Menerima Penghargaan Tupperware She can Award 2013

Tupperware SheCAN! Award 2013, penghargaan untuk 89 orang yang menginspirasi Indonesia dengan karya-karya sosial mereka

Menerima Penghargaan Indi Women Award 2013

21 Perempuan Inspiratif Menerima pengharagaan "Indi Women Award" dari PT. Telkom Indonesia, dihadiri oleh Ibu Linda Gumelar, Menteri Peranan Wanita. Bagian saya, Socio Activist untuk Save Street Child

Crowd Funding Projects

Kita bisa keroyok project-project sosial ini bersama-sama untuk masa depan yang lebih baik. Gabung sekarang! ^^

Bersama Sarah Sechan dan Keluarga Save Street Child

Talk Show di NET TV bersama Sarah Sechan. Adik-adik ternyata sudah berbakat sebelum ditraining jadi host TV!

Kumpulan Puisi

Kumpulan puisi-puisi karya sendiri atau saduran dapat dibaca disini

Jumat, 27 Desember 2013

Tupperware SheCAN! Award 2013



Dok. Tupperware

Intisari-Online.com – Untuk ketiga kalinya (sejak tahun 2009 dan 2011) Tupperware Indonesia kembali menggelar Tupperware SheCAN! Award (Jumat, 6/12). Penghargaan ini sebagai wujud apresiasi terhadap sosok wanita inspiratif  yang dengan percaya diri telah berhasil memberikan perubahan bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungannya menjadi lebih baik.
Dengan mengusung tema “Seiring Sejalan Memimpin dengan Nurani” penghargaan kali ini diberikan kepada 89 wanita dari seluruh pelosok Nusantara yang dinilai telah mencerahkan (Enlighten), mendidik (Educate), dan memberdayakan (Empower) diri, keluarga, sesama, dan lingkungannya. Mereka juga telah tampil dalam program acara TV – Tupperware SheCAN!

Dengan tema tersebut, Tupperware ingin menyampaikan pesan kepada kaum wanita bahwa meski tidak selalu berada di baris terdepan, namun mereka adalah teman seiring dalam keluarga untuk meraih kehidupan yang lebih baik, bahkan bisa berperan aktif dalam lingkungan dan masyarat.
Penerima anugerah Tupperware SheCAN! Award 2013 sebanyak 89 orang ini memiliki latar belakang sosial, suku, usia, dan profesi yang beragam. Dengan caranya masing-masing, mereka menggunakan anugerah dan kesempatan masing-masing atau melalui tantangan kehidupan pribadi mereka dalam misinya untuk memberikan makna hidup yang berarti dengan berbagi pada orang lain.

“Selain trofi, Tupperware memberikan donasi sebesar Rp 20 juta untuk masing-masing wanita inspiratif Tupperware SheCAN! Untuk meneruskan misi sosial dari masing-masing wanita inspiratif Tupperware SheCAN!” tutup Nurlaila Hidayati, Marketing Manager Tupperware. (*)
Tayangan Tupperware She Can Award 2013 di Trans 7
 

Minggu, 15 Desember 2013

Selamat Pagi, Apa Kabar? (1)


Pernah mengucapkan “Selamat Pagi, Apa Kabar” dalam sebuah percakapan singkat di handphone kamu dan menyapa secara random kontak yang ada? Saya pernah. Tidak random. Semua terjadwal. Karena saya sedang diamanahkan sebuah organisasi sosial, jadi pendekatan emosional ke relawan-relawan itu penting. Supaya kinerja mereka semakin membaik dan semakin dekat hubungannya.

Nah, kejadian ini tidak sengaja sih. Hadiah dan sebuah pembelajaran yang tak ternilai. Metode “sapaan pagi” ini baru saya mulai sekitar seminggu terakhir ini. Secara personal, saya kirim satu-per-satu pesan singkat yang berisi “ucapan”, “tanya kabar”, lalu “doa baik untuk menjalani hari”. Semudah itu, sesingkat itu. Tapi, siapa tau? Metode tersebut efektif sekali untuk menjalin kekerabatan.

Suatu pagi, saya menjalankan keisengan metode tadi pada seorang relawan.

Sesuai pengakuan setelah kami bertemu malam setelahnya, dia berkomentar. Sial, ini ngapain sih Kak Shei ngirimin pesan pagi-pagi. Pasti mau nyuruh-nyuruh (suudzon anjis)

Lalu dia mengecek HP nya ditengah pengerjaan tugas kuliah. Dan menemukan saya cuma kirim pesan “selamat pagi”. 

Buru-buru dia balas “Sori, kak... Lagi kelas ini” dengan harapan saya tidak memberi instruksi macam-macam. Sompret  : ))))

Setelah itu, saya cuma balas...
“Oh, gitu... semoga hari ini berkah ya.... Semoga berbahagia” tanpa menginstruksikan apapun.

Dia heran. “Tumben kak Shei nggak nyuruh apa-apa” (ini bagian sialan).

Masih penasaran, dia membalas “Kenapa sih kak? Aneh deh”.

Lalu saya balas, “Gak apa-apa, Cuma mau nyapa aja. HIH!”

“Astaga..makasih kak. Udah lama aku gak disemangatin kayak gini. Terakhir disemangatin hampir setahun yang lalu pas masih punya pacar” (ini bagian paling bikin males, haha)

Lalu dia mengajak ngopi sambil ngobrol malam setelah saya kirim pesan singkat tersebut.

Iya, curhat.

Dasar ABG.

(bersambung)



Selasa, 10 Desember 2013

Perempuan-perempuan Ini Mencintai Negrinya

Indonesia tanah yang mulia, tanah kita yang kaya 
Di sanalah aku berada, untuk s'lama lamanya 
Indonesia tanah pusaka, p'saka kita semuanya 
Marilah kita mendo'a, Indonesia bahagia
---Lirik kedua dari “Indonesia Raya” Cipt: W.R. Supratman, 1928.

Tak banyak orang yang mengerti arti mencintai tanpa syarat. Tapi, setidaknya, saya mengerti sejak malam itu. Malam dimana saya dipertemukan dengan perempuan-perempuan luar biasa yang menunjukkan bahwa, bagaimanapun sulit dan pahitnya, mereka mencintai Indonesia.

Pemaknaan nasionalis, seperti yang sering digaungkan pemimpin negri ini dari balik menara gadingnya, tampak tersemat dalam seuntai senyum dan rona merah bahagia 89 perempuan-perempuan yang berada di panggung apresiasi She Can Award 2013. Sebuah ajang penghargaan dwi tahunan dari PT. Tupperware Indonesia untuk perempuan-perempuan yang memiliki 3 E sesuai nilai yang mereka anut: Enlighten, Educate dan Empower. Perempuan-perempuan yang hadir pada malam itu merupakan perempuan yang luar biasa, yang dapat membawa diri mereka menjadi bagian dari pemecah masalah yang melanda negri: kurang pangan, pengangguran, kemiskinan, permukiman kumuh, dan masih banyak lagi. Perempuan-perempuan tersebut memberi warna dan harapan baru bagi negri yang pesakitan ini.

Malam itu, saya dipertemukan oleh Murniati Duddin, sang guru muda honorer dari Sulawesi Selatan yang harus mengarungi laut untuk menuju ke tempatnya mengajar P. Tanakeke. Ia harus menyebrang selama 2-3 jam tergantung cuaca. Dan apabila cuaca buruk, Mbak Murni harus siap untuk “setor nyawa” karena ia tak bisa berenang. Alhamdulilah, sampai hari ini, ia masih diselamatkan. Mbak Murni ini benar-benar menunjukkan secara nyata frasa “Atas nama pendidikan, maka badai akan kuterjang” yang sesungguhnya.

Poster Kampanye Mangrove 
(doc: pribadi)

Sang Guru sedang berbagi ilmu
 (doc: pribadi)

Saya juga bertemu dengan Mbak Priskilla Smith Jully Wright sang bidadari dari Semarang. Seorang perempuan yang istimewa, karena, ia mampu melihat dengan mata hatinya. Mbak Priskilla ini seorang diffabel yang mampu memberikan cinta untuk anak-anak terlantar. Ia menjadi seorang diffabel akibat usaha pengguguran kandungan yang gagal, karena keluarganya menginginkan anak laki-laki. Namun, keterbatasan fisik dan diasingkan oleh keluarganya tidak membuat Mbak Priskilla menjadi lemah. Meski sempat frustrasi bahkan nyaris bunuh diri, Priskilla Smith Jully Weight kini mampu membalik kekurangannya menjadi kekuatan yang luar biasa. Ia mendirikan The School of Life dan menjadi pelindung dan pengasuh bagi anak-anak yang dicampakkan keluarganya.

Mbak Priskilla dan anak-anak asuhnya
(doc: Tupperware She Can)

Ada juga Mbak  Berti Sarova dari Lampung yang merupakan perempuan perkasa dan pernah menjajal sulitnya bekerja di negri orang Mbak Berti pernah merasakan jatuh bangun menjadi buruh migran, sehinggai memahami kunci permasalahan kemiskinan agar para TKI tidak perlu lagi meninggalkan keluarga mereka. Melalui Pasar Rintisan TKI, pembentukan koperasi dan pelatihan pembekalan tentang paspor, ijin kerja, dll termasuk pemberian modal kerja bagi calon TKI yang masih ingin berusaha di tanah air, Berti mengupayakan agar buruh migran mampu meningkatkan kesejahteraan diri sendiri dan keluarganya. Pasar Rintisan TKI dengan puluhan kios didalamnya kini mayoritas dimiliki oleh para buruh migran dan keluarganya sebagai investasi dan sumber usaha. Banyak diantaranya yang kini tidak perlu lagi bekerja ke luar negeri atau mengulang pengalaman pahit kedua orang tuanya.

Mbak Berti SarovaSang Pejuang TKI
 (doc: Tupperware She Can)

Kisah-kisah di atas hanyalah sebait dari perjuangan 89 perempuan lainnya dalam mencintai negri dan hidup. Kemampuan luar biasa itu menunjukkan bahwa, jender bukan lagi masalah besar. Laki-laki dan perempuan berperan beriringan dalam mewujudkan tatanan kehidupan yang baik.

Dan, setelah malam itu. Saya menjadi sadar bahwa saya hanyalah debu di awan biruuuuu~
Gallery

Warm Smile of Happiness 
 (doc: pribadi, photo by: Arie Macca)

 Selfie Pose
 (doc: pribadi, photo by: Arie Macca

A New Family of She Can Women 2013
(doc: pribadi)

Partner in Crime :)
(doc: pribadi)

Jadwal "She Can Award" 2013, don't miss it :) 

P.S:
Untuk melihat kiprah perempuan lainnya, silakan klik link berikut ini
Untuk Melihat liputan tentang Save Street Child, silakan klik:
Trans 7 (part 1)
Trans 7 (part 2)


Penuh Cinta,
Shei

Kamis, 28 November 2013

Orang Miskin Dilarang Sekolah (Sebuah Cerita Tentang Alan)


Hai hai,
Setelah beberapa hari ini dikejutkan oleh kabar duka dariseorang kawan, Tuan Vandi, blog ini akan kembali beraktivitas untuk menunjukkan realita Jakarta yang bisa kita keroyok rame-rame.

Kemarin malam, setelah bermuram karena ditinggal kawan, saya sangaaat lapar.
Akhirnya saya memutuskan untuk mampir ke booth “Ayam S*bana” yang dekat dengan kosan. Tapi, nggak beli ayam, malah beli bakso. Untuk yang jaga baik, boleh aja tuh…hehe.
Sambil makan, iseng saya ngobrol sama Alan,

Alan?
Keren kali ya namanya? Tapi cerita hidupnya tak begitu membuatnya berbangga (ini baru cerita, belum dikonfirmasi kebenarannya).

“Alan kamu umurnya berapa sih?”
“Hehe baru 18 taun kak”

Padahal perawakannya tinggi, legam, dan sepertinya dia berusia 25-an ke atas (secara fisik, dia ini keliatan lebih tua dari si pacar loh!)
Siapa yang sangka kalau Alan ini baru 18 tahun!
Yaampun…

“…trus, ini Ayam S*abana punya sendiri apa punya orang?”
“Punya saudara kak…”
“Sistemnya setoran gitu ya? Ada target?”
“Nggak ada target, iya, disetor ya harian…berapa dapat itu yang disetor”
“Oh, lalu kamu dapat berapa tuh dari setoran?”
“Nggak dapat apa-apa kak….Cuma makan”

Dhuar!

Seketika saya terbengong-bengong. Lalu saya pancing-pancing lagi. Kalau nggak dapat apa-apa, gimana Alan bisa kemana-mana? Dengan malu-malu, Alan menjawab “…ya nggak kemana-mana kak, sepulang kerja ya tidur, gitu terus setiap hari.”
Iya
Benar-benar setiap hari.
Tanpa libur.
Tapi tau nggak?
Saya nggak pernah meilhatnya muram.
Dia selalu melayani pemnbeli dengan mata berbinar dan senyum yang cerah.

“Alan,dulu sekolahnya sampai tama tapa?”
“Cuma sampe kelas 4 SD kak. Soalnya ibu-bapak waktu itu bilang..Nggak punya biaya sekolah. Jadi lah Alan mending berhenti dari 4 SD. Padahal tadinya pengen sekolah, trus mondok..Pengennya sih jadi Ustaz gitu”

Saya terdiam.
Benar-benar ya….orang miskin memang gak boleh sekolah. Sambil makan bakso dan ngobrol dengan Alan, Tandi, tukang bakso, menimpali..

“Saya juga mbak, Cuma sampe kelas 5 SD. Trus keasyikan cari duit…Tapi sekarang sih pengen nikah, pengen punya usaha sendiri” jelasnya. Ia juga bercerita tentang sistem bagi hasil bakso keliling yang dilakoninya itu. Ia ambil Rp. 500/buah, dan menjualnya Rp. 600/buah. Sehari-hari ia bisa mengantongi Rp. 30.000- Rp. 50.000. Itu pun harus dipotong untuk belanja lagi, jadi laba bersih mungkin ya Rp. 20.000- Rp. 30.000 per hari.

See?
Bagaimana kita menghargai uang memang berpengaruh dengan syukur.
Mereka bersyukur kok,
Tapi, syukur bukan berarti menjadi malas mengubah nasib.
Alan lalu saya tawari untuk bersekolah lagi, dan dia mau. Kebetulan saya ada kenalan pondok pesantren bagus yang dikelola oleh Abang ketemu gede, Bang Munawar.

Bang Munawar M. Ali ini pendiri Sekolah Rakyat Bogor yang terkenal sekali itu. Beliau merupakan orang baik yang beneran baiknya. Seorang ustaz yang relijius tanpa mengkafirkan orang lain. Sehingga dipercaya menjadi guru ngaji salah satu orang terkaya di negri ini (nggak usah sebut merk lah ya). Meski bergaul dengan pembesar-pembesar, Bang Munawar ini sangat rendah hati. Ia juga berhati-hati dalam mengelola yayasannya, tak mau disikut-sikut si pembesar yang nntabene juga bermasalah dengan pajak dan sebagainya itu. Ikhtiar yang luar biasa dibalik godaan-godaan. Ini baru keren! Teruji!

Setelah ngobrol dengan si Abang via aplikasi chatting, Abang berpesan supaya saya juga mencarikan ortu asuh supaya Alan bisa lebih terjamin. Maklom, Pondok ini baru., cek aja di twitter Min Karomah. 
Lalu saya buka saweran di twitter selama kurang lebih 15 menit. 



Terkumpullan 3 orang baik yang mau mendermakan hartanya untuk Alan sebesar Rp. 200rb/bulan selama 6 bulan. Ini artinya, kebutuhan Alan di pondok Rp. 400.000/ bulan dan tabungan dia Rp. 200.000/ bulan aman. Kakak-kakak baik hati itu bisa dicari di twitter: @dim_oz @RiantiAgnesia dan @candra_kun (maaf ya di-publish, habisnya biar bikin iri yang lain haha)

Alan akan masuk pada program “Patungan Orang Tua Asuh” yang dikelola oleh Save Street Child dibawah kakak Velly Marchia. Ini memudahkan pelacakan dan penagihan donasi per bulannya karena saya sudah pasti akan lupa dan teledor. Kakak Velly bisa langsung ambil alih dan menghubungi donatur-donatur Alan secara periodik.

InsyaAllah.

Sekarang, perjuangan selanjutnya adalah meyakinkan Alan untuk menuntut ilmu dengan baik dan menculiknya dari majikan tak berperikemanusiaan itu :p
(bohong lah…diizinin nanti)
Yak!
Nanti saya akan minta bantuan teman lagi untuk melakukan hal di atas karena masih banyak kerjaan di Yayasan haha (emang dasar males).
Nah,
Begitulah secuplik cerita tentang Alan.

Thankyou for providing Alan such opprotunity to be a free and educated boy!
Mari makan dan ngopi lagi :)

Disclaimer:
Mohon maaf foto Alan tidak dimuat di blog ini, tapi akan langsung diberikan pada donatur dan pihak-pihak terkait. Alan tidak dijual, by the way :p


Selasa, 26 November 2013

Memoar tentang Tuan Vandi @Toiletcafe

“Saru mana saru?”
“Ngcng”
Memulai setiap twit dengan beberapa titik di depan.

Ciri khas dari @Toiletcafe.
Siapa dia?
Seorang teman. Bukan hanya akun terkenal yang biasa menghibur pengikutnya di linimasa. Iya. Dia seorang teman.
Tengah malam tadi, ada yang membangunkan untuk memberi kabar “Jamban meninggal”.
“Hah?”
Antara percaya tak percaya, saya mengucek-ucek mata dan memastikan lagi. “Toiletcafe? Jamban?” Kenapa?”
“Stroke ringan”
Lalu di timeline muncul cerita dari adiknya, @Arieronic. Yang paling miris adalah yang ini:





Lalu?
Belajar sesuatu?
Saya iya.

Tau tidak? Selama ini, tak pernah ada yang tau bahwa Jamban sedang sakit keras. Bahkan ada penyakit bawaan (step). Dia selalu terlihat tegar melalui teks-teksnya yang menghibur di linimasi. Oh, tidak! Bukan terlihat tegar. Tapi memang tegar. Saya membaca cerita dari Adiknya, Ariyani, bahwa memang Jamban adalah orang yang ceria dan sangat baik, tidak suka merepotkan orang lain. Adiknya bercerita bahwa sewaktu ia jatuh sebelum masuk UGD, bahkan ia berpura-pura sedang terbaring di lantai karena kepanasan L

Ibunya mengetahui bahwa, Vandi (jamban) hanya berpura-pura, karena ketika disuruh bangkit, ia bilang “nanti saja”. ANAK INI LOH! HIH! SUKA BANGET BIKIN ORANG SUPAYA NGGAK KUATIR!

Sebagai pacar dari teman baiknya, saya merasa sangat kehilangan.
Jamban merupakan orang dekat dengan si pacar, dan suka iseng kalau kami lagi marahan. Tapi, selalu, dia menghibur dan membuat kami baikan lagi. Kalau nggak baikan-baikan, nanti diisengin lagi “kapan putus?” :)
INGAT BANGET! Pas pacaran sama @ArieMacCa, Jamban orang yg pertama tau. Foto ini dikirim ke line dia. waktu pacaran sama @ArieMacCa, jamban pnh bilang "Lo cakepan sekarang, tapi tetep insekyuran". Sial lo mban :))



Tuan Vandi,
Kamu adalah guru sesungguhnya dalam hidup.
Bayangkan, dengan kehadiranmu yang sebentar, kamu membuat orang-orang sadar bahwa…
“Pain is inevitable, but suffering is optional” (Haruki Murakami)
(photo by: @ariemacca)

Meski sakit,
Tapi kau memilih untuk tidak menderita, malah menghibur orang-orang.
Doa dan tawa kami bersamamu, mban.


Selamat jalan, Tuan Vandi
Kami menyayangimu.

#RIPToiletcafe 26 April 1980- 26 November 2013  


Selasa, 19 November 2013

Apa Yang Buatmu Bersyukur Hari ini?


Well,

Pertanyaan klise sih ya…
Tapi, akhir-akhir ini saya mengalami kejadian kecil yang luar biasa. Membuat saya merinding dan mencintai Tuhan lagi dan lagi.

Karena masih menjadi pesuruh orang, saya harus tunaikan beberapa pekerjaan yang kadang-kadang membuat sport jantung dan harus mengikuti SOP. Nah, karena ada koordinasi yang salah, saya baru tahu kalau ternyata harus membeli sesuatu untuk klien. Sangat tidak mungkin kalau harus mengikuti alur “Purchase Order” karena acaranya besok! Yes. Harus uang pribadi dulu yang keluar, lalu reimburse.

Ini tanggal 20 bung! Detik-detik perjuangan! Dimana isi dompet kebanyakan pattimura, imam bonjol dan paling banter Ngurah Rai.

DAN KAU HARUS NOMBOK DULU SEKIAN RATUS RIBU UNTUK KLIEN. ARTINYA ITU UANG SATU-SATUNYA DAN ENTAH MAKAN BESOK GIMANA.

Untunglah saya punya kawan baik hati yang mau meminjamkan seratus ribu, hitung-hitung cukup untuk bertahan dua atau tiga hari sebelum budget harian di-reimburse.

DAN DIA TRANSFER SERATUS LIMA RIBU RUPIAH.

Bank saya cukup pelit. Ia akan memotong sepuluh ribu untuk administrasi dan akkhirnya uang pun nyangkut Rp.45.000 di atm.

Baiklah, minimal lima puluh ribu bisa di tangan.
Aman?
Iya sedikit. Kabar buruknya adalah…

BARANG UNTUK KLIEN ITU OVERBUDGET DAN UANG LIMA PULUH RIBU SATU-SATUNYA ITU HARUS KAU IKHLASKAN UNTUK NOMBOKIN LAGI.

Dari situlah kiamat kecil datang.
Dompet benar-benar kosong.
Well, baiklah. Minimal masih ada Rp.45.000 di ATM ya? Minta tolong kawan lagi untuk transfer supaya bisa diambillah uang itu.

Singkat cerita, acara sukses.
Meski ada beberapa hal yang membuat deg-deg an, apalagi kalau bukan kemacetan Jakarta. Waktu di jalan memang harus dialokasikan sempurna supaya tak telat.
Sesampainya di kantor. Dengan muka lemas, saya hubungi teman yang sangat dekat (sebut saja pacar, hehe). Dan dia marah, karena saya tak cerita ini-itu, saya cuma nggak mau bikin repot orang (padahal sudah bikin repot daritadi sih). Dia-lah yang menyelamatkan saya sehingga (rencananya) bisa makan siang dan menunggu reimburse kantor cair esoknya.

Saya bukan tipe orang yang terlalu khawatir tidak bisa makan. Jadi santai saja. Gak bisa makan ya puasa. Sejak kecil diajarkan orang tua untuk menyimpan kesusahan dan bertawakal. Gitu. Tapi, sederhananya, saya tidak begitu suka makan. Jadi tidak bisa makan pada jam tertentu tidak begitu menakutkan.

Sampai mana tadi?
Ohya, saya sudah dapat transfer dana supaya uang malang yang nyangkut di ATM itu bisa diambil.
Saya berjalan kearah ATM kantor dengan riang gembira…
Sampai pada akhirnya..

FAK! KARTU ATM KETELEN!

Dan itu adalah akhir dari segala cerita :))

TIdak.

Saya pulang ke kantor dengan tersenyum.
Sialan gue lagi dikerjain sama Tuhan, nih” umpat saya dalam hati. 
Mau marah udah kelewat capek fisik dan lapar. Jadi saya senang-senang saja pulang kantor tanpa membawa apapun.

Sesampainya di kantor dan mengabari pacar tentang kejadian tersebut, si pacar panik dan mau antar makanan. Saya tolak karena toh saya gak gitu lapar.

Tiba-tiba..

“Miss, kamu mau makan bareng?”

Seorang guru bahasa inggris cantik menawariku, dan saya langsung terharu.

Akhirnya, saya bisa makan siang. Acara kantor yang saya pegang lancar. Dan besok uang cair.

Semua itu adalah apa yang saya syukuri hari ini,
Kalau kamu?

Senin, 18 November 2013

Keras Kepala


Ada yang sering diprotes orang karena terlahir dengan kepala batu?
Kita senasib.
Mungkin kita ini termasuk titisan Sun Go Kong, ya?
Tapi, percaya tidak?Ada beberapa pelajaran dari ego satu ini.
“Keras Kepala” seakan menjadi musuh semua orang. Karena memang batu, susah dibilangin, dan semacamnya J
Yaaaa….Selama 24 tahun hidup, dalam fase-fase perjalanan, saya banyak belajar. Termasuk bagaimana menetesi air pada kepala yang terlanjur keras ini.
Beberapa kali saya terrjatuh, kepentok, rusak, dan merugi karena kepala yang terlalu keras ini. Kehilangan tim kerja, gagal kerjasama, dan putus cinta. Banyak hal. Tapi, Tuhan masih memberi umur untuk saya supaya bisa introspeksi diri dan memperbaiki kesalahan.
Tapi, ada kalanya keras kepala ini memberi manfaat dalam mengejar mimpi. Misal, lahirnya Save Street Child meski banyak yang meragukan dan terpental karena kerja yang tak henti-henti. Kepala keras Ini menyelamatkan saya dari keputus-asaan dan berhenti bekerja. Saya terlalu keras kepala untuk mundur dan menyerah. Jadi, diteruskan saja.
Lalu,
Sebenarnya keras kepala ini baik atau buruk sih?
Beberapa hal yang saya pelajari adalah:

1)  Keras kepala itu harus dijaga untuk mempertahankan: kepercayaan (beliefs), nilai (values), visi (vision), dan keadilan (justice).

2)      Keras kepala akan pemahaman di atas pun harus tetap di-update supaya menjadi nilai hidup, bukan hanya “Pemahaman popular”

3)      Keras kepala itu merugikan jika kita MENOLAK MENTAH-MENTAH saran dari orang lain (dengarkan saja dulu, baru dipikir dan ditindaklanjuti)

4)      Keras kepala bukan berarti independen. Bedakan mana keras kepala seperti yang ada pada poin 1 diatas dan mana keras kepala yang hanya menjadikan kamu seorang “bigot”.

5)      Pertajam analisis. Saya tidak akan menulis “dengarkan kata hati” pada poin ini. Karena kata hati bisa jadi cuma jadi PEMBENARAN karena MALAS MIKIR J




So, which stubbornness will drive you?


Selasa, 16 Juli 2013

Inalillahi, Almira Telah Pulang



Saya belum pernah bertemu secara langsung dengan bayi cantik ini, tapi saya percaya, dia malaikat kecil dari langit yang diturunkan untuk mengajari kita sesuatu: ketangguhan hidup, cinta, pengabdian dan kepasrahan pada Sang Pencipta. 

Betapa tidak,
Di usia yang baru 10 bulan, Almira begitu tabah menghadapi Leukimia dan infeksi yang menyerang tubuhnya hingga mengakibatkan lehernya bolong dan kulitnya luka-luka. Membaca teks ini saja saya miris, membayangkan menjadi ibunya bagaimana ya? Ternyata ibunya juga masih seumuran saya.
Saya membaca tulisan Mbak Azza tentang Almira dan langsung bereaksi untuk menyebarkan berita ini. Tapi saya juga tak terlalu tahu, bagaimana fundraising yang kami lakukan, apapun usaha kecil ini semata bentuk cinta untuk Almira. Rekening yang terpampang juga milik Ibunya langsung, jadi Bismillah, semoga saja memang cukup menutup pembiayaan.

Seminggu setelah blog itu diposting oleh Mbak Azza, Sahabat saya, Bang Iis (dia ini cewek tapi kelakuan mirip cowok) melesat ke Bandung dengan uang pas-pasannya. Ternyata belum berjodoh, Almira sedang tidak boleh ditemui. Bang Iis ngobrol dengan ibunya Almira yang tentu saja lebih muda darinya karena usianya sebaya dengan saya. “Nanti kalau mau jenguk lagi, yang di CIkampek aja, Mbak… lebih dekat kan dari Jakarta”, ujar Ibunya waktu itu, Bang Iis mengangguk, saya bersemangat. Menunggu Almira dipindahkan ke Cikampek. Dari segi waktu, sangat tidak memungkinkan bagi saya untuk ke Bandung saat itu, banyak kejar setoran.

Mungkin sudah lebih dari satu bulan sejak saya dengar kabar tentang Almira dari blog Mbak Azza. Rekan saya di Bandung (yang belum pernah ketemu), Neng Nadya, sering DM saya minta doa buat Almira setelah koma dua hari. Ah, little girl…. We really love you.

Sore itu saya sangat kepikiran tentang Almira. Membayangkan gimana keadaan ibunya yang ditinggal koma buah hatinya selama dua hari. Duh. If only I could shift my position with her, I would. Setelah solat Ashar, saya curhat ke Tuhan: “Ya Allah….sembuhkanlah Almira….atau peluklah ia dalam damai…”.

Doa yang sederhana.

Magrib.
Ketika saya baru membuka bungkus es melon dingin untuk takjil, saya melihat twit Mbak Azza

“Innalillahi wainnailaihiraji'un... Telah kembali ke pelukan Pencipta, Almira. Bayi 10 bln penderita Leukimia. Bahagia di sana, Nak.”




Saya senyum. Sedih sih engga. Malah bahagia. Almira akhirnya dipelukMu Ya Allah. Almira sudah sembuh. Seperti kisah Lili. Betapa aku mencintai anak-anak pejuang itu :”)
Kematian membuat saya sadar bahwa dunia ini benar-benar sementara. Dan hidup pada trek yang benar, sesuai panggilan jiwa dan tujuan hidup merupakan keniscayaan. 

Masih suka mengeluh?

Berbuatlah sesuatu sekarang. Buka hati. Rasakan. Dunia membutuhkanmu.

Gallery of Almira

Gambar 1: Iiih..ngintip-ngintip...cute banget kan Almira

 Gambar 2: Bermanja dengan Nenek

Gambar 3: Almira Mimik Cucu ^^

Gambar 4: Almira berpose dengan topinya

Photo courtesy of Blog Mbak Azza ,twitter Mbak Azza
and Bang iis.

Perjalanan, Cerita Tentang Rumah dan Hidup Bahagia



Kesamber Gledek
Hari itu saya terkejut setengah mati setelah ditelepon oleh Ibu Maryam, yang punya kontrakan di Depok, tempat basecamp Save Street Child. Ia ingin mengakhiri kontrak rumah yang biasa kami gunakan sebagai pusat segala kegiatan Save Street Child tersebut. Apa boleh buat. Kami harus pindah sebelum pertengahan bulan, alasannya? Karena Bu Maryam ingin menempati rumah tersebut. Meski itu bukan alasan utama, karena sebelumnya ia bilang akan menempati rumah sebelah, bukan rumah kami. Beberapa kali saya sempat dikomplain karena basecamp begitu kotor, rusak, dan tidak ada yang memperhatikan, bahkan pintu sering terbuka sendiri. Saya yang sudah tak tinggal disana tentu saja bingung, apalagi beliau juga bilang bahwa 3 bulan listrik tak dibayar. Sudah hampir mau diputus permanen oleh PLN (katanya). Padahal kami sudah serahkan pengurusan basecamp pada beberap orang yang tinggal di sana, tapi ada yang mengecewakan dan membuat kami semua repot. Uang listrik juga sudah diamanahkan, tapi ternyata amanahnya tak sampai. Entah bagaimana bilangnya, bahkan ia juga sudah pindah ke tempat lain tanpa pamit. Kami pun tak dapat menjelaskan apa-apa ke empunya kontrakan ^^. Jadilah, kami harus pindah, tanpa ada tawar menawar lagi. Hati begitu gelisah. Karena dalam tempo seminggu dan hanya ada waktu luang di hari Sabtu-Minggu, bagaimana bisa langsung bisa pindah? Tapi Allah berkehendak lain.

Awal Mula
Kontrakan itu kami gunakan untuk basecamp dengan berjuta rupa barang-barang ajaib yang dibutuhkan oleh anak-anak. Selain untuk tempat menyimpan barang, tempat untuk tidur dan shelter sementara anak-anak yang butuh sekolah, basecamp juga dibuat untuk perpustakaan gratis dan kelas belajar #KelasKpManggah yang dipimpin Ibu Suri Talitha.

Sudah hampir satu tahun saya tinggal disana bersama  teman-teman yang lain. Kami merawat anak-anak dan menyekolahkan mereka. Pernah sampai sepuluh anak, datang dan pergi, tapi kami senang hati menerima mereka. Sampai pada akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke keluarga mereka, dan hanya tinggal seorang-dua. Tapi begitulah kami bekerja. Pernah ada seorang kru Televisi yang baru bertemu saya sekali dan sudah mengamanahkan dua orang anak korban KDRT kelahiran Malaysia. Hingga saat ini, anak-anak tersebut masih dalam kontrol kami, meski sudah ada yang di Yayasan Rumah Yatim dan ada yang mau nyantri. Bagi kami, anak adalah titipan. Sesiapa yang tak bisa lagi dititipi, boleh dialihkan, demi masa depan si anak. Berlaku untuk orang tua zalim yang tidak bisa adil mengasihi dan mengasuh anaknya.

Terpaksa,
Karena sekarang saya sudah kerja dan tinggal di daerah terpencil di Kebon Jeruk, anak-anak harus ngungsi. Beruntung, ada yayasan yang mau mengasihi mereka dan bisa dititipi. Jadi, tidak ada tanggungan lagi. Tapi, tetap saja, Basecamp itu menyimpan banyak fungsi dan cerita.

Perpus Gratis, Kelas Gratis, Shelter Gratis
Kami merasa sangat beruntung karena Basecamp Save Street Child berfungsi banyak, harga terjangkau dan aksesnya lumayan mudah. Bentuknya seperti rumah biasa, dengan tiga kamar, satu dapur, satu kamar mandi, halaman juga ada jadi anak-anak bisa bermain dan bergelayutan di pohon dekat pagar yang membatasi daerah rumah kami dengan rumah yang lain.

Dalam basecamp itu, kelas belajar berlangsung empat hari seminggu. Ada kelas Bintang kecil (Usia PAUD-TK), Kelas Bintang Kejora (Usia SD 1,2,3), Kelas Bulan (Usia SD 4,5,6) dan Kelas Matahari (Usia SMP). Kami melayani kelas belajar untuk anak-anak di sekitar yang mayoritas berasal dari keluarga menengah kebawah secara ekonomi. Tugas utama kami adalah menyediakan pusat belajar yang dapat mengalihkan perhatian mereka dari aktivitas yang tak mendidik. Selain itu, seperti program “Kelas Belajar Save Street Child” lainnya, kami juga sering mengajak anak-anak perserta belajar untuk bertamasya secara edukatif. Ini sangat disambut baik oleh orang tua mereka.

Selain kelas belajar, kami juga menyelenggarakan perpustakaan gratis yang berbasis kejujuran. Perpustakaan itu terbuka, dan anak-anak boleh pinjam, dan mereka yang mencatat sendiri di kertas form yang sudah disiapkan. Buku-buku tersebut boleh dipinjam dan dikembalikan sesuai jadwal.
Fungsi utama basecamp adalah tempat tinggal saya tentunya dan anak-anak juga beberapa teman. Karena ada 3 kamar, cukup banyak manusia yang bisa tinggal di sana. Datang dan pergi. Itu sudah biasa. Patah hati berkali-kali, sudah biasa. Bagi saya, kehilangan anak-anak itu lebih-lebih sakit daripada putus cinta. Karena saya begitu mencintai mereka. Saya banyak belajar dari mereka.

Bumpy Road. Ah Life.
Sejak 2010, saya sudah mulai membiarkan anak-anak menggunakan kos di Mampang, Jakarta Selatan, sebagai shelter untuk mandi, makan, dan tidur. Ada dua anak awalnya, kemudian bertambah hinggal 2011, mereka ingin sekolah. Saya memutuskan untuk pindah ke Depok supaya anak-anak bisa bersekolah di Sekolah Master, Terminal Depok (yang saat ini sedang kritis hendak digusur itu). Bersama rekan saya, kami merawat mereka dengan kasih sayang. Dari rumah petak, akhirnya pindah ke rumah yang lebih layak untuk dihuni 11 orang. Basecamp SSC lah tempat kami berbagi lapar, canda, tawa dan air mata. Begitu banyak cerita di sana.

Alhamdulilah,
Dipertemukan dengan basecamp SSC tahun 2011, dengan biaya sewa yang tak jauh berbeda dari rumah petak kami awalnya, akhirnya kami putuskan pindah. Kenapa? Kami dikomplain oleh tetangga. Kami? Tentu saja saya yang dimaki-maki. Anak-anak hanyalah anak-anak, mereka tidak sadar bahwa energi mereka ternyata merugikan tetangga. 

“Ngasuh gelandangan sih boleh, tapi itu kok nggak mikir brisik banget…. Mau baik tapi kok ngga punya otak”. Kira-kira begitulah makian yang sering saya dengar. Awalnya nangis Bombay. Berasa ibu-ibu beranak banyak yang tidak becus mengurusi. Lama-lama kebal, berkat dukungan Mama dan teman-teman. Anak-anak juga sudah bisa diatur. Mereka boleh berlebihan melampiaskan energi pada jam setelah tidur siang. Yang saya tekankan pada anak-anak adalah menjaga harga diri mereka. Mereka boleh ditegur jika mereka salah, tapi mereka tidak boleh membiarkan diri mereka dihina karena mereka berbeda dari anak-anak kebanyakan. Anak-anak paham, dan mereka hidup normal, meski kadang kelebihan energi nya masih merepotkan. Hihi…..

Bisa dibayangkan ya, bagaimana seorang mahasiswa dengan uang pas-pasan hidup bersama sepuluh orang sebagai keluarga besar. Awalnya memang subsidi dari diri sendiri (kiriman uang orang tua), lama kelamaan, ada donatur, itu yang meringankan kami. Pernah suatu kali, kami hanya punya uang Rp,25.000 dan harus makan 3 kali sehari untuk 11 orang. Mau tak mau, suka tak suka, makan seadanya. Dan Alhamdulilah cukup. 

Mengalami kejadian-kejadian luar biasa bahkan sebelum membina rumah tangga sendiri membuat saya terlihat sepuluh tahun lebih tua. Jadi jangan kaget jika omongan dan muka saya memang terkesan tua hihi….

Saya cuma tersenyum kalau ada orang-orang mengeluhkan kesulitan hidup mereka. Saya pun pernah mengalami, bisik hati saya. Tapi, itulah tantangan seorang hamba, jika diberi cobaan akankah mengeluh atau malah bersyukur. Saya juga kadang mengeluh, manusiawi. Tapi, sadar bahwa, keluhan-keluhan itu malah membuang energi baik dan tidak memberikan solusi apapun. Akhirnya, bersyukur dan memilih bahagia.

Rumah Baru: Taman Siswa SSC
Flashback dari tahun ke tahun ternyata cukup menyita memori. Betapa banyak cerita-cerita yang terjadi. Save Street Child dan kehidupan saya tidak pernah terpisah. Selalu bersinergi. Sehingga sulit membedakan mana hal yang seharusnya personal, mana yang menyangkut organisasi. Bisa dipastikan, kehidupan sosial saya bersama teman-teman sebaya sangat payah. Karena Senin-Jumat saya harus bekerja di daerah terpelosok, dan Sabtu-Minggu saya bahagia menjadi pelayan, sesekali ambil cuti untuk ke luar kota atau sekedar jalan-jalan. Apa boleh buat. Ini hidup yang saya pilih. Daripada mengeluh, saya memilih untuk menjalaninya dan berbahagia (belum lagi kalau ada jadwal interview dengan rekan-rekan media cetak maupun televisi). Lucu. Tapi, memang itulah hidup. 

Sekarang?
Kami menemukan rumah baru, meski tak sebesar yang dulu. Dengan biaya lebih murah, rumah tersebut kami namai “Taman Siswa SSC”. Meski anak muda, kami ini romantis, kami suka hal-hal yang kuno. Taman Siswa mengingatkan kami akan cikal bakal sekolah yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara. Mila yang memulai, kami mengamini.

“Taman Siswa SSC” ini sederhana. Hanya ada dua sekat kamar, kamar mandi, dan halaman mungil. Tapi entah kenapa, saya mencintai rumah ini sejak pertama ketemu.
Letaknya tak jauh dari Basecamp SSC yang lama, satu gang lebih awal, meski tak ada tempat untuk parkir mobil. Tapi kami bahagia. Kami menemukan rumah itu setelah tiga jam melanglang di sekitaran Depok. Begitu nemu, langsung dibayar, langsung pindahan. Bahkan tanpa sewa pick-up maupun truk. Teman-teman sangat kreatif dan tanpa modal. Mereka meminjam gerobak pemulung yang tetanggan sama kami.
Bersyukur sekali.
Awalnya saya pikir isu pindahan ini sangat memakan energi dan waktu, ternyata sangat salah. Sampai pukul  5 sore kami selesai drop barang di rumah baru, kami menyiapkan buka bersama adik-adik #KelasKpManggah. Menyenangkan! Betapa hari itu barokah.
Ini adalah tulisan blog terpanjang yang pernah saya buat. Dan tulisan ini akan saya rekomendasikan pada teman-teman wartawan yang ingin mengetahui bagaimana perjalanan hidup tentang anak-anak dan Save Street Child dalam skup kecil. Hihi….

Terima kasih sudah membaca.
Saat ini, yang hanya bisa kita rasakan adalah kebahagiaan. Karena semua itu sudah terjadi. Hanya bisa senyum. Melihat ke belakang, betapa bodoh kita, betapa suka marah-marah, makin hari makin dewasa, makin hari makin ngerti. Ah. Life.

 Gallery

 Gambar 1: Ribuan rupa barang-barang yang harus diangkut

 Gambar 2: Kru bekerja sambil setengah pusing

 Gambar 3: Mila dan Rak Buku kami yang harus ditinggal. Ini buatan Ayahku :")

Gambar 4: Kru masih sempat rapat Hari Anak SSC ditengah kesibukan pindahan

 Gambar 5: Berpose bersama di depan rumah baru "Taman Siswa SSC"

Gambar 6: Berbuka puasa bersama setelah pindahan bareng adik2 #KelasKpManggah


Gambar 8: Keluarga besar yang bahagia


Gambar 9: Adit, satu-satunya anak yang tersisa dari 10 anak. Sekarang dia di Pesantren Master



Gambar 10: Endang, Saipul dan Ondet. Anak Malaysia. Masih dibawah pengawasan kami









Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More