Menerima Penghargaan Tupperware She can Award 2013

Tupperware SheCAN! Award 2013, penghargaan untuk 89 orang yang menginspirasi Indonesia dengan karya-karya sosial mereka

Menerima Penghargaan Indi Women Award 2013

21 Perempuan Inspiratif Menerima pengharagaan "Indi Women Award" dari PT. Telkom Indonesia, dihadiri oleh Ibu Linda Gumelar, Menteri Peranan Wanita. Bagian saya, Socio Activist untuk Save Street Child

Crowd Funding Projects

Kita bisa keroyok project-project sosial ini bersama-sama untuk masa depan yang lebih baik. Gabung sekarang! ^^

Bersama Sarah Sechan dan Keluarga Save Street Child

Talk Show di NET TV bersama Sarah Sechan. Adik-adik ternyata sudah berbakat sebelum ditraining jadi host TV!

Kumpulan Puisi

Kumpulan puisi-puisi karya sendiri atau saduran dapat dibaca disini

Sabtu, 17 Mei 2014

Future Leader Summit 2014: Materi Hak Anak

Dear teman-teman,
Seperti janjiku kemarin, ini adalah materi yang kubawakan hari ini di Future Leader Summit. Judulnya "Hak Untuk Generasi Penerus Yang Tak Terurus".  Bukan, bukan materinya yang berharga, tapi kesempatan berbincang dan memecahkan masalah dengan peserta dari 30-an provinsi di Indonesia itulah yang membuat sesi begitu berharga. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Semoga kita berjumpa lagi :)


Ingat,
Gerakan dimulai dengan diskusi, tapi harus dituntaskan dengan tindakan.
Ditunggu ya kontribusinya untuk bangsa, wahai #YouthContribute.
Mari bergerak dan menggerakkan, seperti teman-teman Save Street Child di Seluruh Indonesia.

Sampai jumpa lagi :)

 Bersama peserta dari Room HAM, Future Leader Summit 2014 (doc.panitia)


Jumat, 02 Mei 2014

Bagaimana Cara Mengunggah Foto Anak?

Courtesy of http://styledstagedsold.blogs.realtor.org/ 

Sebagai orang tua, pasti normal kalau ingin mendokumentasikan fase perkembangan anak-anaknya. Ibu saya pun begitu. Bedanya adalah, ibu saya memiliki album foto sebesar A3 dan terletak di lemari kaca berkunci, sehingga, siapapun yang ingin melihatnya harus meminta izinnya dulu. Tapi sekarang? Para ibu-ibu sudah bisa bebas mendokumentasikan foto anak-anak mereka ke media sosial seperti facebook, twitter, path, pinterest, dan lain sebagainya. Lalu saya penasaran, apa mereka nggak was-was, yah? Gimana kalau foto anak mereka disalahgunakan? Rasa penasaran saya ini muncul (dengan kuatnya) setelah santer kasus pedofilia di internet dewasa ini. Tak berhenti disitu, rasa penasaran saya berikutnya adalah “Lah? Memangnya salah ya? Mengunggah foto anak ke internet?

Dan, akhirnya, setelah saya baca-baca artikel di parents.com, saya menemukan tips-tips berikut ini:

Kenali Setting Keamanan Sosial Media Anda
Punya sosial media, tentu kudu paham bagaimana media tersebut bekerja. Mintalah bantuan teman anda untuk mengajari bagaimana mengeset “privacy setting" atau setting keamanan supaya bisa dilihat “hanya oleh teman anda”, atau mungkin hanya bisa dilihat oleh orang tertentu, termasuk “hanya oleh anda sendiri”.
Misal di facebook, setelah klik “unggah foto”, aturlah siapa yang bisa melihat foto tersebut.

Foto 1: Cara Mengeset Setting Keamanan

Menurut Common Sense Media, organisasi yang menyediakan informasi dan pendidikan tentang anak dan media, tidak masalah jika anda ingin mengunggah foto anak. Asalkan, foto tersebut hanya bisa dilihat oleh orang-orang lingkaran terdekat (nah kan, atur privace setting anda ya!)

Gunakan Penanda Foto (Watermark)
Watermark adalah penanda foto. Gunanya untuk klaim foto tersebut milik anda dan tidak bisa disalahgunakan oleh pihak lain.

Dewasa ini, sangat mudah memberi penanda foto, silakan unduh aplikasi di playstore untuk Photo Grid,  Pics Art atau semacamnya di ponsel untuk mengedit foto anda. Jika anda mengunggah pada PC, anda bisa kunjungi Fotor.com untuk mengedit foto kesayangan anda.

Saya bekerja di sebuah perusahaan CSR, dan saya sering mengunggah foto menggunakan penanda fotoseperti ini, anda pun sudah harus mencobanya!

Foto 2: Contoh foto dengan watermark

Perkecil Resolusi
Resolusi mempengaruhi kualitas foto. Semakin kecil resolusi, semakin kecil pula resiko foto anak anda disalahgunakan untuk keperluan marketing (kadang-kadang ada agency nakal yang suka comot foto di internet). Belum lagi, ancaman foto anak anda dicetak dan diperbesar lalu dipajang di kamar predator sebagai objek kepuasan seksual. Mengerikan, kan?

Matikan Geo-Tag atau Pencari Lokasi di Ponsel Anda
Pamer lokasi memang hal yang sangat penting demi eksistensi (saya juga melakukannya). Tapi, jika foto yang akan diunggah adalah foto anak, maka, sebaiknya fitur geo-tag atau pencari lokasi di ponsel anda dimatikan saja. Tidak hanya membahayakan sebagai target stalking, namun, hal ini juga memicu kemarahan orang tua lain jika dalam foto tersebut terdapat foto anak mereka. Keamanan dan privasi mereka bisa saja terancam. Mulai bijak ya menggunakan fitur-fitur ponsel andalan.

Hindari Ekspos Wajah Anak & Alat Vitalnya
Seganteng atau Secantik apapun anak anda, mereka tentu akan terpapar ancaman yang sangat tinggi jika overekspos (bahkan, anda sendiri juga bisa mengalaminya). Bisa jadi, para predator berhasrat pada mereka, atau para penculik jadi berkeinginan untuk menjual mereka. Bukankah itu adalah bahaya yang mubazir energi? Memang terlihat berlebihan, tapi jangan sampai kita jadi tidak antisipasi terhadap hal ini. Orang kadang lebih suka menyesal daripada mewanti-wanti diri. Bukankah kita tak mau kalau kebanggaan sedetik tersebut bisa merusak masa depan anak selamanya, kan? Saran saya, sebaiknya ambil jarak foto anak dengan jarak sedang atau jauh, lalu hindari foto-foto close-up dan tentu saja foto-foto telanjang anak. Memang sih, foto bayi yang baru mandi itu lucu, tapi apakah kelucuan itu ditangkap sefrekeunsi oleh predator anak? Lalu, plis deh ya….nggak perlu juga foto penis anak yang baru disunat (akhir-akhir ini saya melihat ada yang posting foto penis anaknya yang menjijikkan). Dear mom and dad, please be wise :)

Semoga bermanfaat tips-tips di atas.

Silakan disebarkan jika perlu.

Salam sayang,
Shei.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More