamu. Waktu yang terlampau manis yang kita lewati bersama itu memang menyenangkan. Sayang harus berakhir. Tapi, meski aku sempat menyesalinya selama hampir separuh hidupku, aku kini paham. Semenjak menginjakkan kaki ke satelit rusak beberapa saat lalu, aku mengingatmu.

Dalam setiap putaran obeng dan hitungan matematis yang kulakukan, yang terbayang adalah wajah manismu ketika menyiapkan sarapan setiap pagi. Kau cantik sekali saat itu, Rena. Bagaimana aku bisa lupa?

Aku sekarang mengerti bahwa, sebetulnya jiwa yang memiliki hubungan antarmanusia. Bukan jarak maupun waktu. Jiwa kita tidak memiliki dimensi, sayang. Aku begitu menguatkan keyakinan sejak tabung oksigen mulai mengempis dan aku harus segera pulang setelah misi selesai. Tetap saja, sunggingan senyummu yang membuatku bernapas biasa saja meski sempat tercekik di ruang hampa udara ini. Kau lah oksigenku yang sesungguhnya, Rena. Maafkan, bukannya aku mencoba merayu, namun, aku mengatakan yang sesungguhnya.

Rena sayang,
Kau tau bukan? Kalau di sini, waktu tidaklah terlalu penting. Semua berjalan begitu cepat, otakku memutar begitu lambat, dan wajahmu yang selalu kuingat. Aku merindukanmu, Rena. Aku saat ini paham, bahwa, cintaku padamu tidak terikat jarak dan waktu. Aku masih memiliki perasaan yang sama, seperti ketika pertama kali kita bertemu, lalu aku melingkarkan cincin di jari manismu, dan kau selalu menyiapkan sarapan pagi untukku, hingga pada akhirnya kau harus pergi.

Aku tak bisa menahanmu. Aku kini rela melepasmu, Rena sayang. Istirahatlah dengan tenang. Waktu tidak terlalu penting, Rena. Cepat atau lambat, aku pun demikian sepertimu.

Antah berantah, 20/03/2017
John Broedy

--a fictional story of Shei Layla

Minggu, 01 Juni 2014

Puisi Anna Untuk Sahabatku Yang Bertambah Usia




Selain yang pernah diajarkan ibuku tentang Iman dan Islam, aku mempercayai dua hal dalam hidup, bahwa kita tak pernah bisa memilih siapa yang akan menjadi keluarga dan sahabat. Keduanya adalah anugerah yang harus dijaga. Dalam hidupku yang penuh pendakian dan terjun bebas ini, keluarga dan sahabatlah komponen utama yang membuatku tetap waras. Salah satunya adalah kamu, Bobi. 

(Namanya sih Syahar Banu. Bobi adalah nama panggilan sewaktu kecil, dan bagiku, ia tetap adik kecil yang nggak pernah gede. Adik kesayangan).

Hal-hal yang aku ingat selain aku ini sangatlah egosentris, adalah, keberuntungan memiliki sahabat-sahabat penyayang. Salah satunya kamu, Bobi. Aku sangat beruntung memiliki sahabat sepertimu. Hampir empat tahun lamanya persahabatan kita, dan, waktu bersamamu sangatlah sedikit. Aku sangat menyesali itu. Tapi, kau adalah orang pertama yang akan kudatangi ketika aku sedih dan gelisah. Itulah, pohon beringinku. Terima kasih untuk selalu ada dan memberikan keteduhan di balik cerita-cerita hidupmu yang juga suram. Aku ingat bagaimana kau menceritakan tentang keluargamu yang menjadi korban orde baru. Ibumu yang berjuang hingga sekarang. Engkau pun begitu, dengan gerakan toleransi beragamamu yang kian hari kian mencekam. Negri ini memang begitu, sakit. Kalau kita tak pasang badan untuk itu, entah untuk apa lagi hidup ini diberi.

Sahabatku,
Aku mungkin bukan orang pertama yang ada di sampingmu ketika kau sedih. Tapi percayalah. Di sela-sela hariku, aku selalu mendoakan kebahagiaanmu, bersama siapapun itu. Dan tentu saja, aku juga mendoakan kedamaian untuk kita semua. 

Selamat bertambah umur, sahabatku.

Kau bilang kau suka puisi Anna....

Ini untukmu, dari Anna Akhmatova.

I pray to the ray from the window-pane –

 

It’s pale, thin, and straight.
All morning I was silent,
My heart – split in two.
The copper of my wash-basin
Is green with verdigris,
But sunlight plays there,
How joyously.
So simple it is, so innocent,
In evening quiet,
Yet in this bare shrine,
It’s a gold celebration,
A consolation, I find.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More