Menerima Penghargaan Tupperware She can Award 2013

Tupperware SheCAN! Award 2013, penghargaan untuk 89 orang yang menginspirasi Indonesia dengan karya-karya sosial mereka

Menerima Penghargaan Indi Women Award 2013

21 Perempuan Inspiratif Menerima pengharagaan "Indi Women Award" dari PT. Telkom Indonesia, dihadiri oleh Ibu Linda Gumelar, Menteri Peranan Wanita. Bagian saya, Socio Activist untuk Save Street Child

Crowd Funding Projects

Kita bisa keroyok project-project sosial ini bersama-sama untuk masa depan yang lebih baik. Gabung sekarang! ^^

Bersama Sarah Sechan dan Keluarga Save Street Child

Talk Show di NET TV bersama Sarah Sechan. Adik-adik ternyata sudah berbakat sebelum ditraining jadi host TV!

Kumpulan Puisi

Kumpulan puisi-puisi karya sendiri atau saduran dapat dibaca disini

Rabu, 30 April 2014

Get REAL: Cara Galang Dana yang Efektif dan Menyenangkan!



Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi website FundraisingCoach.com, yang diampu oleh Marc A. Pitman. Website ini mengajarkan teknik-teknik cara melakukan penggalangan dana dengan spektakuler! Ternyata, tidak hanya modal kepedulian saja, lho. Tapi juga kudu mengerti strategi dalam melakukan penggalangan dana supaya mencapai target.

Jika sudah mulai mengembangkan yayasan, seperti saya dan teman-teman di Save Street Child, dana menjadi isu penting. Apalagi jika sudah merumuskan anggaran tahunan yang nilainya tentu ratusan juta rupiah! Segala pengeluaran organisasi dikalkulasi hingga mencapai target program yang dikerjakan pada tahun tersebut. Ini sungguh suatu tantangan yang luar biasa.

Dalam website tersebut, Pitman, menerangkan bahwa dalam menyusun sebuah strategi penggalangan dana harus Get R.E.A.L, apa saja itu?

Research (Riset)
Sebelum memulai aktivitas penggalangan dana, tentu harus riset dulu: seberapa besar dana yang harus digalang setiap tahunnya?

Ini penting untuk menentukan jumlah valid yang harus diraih. Setelah melakukan riset terhadap kebutuhan dana, hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah menyusun taktik sederhana tentang target pendapatan per orang. Saya sendiri pernah melakukan projek kecil-keclan untuk menyokong modal kerja seseorang senilai 2 juta, dan mentargetkan untuk mencari 20 orang yang mau berdonasi sebesar 100rb. Dan tentu saja, berhasil! Ketika donatur mengetahui bahwa sudah ada patokan nilai donasi, mereka akan lebih mudah untuk berpartisipasi dan ikut menyebarkan ke teman-teman mereka ketika isu tersebut dinilai penting.

Selain itu, selalu ingat untuk menuliskan nama-nama kenalan prospektif yang bisa membantumu mencapai target: entah itu orang kaya, atau orang berpengaruh yang bisa mengajak teman-temanya untuk berdonasi, atau keluarga. Jika tim anda masing-masing menuliskan 5 nama yang prospektif dan bekerja dengan serius, maka, lingkaran kecil tersebut akan membesar dan target penggalangan dana anda akan tercapai! Bagaimana mengidentifikasi orang-orang prospektif ini? Pitman menyarankan untuk melakukan CPI ScreeningCapacity (kapasitas), Philantrophy (filantropi) dan Interest (Tertarik).

Kapasitas: Apakah orang tersebut memiliki kapasitas finansial untuk melakukan donasi?
Filantropi: Apakah orang tersebut murah hati dan suka berdonasi di lembaga-lembaga amal?
Tertarik: Apakah orang tersebut tertarik terhadap isu yang ada di organisasimu? Kamu bisa cari tahu dengan melihat-lihat lembaga amal yang biasa mereka sokong.

Engage: Terlibat
Menjadi seorang penggalang dana (fundraiser), tidak hanya tentang mencapai target dan jualan asa. Tapi, ini juga tentang menjalin hubungan dengan manusia. Bersikaplah empatik, sebelum mulai menanyai apakah mereka ingin berdonasi, ajaklah mereka ngobrol dan dengarkan mereka seperti seorang sahabat. Pahami bagaimana kisah hidup mereka, ketertarikan mereka, dan tentu saja tujuan hidup mereka. Ini akan menyamankan calon donor dan tentu saja, setelah itu, kamu bisa menceritakan tentang isu dan ceritamu mengapa isu yang akan mereka dukung itu sangat penting.

Ask: Bertanya
Banyak orang yang bingung dan tidak bertindak (dan berdonasi) karena mereka tidak ditanyai! Ya. Jangan sungkan. Setelah mencairkan suasana dengan bertukar cerita, tentu saja kita harus melakukan tujuan utama: penggalangan dana.

Saran saya, kamu bisa menanyai mereka seperti: “Anda bisa investasi 3 juta untuk 3 tahun di pendidikan anak jalanan ini. Dana anda nanti akan digunakan oleh 1 orang anak untuk melanjutkan sekolah. Dan tentu saja, ini adalah investasi sosial berjangka panjang.”

Love: Mencintai
Mencintai disini artinya benar-benar mencintai donor anda dan pekerjaan anda. Penggalangan dana adalah tentang hubungan antarmanusia. Akan mudah jika calon donor anda bilang “ya” dan mau berdonasi, namun, akan terlihat lebih sulit dan kadang bersifat personal jika calon donor menolak.

Jika calon donor anda menolak untuk berdonasi dan anda tetap tenang, maka mereka akan menghargai ketenangan anda, dan kemungkinan mau untuk didekati kembali di masa depan.

Penolakan tersebut belum tentu bersifat personal, karena bisa jadi tidak disampaikan di saat yang tepat. Bisa jadi calon donor tersebut sedang mengalami defisit finansial atau kebutuhan yang sangat besar ketika anda menawari donasi. Jadi, jangan berputus asa.

Jadi, sudah siap untuk menggalang dana secara cermat?
Selalu ingat bahwa ada kata FUN di FUNDRAISING ya :)

Senin, 28 April 2014

Berburu Sampah di Kelas Save Street Child


Halo! Senang sekali akhirnya saya bisa mengisi blog ini lagi. Maaf agak lama untuk menulis lagi, saya tadi harus membersihkan sarang laba-laba saking lamanya blog ini ditinggal.. Hihi…

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi pengalaman setelah bermain dan bersenang-senang dengan adik-adik dari #KelasKpBeringin Save Street Child, Sabtu (26/04) lalu. Setelah dari Posko ODOS untuk rapat perencanaan transformasi gerakan tanggap bencana tersebut menjadi institusi berbadan hukum, saya bertolak menuju ke Kampung Beringin, Pondok Cina, Depok.

Di antara deretan lapak pemulung, ada gang kecil yang pasti penuh anak-anak jika anda melewatinya pada pukul 4 sore sampai 6 petang. Rumah kontrakan salah satu warga dijadikan pusat belajar oleh Save Street Child.

Karunia Dwijayanti, yang pada sore itu sedang berulang tahun, adalah kepala sekolah Kelas Kampung Beringin (Selamat ulang tahun, kak Nia!). Dia adalah seorang yang sangat ramah dan baik, serta berkepribadian hangat. Tak ayal, anak-anak mencintainya. Relawan pengajar yang membantu Kak Nia (begitu kami menyebutnya), adalah Kak Indy, Kak Kafi, Kak Ipung, Kak Fina, dan masih banyaaak lagi. Saya nggak hapal. Karena memori otak saya belum di-defrag. Masih penuh dengan kenangan masa lalu *ditabok*

Kelas Kampung Beringin adalah kelas yang sederhana dengan piranti-piranti mengajar ala kadarnya, namun, diselenggarakan dengan penuh cinta setiap minggunya. Saya sangat beruntung bisa menghabiskan sore yang sejuk bersama adik-adik dan kakak-kakak yang penuh semangat.

Jadi ya…..
Kepikiran banget untuk mencipta sebuah permainan yang bisa melatih ketangkasan dan kreativitas anak-anak. Di suatu malam yang agak dingin, karena, Jakarta sedang musim hujan…. Saya menghubungi Kak Nia melalui aplikasi chat di handphone dan menawarkan diri untuk mengajar.

Alhamdulilah, proposal saya diterima, saya pun bersemangat untuk mempersiapkan materi pengajaran untuk Sabtu sore mendung tadi.

Saya pun menciptakan permainan klasik yang bisa dilakukan siapa saja. Namanya adalah: TRASH-SURE HUNT!

Iya, “treasure” itu harta karun kan ya? Nah, kalau diganti jadi “trash” artinya, kudu dicari dari sampah-sampah… Hehe…. Adek-adek awalnya sebel, tapi akhirnya mereka berlomba-lomba memilah sampah yang ada di sekitar. Hihi….

Barang penunjang yang dibutuhkan untuk “Trash-sure Hunt” adalah:

1)      Lem Fox

2)      Kertas HVS


3)      Crayon/Spidol/Pensil Warna


4)      Sampah-sampah yang dikumpulkan anak-anak
5)      Imajinasi

P.S:
Kakak-kakak relawan tak perlu memberi contoh pada anak-anak, karena, contoh dari kamu itu nantinya jadi standar pengerjaan prakarya, anak-anak jadi tidak bebas mengeksplorasi imajinasi mereka.
Selamat mencoba ya!
Dan,
Selamat dikomplain anak-anak yang tangannya lengket karena lem PVC ahaha….

Gallery
 Foto 1: Sebelum mulai berburu, saya memberi brief singkat pada anak-anak.

Foto 2: GO! Anak-anak mulai berburu sampah

Foto 3: Proses pengerjaan prakarya,"Kak..lengket kaak". Yaudah.

 Foto 4: Ini hasil karyaku! Judulnya "Aku dan Rumahku"

  Foto 5: Ini hasil karyaku! Judulnya "Wajah"

 Foto 6: Ini hasil karyaku! Judulnya "Seorang anak di Rumahnya"

  Foto 7: Ini hasil karyaku! Judulnya "Rumah Kipas"

 Foto 8: Ini hasil karyaku! Judulnya "Rumah Pohon"

  Foto 9: Ini hasil karyaku! Judulnya "Kota"

 Foto 10: Ini hasil karyaku! Judulnya "Senyum"

 Foto 11: Ini hasil karyaku! Judulnya "Desa"

  Foto 12: Ini hasil karyaku! Judulnya "Bunga" dan "Pohon"

 Foto 13 Ini hasil karyaku! Judulnya "Televisi"

Mencintai Anak dengan Didikan yang Benar*



Menjadi orang tua berarti menjadi individu yang tak lagi egois. Karena, pada fase tersebut, kita sudah dititipi buah hati yang harus diasuh dengan sebaik-baiknya. Sebaik-baiknya disini berarti, harus bisa diusahakan. Kalau nggak ngerti, ya nanya... Kalau nggak tau nanya siapa, ya cari info dari mana aja. Kesiapan mental bisa jadi isu utama dalam peran kita sebagai orang tua. Oleh karena itu, tak heran, pernikahan perlu perencanaan, tentu saja hal ini terkait dengan kenaikan fase yakni menjadi orang tua.

Beberapa waktu ini, sungguh sangat ironis, banyak kasus pedofilia yang ramai dibicarakan di media. Ini tentu menjadi pematah hati para orang tua,"Gimana kalau si korban itu adalah anak kita?". Mau dibawa kemana perasaan yang remuk redam, mendapati bahwa, anak yang disayang-sayang diperlakukan tak senonoh oleh penjahat?

Nah,
Saatnya membekali diri sendiri dengan ilmu-ilmu, jurus-jurus, dan antisipasi demi anak.
Sebelum ke sana, ada baiknya para orang tua memahami dulu fase tumbuh kembang anak untuk mengoptimalisasi pengasuhan. Bukankah, antisipasi lebih baik? Anak yang disayang dan diasuh secara tepat, akan memiliki daya survival yang lebih kuat dibanding anak yang kurang kasih sayang.

Saya memang belum menjadi orang tua, tapi setidaknya, saya pernah mengasuh anak-anak..Nah, catatan ini juga saya bagikan ke anda sekalian sebagai tambahan referensi. Tentunya, masih banyak psikolog anak, pakar anak, dokter anak, dan segala macamnya yang bisa dimintai nasihat dan pertolongan jika terjadi sesuatu pada anak anda.

Waktu berharga pengasuhan anak:

7 tahun pertama (0-7 tahun):
Perlakukan anakmu sebagai raja.
Zona merah - zona larangan
jangan marah-marah, jangan banyak larangan, jangan rusak jaringan otak anak.
Pahamilah bahwa posisi anak yang masih kecil, saat itu yang berkembang otak kanannya.

7 tahun kedua (7-14 tahun):
Perlakukan anakmu sebagai  atau tawanan perang.
Zona kuning - zona hati-hati dan waspada.
Latih anak-anak mandiri untuk mengurus dirinya sendiri, mencuci piring, pakaian, setrika, dll.
Banyak pelajaran berharga dalam kemandirian yang bermanfaat bagi masa depannya.

7 tahun ketiga (14-21 tahun):
Perlakukan anak seperti sahabat.
Zona hijau - sudah boleh jalan.
Anak sudah bisa dilepas untuk mandiri. Mereka sudah bisa dilepas sebagai duta keluarga.

7 tahun keempat (21-28 tahun):
Perlakukan sebagai pemimpin.
Zona biru - siap terbang.
Siapkan anak untuk menikah.

Pada masa anak-anak yang berkembang otak kanannya. Otak kiri berkembang saat usianya menjelang 7 tahun. Anak perempuan keseimbangan otak kanan dan kirinya lebih cepat. Sedangkan anak laki lebih lambat. Keseimbangan otak kanan dan kiri pada anak laki-laki baru tercapai sempurna di usia 18 tahun, sedangkan anak perempuan sudah cukup seimbang otak kanan dan kirinya di usia 7 tahun.
Luar biasa ya perbedaannya?

Ternyata ada rahasia mengapa perbedaan perkembangan laki-laki dan perempuan sedemikian timpangnya.

Laki-laki dipersiapkan untuk jadi pemimpin yang tegas dalam mengambil keputusan. Untuk itu, jiwa kreatifitas dan explorasinya harus berkembang pesat. Sehingga pengalaman itu membuatnya dapat mengambil keputusan dengan tenang dan tepat.

Sementara perempuan dipersiapkan untuk jadi pengatur dan manajer yang harus penuh keteraturan dan ketelitian.

Untuk memberi intruksi pada anak, gunakan suara Ayah. Karena suaranya bass, empuk dan enak di dengar.

Kalau suara Ibu memerintah, cenderung melengking seperti biola salah gesek. Itu bisa merusak sel syaraf otak anak. 250rb sel otak anak rusak ketika dimarahin.

Solusinya, Ibu bisa menggunakan bahasa tubuh atau isyarat jika ingin memberikan instruksi.
Suara perempuan itu enak didengar jika digunakan dengan nada sedang. Cocok untuk mendongeng atau bercerita.

Cara berkomunikasi yang efektif dengan anak:
1. Merangkul pundak anak sambil ditepuk lembut.
2. Sambil mengelus tulang punggung anak hingga ke tulang ekor.
3. Sambil mengusap kepala.
Dengan sentuhan ada gelombang yang akan sampai ke otak anak sehingga sel-sel cintanya tumbuh subur.

Silakan dicoba ya :)


*Catatan ini didapat dari seminar “Smart Parent Smart Children” yang diadakan di Has Darul Ilmi 12 April 2014. Dengan Pembicara Bunda Kurnia Widhiastuti dari Sygma Parenting Community. Saya sendiri memperoleh dari kawan, Bunda Pradipta Ayu Andini. Semoga bermanfaat. Silakan disebarkan jika perlu.


Senin, 14 April 2014

Untuk Lelaki Yang Sedang Menanti Pelukan


Kudengar samar-samar, ponselmu menyenandungkan ”Payung Teduh”.
Liriknya menceritakan tentang perempuan yang sedang ada dalam pelukan.
Setelah menyelesaikan pembicaran telepon, seketika matamu menangkap pandangku.
Kemudian keduanya berbinar sambil memandangku kembali dari pantulan cermin sebelah.
Apakah kau malu jika beradu pandang denganku?
Aku paham.
Lalu kau segera menyelesaikan hidanganmu. Tanpa berkata apa-apa.
Kau taruh lembaran puluhan ribu dan recehan sambil menunjuk pada mejaku sekali, kemudian pergi.
Siapa namamu?
Bolehkah aku menjadi perempuan istimewa itu?



Minggu, 13 April 2014

Suatu Hari Nanti, Aku Akan Jatuh Cinta



Suatu hari nanti, aku akan merasakan kembali yang namanya jatuh cinta.

Jatuh cinta yang terbuat dari kehangatan sampai ke arteri dan pembuluh jantung, hingga memenuhi rongga-rongga dada yang menyesakkan namun membikin haru mata.

Jatuh cinta yang mengantarkanku pada bayangan tentang angkasa pada suatu hari senja.

Hari dimana burung-burung yang bermigrasi tunduk lelah pada cahaya pendar yang sejenak akan padam.

Hari dimana orang-orang pulang menuju peraduan, hingga malam menjelang.

Kemudian,

Aku akan menjemput pelukan dalam rengkuh bahu bidang, dengan segurat pesan bahagia lewat senyuman.

Kau pun akan membisikiku lembut sebagai pengantar akhir kecupan “Mari, sayang, pejamkan mata, hidupkan asa. Esok, kita sambut hari lain yang lebih bahagia.”

Dan,

Aku akan mendoakan seluruh semesta dengan berkat-berkat kebahagiaan, karena, bahagiaku bersamamu, dan cintaku, adalah, mendoakan keseluruhan alam untuk menjagamu dengan baik.

Suatu hari nanti,

Namamu menjadi bait terlantun dengan khusyu, sederet dengan ibu, ayah, adik dan semua orang terkasihku yang kutitipkan padaNya.

Suatu hari nanti, kamulah yang akan buatku jatuh cinta.
Bandung, 14 April 2014


Jumat, 11 April 2014

Tempat Persembunyian Paling Aman


Langit sedang gelap mendung. Hujan tumpah, seperti air mata dewa yang tangannya teriris kapak oleh kekasihnya. Mungkin, rasa terkhianati lebih menyakitkan dari kehilangan tangannya yang bisa ditumbuhkan lagi. Dewa-dewa memang seperti itu. Ia teramat sakti, namun, karena kadang menjelma menjadi manusia untuk mengawasi umatnya, Dewa sering lupa untuk mengembalikan wujud menjadi Sang Hyang.

Dewa terkadang masih menyimpan sifat-sifat kemanusiaan, memiliki hati, yang seharusnya tidak disertakan ke dalam perwujudan ilahiah.

“Benarkah seperti itu? Darimana kau tau?”

“Aku mengarangnya”

Sore ini, langit gelap mendung. Dan hatiku sangat cemas. Entah apa yang kucemaskan. Mungkin ini efek dari sindrom menstruasi atau semacam itu, aku juga tak pernah percaya. Setauku, menstruasi memang bagian dari perlengkapan reproduksi perempuan, yang, seharusnya, Tuhan ngerti kalau perempuan kadang tidak mood untuk menjalani proses menstruasi.

Seandainya di awal penciptaan perempuan ada formulir opsional untuk proses menstruasi, aku akan mengisinya. Selama setahun, aku setuju untuk melakukan proses menstruasi sebanyak enam kali. Jadi, aku bisa ambil libur tiap dua bulan sekali.

Kau tau nggak gimana rasanya? Rasanya melelahkan! Kami harus berjalan lebih lambat dan mengalami nyeri di sekitar perut, sambil kadang harus mengurangi jajan untuk membeli pembalut. Harganya mahal-mahal sekarang, apalagi yang bergambar hello kitty. Kenapa juga kapas penyumpal darah buangan segala dipercantik dengan gambar kucing jepang begitu, aku nggak ngerti.

“Apa yang kau cemaskan?”

“Aku kan sudah bilang, nggak tau.”

Tapi sebetulnya, aku agak mumet dengan kredit rumah.

Seharusnya memang aku tak usah ambil kredit rumah terlalu cepat. Kata Ibuku, anak muda penting untuk memikirkan masa depan. Aku jawab, apakah itu kematian? Dia bilang aku bodoh, dan terlalu serius dalam menjalani hidup. Lalu ia mengempit dompet ke dalam sempilan payudaranya yang menyembul dari balik kebaya tua. Aku ingat, kebaya itu kubelikan setahun lalu dari gaji pertama. Lalu, ia akan mulai mengoceh tentang menjadi perempuan yang bernilai mahal. Ibuku memang kuno dalam hal berpakaian, tapi, pandangannya begitu kekinian kalau menyangkut soal pernikahan. Sejak umur delapan tahun, aku sudah direncanakan untuk dinikahkan, tapi harus jual mahal, dengan anak juragan kelontong desa sebrang. Saat itu umurnya lima tahun diatasku. Ibu memanipulasi diriku sedemikian rupa sehingga aku terlihat sangat cantik dan bodoh. Padahal aku juara matematika tingkat kecamatan. Tapi, katanya, perempuan pintar itu menakutkan bagi laki-laki. Mereka akan merasa minder dan menggebuki istrinya yang pintar karena selalu mengoceh pagi, siang, malam. Kalau tidak seperti itu, perempuan pintar akan dijauhi dan akhirnya tak dapat pasangan dan menjadi perawan tua. Tentunya itu akan menjadi aib keluarga. Makanya, aku tak boleh terlalu pintar dan harus menjaga penampilan.

Tak lama, ibuku berhasil juga meyakinkan calon besannya bahwa aku memang gadis bodoh yang sangat cantik, dan bisa menyusui anak dengan baik melalui payudaraku yang penuh dan sintal. Ibuku selalu membanggakan bawaan fisikku yang tentu saja merupakan warisan genetik darinya.

Meski ibu bodoh, tapi tubuh ibu adalah tubuh yang diidamkan baik laki-laki dan perempuan, kau harus mensyukuri itu.

Kalau sudah bilang begitu, aku sebetulnya bersyukur pernah memiliki ayah yang rajin dan selalu mengajariku sehingga aku mengerti hitung-hitungan dan ilmu tentang bumi. Sayang, ayahku pergi mengejar perempuan lain. Kami pun ditinggalkan.

“Ibumu menarik ya?”

“Iya. Dia bodoh, ambisius, tapi sangat cantik. Orang-orang memanggilnya Mbok Rondho Wangi, artinya Janda Wangi”

“Hush, nggak boleh ngomong gitu. Lalu kenapa kau tak jadi menikah?”

“Cowok itu gantung diri. Dia udah naksir cewek lain, katanya”

“Menyedihkan sekali, ya, kalian ini. Korban orang tua.”

“Tidak. Aku yang menyedihkan. Dia sudah mati. Dia sudah bebas”

Bertahun-tahun kami dirudung malu karena gagal menggelar resepsi. Kami? Maksudku, ibuku. Aku malah senang. Usiaku saat itu baru dua belas tahun. Aku lebih tertarik pada penemuan bintang jatuh di sudut Amerika nun jauh di sana. Aku penasaran. Kenapa bintang bisa jatuh, ya? Lalu temanku bilang, mungkin tidurnya kurang ke tengah. Dan itu nggak lucu sama sekali. Sejak komentarnya yang begitu bodoh itu, aku tak mau main bareng dengannya.

“Jadi itukah yang kau cemaskan?”

“Entahlah, mungkin juga”

“Toh ibumu sudah tiada, kau tak perlu cemas apa-apa lagi, kan?”

Memang benar. Aku sebatang kara sekarang. Aku pun menjadi mengerti, kenapa ibuku sangat ngotot menjodohkanku, ia mengerti bahwa, kehadirannya tak lama lagi di dunia ini. Ia menderita kanker rahim. Tapi, aku juga nggak begitu paham, bisa jadi karena dia takut aku hidup sebatang kara, atau dia takut tidak ada yang mengurusi warisan dari kakek. Jangan sampai harta pindah tangan ke keluarga ayahku, maksudnya.

Aku tidak begitu peduli dengan harta.

Aku lebih peduli kenapa aurora borealis tidak ada di Indonesia.

Aku begitu jatuh cinta pada gejala alam dan studi-studinya.

“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

“Aku mau pinjam payung. Kemungkinan hari akan hujan”

Aku akan menikmati waktu senggang dengan membaca jurnal-jurnal ilmiah lalu menuliskannya kembali ke blog pribadiku. 

Cuma itu duniaku. 

Dan aku bahagia.


Rabu, 09 April 2014

Nyanyian Angin (Bagian Satu)


1
Apakah kau tau? 

Ah. Pasti kau tak tau.

Aku kasih tau, ya.

Angin.

Kau tau angin?

Haha. Bukan. Bukan angin dari perutmu itu.

Ini aku lagi mau cerita tentang angin, kau tau? Yang biasa berembus sepoi-sepoi mengenai wajahmu yang kisut kena terik, dan menjadikannya segar kembali seperti tanaman kesiram air.

Bagus tidak?

Tapi ini rahasia, ya?

Sebetulnya angin adalah melodi alam.

Kau tau?

Ah. Pasti kau tak tau.

Makanya, ini aku kasih tau.

“Hei, kau! Jangan banyak bicara, ayo kerja!”

Oke. Besok aku lanjutkan lagi ceritanya, ya.
2
Kemarin sampai mana ceritanya?

Oya, sampai aku menjelaskan tentang angin itu melodi alam.

Iya. Angin itu adalah nyanyian.

Sebetulnya, ia bernyanyi, dan cuma kulitmu yang bisa mendengarnya.

Kau tau kan? Itu yang bikin kulitmu segar kembali.

Bagus tidak?

Nyanyiannya beragam dan ia punya klasifikasi dalam bernyanyi sesuai dengan pendengarnya.

Klasifikasi ini berdasarkan jumlah kulit-kulit yang bersedia untuk mendengar.

Pasti kau tak tahu kalau kulitmu itu ganjen, ya?

Haha. Iya, mereka haus nyanyian.

Kalau kulit orang Indonesia, sih.... Biasanya mereka suka nyanyian mini dengan tingkat suara tennor.

Aku kasih tau, ya.

Kalian kan suka ngatain bule, ya?

Nah, bule-bule ini lebih suka nyanyian sopran.

Hihi, mereka emang aneh. Padahal, nyanyian sopran ini biasanya mendekati badai.

Ngomong-ngomong tentang badai, itu sebetulnya bukan bagian dari angin seperti kami.

Di negri angin sendiri, badai dan topan termasuk aliran pembelot. Seperti kalau di negrimu itu orang-orang ‘kiri’, ya? Hihi.... Nah, di negri angin ini, merekalah angin-angin ‘kiri’. Tapi, sebetulnya aku kurang setuju, sih. Aku juga suka membaca. Dan, menurutku, aliran ‘kiri’ itu memberontak terhadap kemapanan sistem yang tidak adil. Bukan semata-mata berbuat kerusakan. Gitu nggak, sih? Nah, kalau badai dan topan ini, mereka emang sengaja banget berbuat kerusakan. Nggak salah juga, sih. Mereka emang ditugaskan seperti itu. Apa boleh buat, namanya juga kerjaan, ya kan?

Beberapa waktu lalu, aku mendengar berita.

Banyak orang menyalahkan kami karena Topan Haiyan, di Filipina.

Sumpah. Itu bukan angin-angin seperti kami, itu si pembelot. Mereka sebetulnya sedang melakukan rencana untuk memperburuk citra angin di mata manusia. Dan ini membuat kami semua sedih. Kami tak pernah ingin berbuat jahat pada manusia, justru kami ingin menolong mereka. Tapi, badai dan topan bersekongkol untuk berbuat kerusakan, dan akhirnya, manusia akan marah dan tak sudi lagi mendengarkan nyanyian kami.

“Bu, kalau misal manusia tak lagi butuh nyanyian kita, bagaimana?”

“Kita akan berubah menjadi debu, nak”

Begitulah.

Dalam satu tahun, setidaknya, kami harus bernyanyi sebanyak dua ratus kali dan berkeliling selama enam bulan tanpa pulang ke rumah untuk menyelesaikan tugas. Kadang juga harus menggantikan tugas kawan lain yang sudah menjadi debu karena tak berhasil mengumpulkan poin tersebut. Itu membuat kami harus bekerja keras.

Penduduk di negri angin saat ini kian terkikis.

Banyak diantara kami yang sudah menjadi debu, karena tak banyak lagi orang yang mau mendengarkan dan menikmati nyanyian angin.

Inilah masa-masa yang diharapkan oleh badai dan topan untuk mengambil-alih kerajaan dan memimpin dengan tirani.

Ramalan Kingtone mengatakan, dua ratus abad lagi, angin-angin akan punah dan dunia ini akan menuju kehancuran karena badai dan topan membentuk kesatuan untuk memimpin dengan tiran, dan menghancurkan dunia dengan amukan.
(bersambung)



Selasa, 08 April 2014

Anomali


1
“Aku benci banget deh, sama cowok” dengusnya gusar. Sesekali ia melihat layar ponselnya dan berharap seseorang menghubunginya. Setidaknya, itu yang kulihat pada diriku dulu, ketika pertama kali jatuh cinta.

“Memangnya kenapa sih?” aku mencoba mengajaknya berbicara. Sedari tadi kami hanya berhadapan, dan meminum kopi masing-masing, tanpa membicarakan hal penting. Aku lebih banyak menghitung deretan lukisan yang menggantung di dalam kedai, ia lebih banyak menggumam dan memandangi layar ponsel seakan menunggu undian berhadiah dan membawa pulang mobil tanpa dikenakan pajak, semua orang pasti suka.

“Cowok ini, seenaknya aja, habis nidurin aku, nggak ngasih kabar sama sekali. Kalau aku hamil, gimana? Mana pertanggungjawabannya?”

“Ya tapi kamu kan nggak mungkin hamil”

“Siapa bilang? Kalau Tuhan berkehendak? Aku bisa apa?”

Ia masih terlihat kesal, sembari terus menyesap kopi, tak tampak sedikitpun guratan kepuasan dari mimik wajahnya. Padahal, kopi adalah minuman favorit Rino.

“Aneh kau”

“Biarin. Pokoknya aku sebel sama cowok”

“Lah, kau pun cowok”

“Cowok. Duh, beb. Cowok yang cowok gitu, deh..... Ah, kamu tuh nggak ngerti”

Aku terkekeh, dan menepuk dahinya dengan gemas.

“Coba ceritakan, gimana kau kesal dengannya”

“Apa? Nggak ah. Private. Praaayvet, ngerti. Huh”

“Baiklah”

Aku pura-pura tak peduli. Biasanya, kalau begini, Rino akan mulai menahan nafas. Kesal. Lalu bercerita karena sebenarnya ia juga ingin bercerita, tapi ia akan marah, kenapa aku tak memaksanya dengan sungguh-sungguh. Lalu dia pasti akan mengumpat....

“Dasar perempuan eskimo, gini ya...aku ceritain...”

Benar kan.

“Namanya Toni. Bodinya sekeren Tony Starks, gitu deh”

“Tony Starks, siapa?”

“Yaampun. Ini anak dari kampung mana, sih. Iron Man.”

“Okay”

“Gitu. Aku awalnya nggak ngerti juga kalau dia juga gay. Dia itu pacarnya sahabat temanku. Linda. Kami ketemuan beberapa minggu lalu di salon. Linda sama sahabatku, nyalon, aku cuma maskeran sebentar, lalu menemani Toni menunggui Linda. Sahabatku namanya, Jane. Tapi dia tak terlalu penting. Nah, si Toni ini tiba-tiba mengajakku ngobrol. Lalu, kami tiba-tiba klop aja gitu beb”

“Okay”

“Nah, beberapa hari setelah pertemuan kami di salon itu, Toni mengajakku jalan, dalihnya, mau beliin Linda kado buat annivesary mereka gitu”

“Lalu?”

“Ya gitu beb. Pas di mobil, dia itu ngerangsang-ngerangsang aku. Aku kan kaget! Aku pikir, ini cowok gimana sih, udah punya pacar, lagian......kok tiba-tiba gitu. Aku sebenernya udah naksir sih, sama Toni. Tapi, aku nggak berani, dia kan pacarnya Linda”

Ditengah-tengah tumpahan cerita Rino, tiba-tiba pelayan kedai menyodorkan kentang goreng yang tidak kami pesan. Tapi Rino langsung menerima dan bilang kalau nanti dia yang bayar. Kebetulan, buatku. Ini seperti menonton film bioskop hanya saja tanpa adegan banyak-banyak, hanya monolog. Yasudah, setidaknya aku punya kentang goreng dan kopi. Hidupku sesederhana itu untuk berbahagia.

“Sampai mana tadi?” Rino menyomot kentang goreng dan mencocolkannya pada saus sambal sedikit. Ia tak begitu suka pedas, tapi, sepertinya, ada dosa kolektif jika makan kentang goreng tanpa dicocolkan ke saus. Sepertinya Rino penganut paham itu. Setidaknya, ia bisa minta dibawakan saus tomat saja.

“Kamu dirangsang di mobil”

“Iya gitu, beb. Terus yaudah. Kejadian deh” Rino mengubah mimik antara sedih campur bahagia. Anak itu emang jago main peran.

“Bilang aja suka.... Pake sedih segala,” celetukku sambil melemparkan beberapa kentang ke arahnya. Rino manyun dan mendengus sebal lalu mengambili kentang tadi dan langsung membuangnya ke tempat sampah.

“Suka sih, tapi kan dia pacar orang”

“Lalu, gimana si Linda?”

“Apaan sih, beb. Kok langsung nanyain Linda? Aku dulu kek ditanyain gimana perasaannya”

“Iya, iya, sori. Jadi kamu gimana, beb?” Aku mencoba menirukan logatnya dan seketika membuatku mual. Rino tak kalah muak dengan tingkahku.

“Jangan bikin aku muntahin kentang goreng enak ini, deh, beb. Ya..pokoknya, setelah kejadian itu. Dia nggak menghubung-hubungi aku lagi”

Aku mengangguk. Memetakan kembali tebakanku yang ternyata tepat. Benarlah Rino sedang jatuh cinta. Toni, nama yang dikaguminya.

“Sekarang kamu gimana?”

“Kangen, cemas, merasa bersalah”

“Aku ngerti” aku memeluknya dan mencolekkan sambal sedikit ke hidungnya. Rino mengumpat. “Sabar ya....”

Ia mencolekkan sambal ke hidungku sebagai pembalasan dendam.

Tak lama, ponselnya berdering.

Setengah terkesiap, Rino mengangkatnya, tanpa gairah.

Ia mendadak menghambur keluar kedai, dan menginsyaratkan supaya aku tetap duduk di tempatku. Aku khawatir. Sepertinya ada yang penting, karena, Rino tak biasanya merahasiakan pembicaraan telepon di hadapanku.

Lima menit setelah menerima telepon, Rino mendatangiku dengan muka setengah masam, namun, ia terlihat memaksakan senyum.

“Kenapa?”

“Enggak, nyokap,”

“Oh...”

Aku paham. Kenapa dia agak masam. Biasanya, Ibu Rino ini membincangkan ekspektasi-ekspektasinya pada Rino, mungkin topik itu bukan topik yang tepat saat mood Rino sedang cemas begini.

Rino adalah anak terakhir di keluarganya, dan satu-satunya yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Keluarga Rino begitu membangga-banggakan Rino. Dan seakan bersumpah bahwa Rino ini bisa jadi penyelemat generasi keluarga yang sudah empat turunan melarat. Berkat kegigihan Bapak Rino menjual rongsokan, dan akhirnya punya lapak dagang sendiri, Rino bisa sekolah hingga ke SMA dan melanjutkan perguruan tinggi dengan prestasinya sendiri. Rino memang cerdas. Aku sudah bersahabat dengannya sejak duduk di bangku SMA. Namun, kami tak kuliah di kampus yang sama. Kebetulan aku mendapat beasiswa ke Jakarta, sedangkan Rino masih kuliah di Surabaya. Minggu-minggu ini, aku mudik. Dan tentu saja, aku selalu menyempatkan untuk ketemu dengannya.

“Eh, beb, aku harus pergi nih...”

“Lah? Cepet amat. Besok aku udah balik Jakarta loh....”

“Yah, iya sih...tapi ini nyokap minta jemput,”

“Yaudah nggak papa.....”

Rino lalu membayar semua tagihan kami.

“Thanks, No”

Plasure. Eh mau aku drop?”

“Nggak usah, aku masih mau disini, mau nulis kayaknya”

“Yaudah, take care, beb. Kabari kalau udah di rumah,”

Kemudian ia mencium keningku. Rino orangnya sangat perhatian dan penyayang. 

Siapapun yang dicintanya pasti beruntung.
2
Sebenarnya, kalau bukan karena kampus ini tenar dan jurusanku adalah salah satu tujuan hidup, aku malas tinggal di Jakarta. Kota ini begitu sumpek, panas dan polusinya melebihi ambang wajar, terlalu banyak manusia yang jarang senyum dan makanannya mahal. 

Akhir-akhir ini, selain sibuk dengan diktat kuliah, aku juga disibukkan oleh aneka kegiatan organisasi pers kampus yang bikin aku jatuh sakit, tipes. Ini karena tugas-tugas liputan yang cukup menguras energi dan pikiran. Sebetulnya, aku juga memiliki kondisi fisik yang lemah, jadi paket-paket itu menjadi komplit dan menyerang kekebalan tubuh secara signifikan.

Ngomong-ngomong, aku juga sudah putus kontak dengan Rino. Entah apa kabarnya anak itu. Terakhir dia bilang mau liburan ke Bali dengan Toni, itu sms dia beberapa minggu setelah aku bertolak ke Jakarta dari Surabaya. Sepertinya mereka sudah dekat. Aku ikut bahagia mendengarnya.
3
Aku menampar pipi berkali-kali.

Aku tidak percaya Rino mengirimiku pesan di facebook seperti ini:
Dear Flo. Aku cuma mau bilang, aku sayang banget sama kamu. Makasih udah jadi orang yang mengerti aku dengan segala anomali yang ada pada diriku. Tapi, kamu saja ternyata belum cukup untuk menguatkan aku. Persahabatan kita begitu indah, tapi, maaf, Flo. Aku ternyata tak cukup bahagia menjadi diriku. Orang tuaku tak puas, kakak-kakakku tak puas, teman-teman terdekatku menjauh secara teratur. Mereka sudah tahu kalau aku gay. Padahal, sebelum mereka mencari tahu, aku pun akan coming out, dan memberitahu tentang orientasi seksual aku pada dunia. Aku hanya butuh waktu. Cuma kamu yang menguatkanku. Toni, bahkan dia, tidak. Ia bisa seketika menjadi pacar Linda, dan seketika menjadi pacarku meski itu pun rahasia. Dia juga tak ingin disangkutpautkan denganku. Aku tak memiliki siapa-siapa lagi.Terima kasih, Flo.Aku rasa, hidupku sudah tak terlalu penting lagi. Toh, aku sudah lama dibunuh. Aku sudah lama disuruh mati, tak merasakan kehadiranku dengan keanehan-keanehan yang ada pada diriku. Aku pun bingung, aku pun tidak tahu harus bagaimana. Tapi, yang aku tahu, disini, aku tak bisa menjadi diriku sendiri.Sampai jumpa di langit ke tujuh, Florina. Terima kasih atas persahabatan kita yang sangat indah.
Aku langsung mengambil telepon dan memencet nomor Rino dengan tangan gemetar setengah basah. Aku panik. Aku tak mengerti kenapa Rino mengirimiku pesan seperti itu.

“Halo”

“Iya, Maaf ini Kakaknya Rino, Rinonya...”

“Kak Indra? Ini Flo”

“Oh, Flo. Apa kabar?” Sapanya, lalu ia menangis. Dan menceritakan padaku kalau Rino ditemukan membujur kaku kemarin subuh di kamarnya. Sontak hal ini membuat sekeluarga shock. Ibu Rino pingsan berkali-kali. Dan mereka tidak tahu kalau Rino bunuh diri juga karena mereka. Ia tidak siap dengan penghakiman-penghakiman yang, bahkan, ia sendiri sedang berjuang untuk mengkonfirmasi identitasnya.

Aku ingin sekali terbang ke Surabaya dan memeluk Rino, sembari membisikinya kalau ia tak perlu khawatir. Aku akan selalu disampingnya. Aku mencintainya.

Ia adalah sahabat yang sangat baik dan penyanyang.

Siapapun yang dicintanya pasti beruntung.

Tapi nyatanya, tidak ada yang layak untuk dicintainya.

*Sebuah tulisan untuk mengenang seorang sahabat, semoga damai selalu menyertai keberadaannya yang telah bertemu dengan Pencipta, aku merindukanmu.


Shei Layla, Jakarta, 9 April 2014

Senja Bergelayutan


Dari lantai 9 gedung ini, aku bisa melihat senja bergelayutan, terombang-ambing.

Mungkin ia bimbang.

Sinar oranye-nya, tak merata, di sela timur agak putih dan semburat merah, di sela barat, merahnya menyala seperti Hutan Kalimantan yang terkena kobaran pembalak liar.

“Kenapa kau tau hutan Kalimantan begitu, memangnya kau pernah tinggal di sana?”

“Liat di berita,” kataku.

“Kenapa kau bilang senja bimbang? Memangnya dia punya perasaan?” tanyanya lagi.

“Memangnya apa yang tidak punya perasaan? Henponmu aja perlu diperlakukan dengan lembut, kan?” cetusku.

Ia terdiam. Benar juga, gumamnya. Lalu aku meneruskan menulis puisi tentang senja yang bergelayutan. Tapi aku tak ingin siapapun mengetahuinya. Ini adalah kisah senjaku dengannya. Ia cukup tau saja judulnya, tidak perlu isinya.


Senin, 07 April 2014

Layang-Layang Warna Biru


Layang-layangku putus.

Ah. Andai saja aku punya dia. Pasti aku bisa minta uang beberapa kali pun. Tapi ini apa? Aku harus menjualkan layang-layang milik Robi dulu baru dapat bagian sekian persen untuk membeli layang-layang baru. Aku benci dia.

“Lisa! Cepat kemari kau, brengsek!”

Sial. Kalau aku tak butuh persenan dari penjualan layang-layang darinya, aku sudah menghajar mukanya yang kayak tikus itu.

“Sebentar, aku menggulung benang dulu”

“Kemari sekarang atau kutendang bokongmu!”

Aku menghampirinya sambil tetap menggulung benang. Layang-layang putus dan benangku tersendat. Sungguh hari yang buruk.

“Kau tau anak di Gang Lima? Namanya Hengki. Dia tadi meneleponku minta 3 layang-layang ini, kau kasihlah ke dia sekarang. Nanti kukasih satu untukmu, yang paling jelek” ujarnya sambil mengelap ingus. Aku menerima layang-layang itu namun sebisa mungkin tak menyentuh tangan bekas mengelap ingusnya itu. Aku malas tertular penyakit dari anak tikus macam dia.

“Tumben kau baik?”

“Pergi sekarang atau aku berubah pikiran”

Aku berjalan menjauh dari Robi menuju ke Gang Lima. Disini tak ada yang namanya Gang Kelinci, entah kenapa juga aku membahas hal itu. Gang di pemukiman ini berdasarkan angka. Satu, dua, tiga, hingga sepuluh. Ada sekitar 400 kepala keluarga yang tinggal di “Pemukiman Tiga Belas” ini. Entah kenapa namanya seaneh itu. Aku nggak peduli. Aku pun tinggal disini karena terpaksa, ikut ibuku. Karena Ayahku entah kemana. Ibuku membesarkanku seorang diri, dan kebetulan, setelah nenek meninggal, ia dapat warisan. Dibelilah tanah disini. Sedikit demi sedikit, tanah kami dipasangi beton, batu kali, semen, lalu kerangka-kerangka besi. Bagaimana aku tau? Aku juga ikut membangun rumah kami. Meski aku kurus kerempeng begini, aku masih kuat mengangkat dua ember adukan semen dan mengantarnya pada pak tukang, sehinga kami tak perlu membayar kuli bangunan lagi. Cukup seorang dan aku. Waktu kami membangun rumah, hari sangat cerah, bulan April. Ibuku bekerja, sementara aku membangun rumah. Sebenarnya agak menyedihkan juga, ya. Anak-anak sepertiku di bulan April sibuk membangun rumah, bukannya main layang-layang. Aku merasa aneh. Tapi biarlah, toh sekarang rumah sudah jadi, setelah tiga tahun lamanya kami mencicil membangun rumah. Dan akhirnya, aku juga bisa main layang-layang di bulan April.

“Hengki?”

“Kenapa kau tau namaku? Oh. Itukah layang-layangku? Wooooow! Cantik-cantik sekali..aih! Makasih loh, ya, manis. Aku suka sekali. Pasti kau pesuruh Robi, ya? Ah sialan bocah itu, pesuruhnya manis sekali. Mau nggak kapan-kapan kita main PS bareng?”

“Maaf, aku sedang sibuk. Ini lima ribu rupiah semuanya”

“Baiklah, kukasih enam ribu, ya, manis. Kau pasti haus. Sana beli es”

“Thanks”

Menjijikkan sekali. Hengki. Kenapa dia memanggil-manggilku manis. Penghinaan. Padahal rambutku sudah cepak begini. Aku nggak suka dipuji manis atau cantik. Lagian, anak itu kan sudah SMA, kenapa masih main layang-layang.

“Nih, Lima Ribu”

“Gimana dia? Menjijikkan ya? Maksudku, bencong, gitu ya? Hahahaha”

“Iya”

“Yasudah sana kau pergi, kalau nanti aku butuh bantuanmu, kupanggil lagi. Nih!”

Robi melemparkanku sebuah layang-layang warna biru. Cantik sekali. Aku sudah nggak sabar untuk segera memainkannya.

“Thanks” kataku lagi, Robi sudah menjauh menaiki sepeda gunungnya yang dibelinya dengan uang sendiri. Sebenarnya anak itu pekerja keras, tapi menyebalkan. Umurnya tiga tahun diatasku. Kami dulu sekolah bareng, tapi ia dipindahkan karena ternyata ia terkena gangguan mental, entah apa namanya. Ibuku sudah tau itu, dan mencoba memberitahukan ke orang tua Robi, tapi malah dimaki-maki sundal. Robi akhirnya pindah sekolah setelah mendapat pemeriksaan dari psikolog atau semacamnya itu, aku juga tau dari gosip Tante Firna. Dan ia prihatin kenapa ibuku dikatai sundal, padahal, dia sendiri yang bilang begitu. Aku tak mengerti dunia orang dewasa, begitu penuh kebencian dan ketidakjujuran.

Tapi,

Layang-layangku ini cantik sekali.

Aku sampai lupa ini sudah jam lima. Aku harus pulang. Aku harus memasak nasi karena ibuku sebentar lagi membawakan kami lauk untuk makan malam.

Jam lima sore adalah waktu yang aku tunggu-tunggu, selain jam tujuh pagi. Karena itu adalah jam makan. Aku tak dapat jatah makan siang, tapi tak apa. Toh, ibuku juga lagi kerja di pabrik. Ia tak dapat mengunjungiku kalau siang. Jam kerjanya selesai pukul lima sore. Aku biasa kerja sampingan untuk membeli makan siang. Seperti, kerja pada Robi jual layang-layang, atau pergi ke warung Bibi Mariam untuk mencuci piring. Aku biasa diupah lima ribu rupiah setelah mencuci piring sebanyak 30 buah. Aku suka menghitung piring-piring yang kucuci, karena, menurutku mereka menjadi cantik dan bersih.

“Jadi, gimana harimu, sayang?”

“Bu, berhentilah memanggilku sayang. Nggak lucu.”

“Haha, baiklah, Lis, gimana? Ngapain aja hari ini?”

“Main layang-layang”

“Kenapa tak sekolah?”

“Aku tak mau, mereka membicarakanmu, membicarakan kita, mereka menagih, nggak kira-kira”

“Gimana nggak kira-kira, sayang? Eh, Lis?”

“Membicarakanmu? Sundal. Membicarakan kita? Anak haram, Ibu Sundal. Nagih nggak kira-kira? Masa disuruh bayar uang sekolah lima bulan langsung lunas, uang darimana, Bu? Sudahlah, tak penting. Aku kerja di Bibi Mariam aja, bisa kok buat hidup kita berdua, Bu”

Ibu tampak senyum mendengarku mengeluh. Sebenarnya aku tak ingin membuat harinya yang berat menjadi semakin berat. Aku pernah mengantarkannya makan siang suatu hari, setelah bekerja mencuci piring dengan upah lebih banyak tiga kali lipat. Aku melihat ibu sama sekali tak berhenti menggoyangkan kaki dan tangannya sembari tetap duduk di depan mesin jahit, hampir tidak beristirahat selama delapan jam. Untuk solat dan makan siang saja, ia harus mengemis-ngemis dulu, kataya waktu itu.  Ketika aku muncul dan membawakannya bekal, ia tampak bahagia sekali dan memelukku sambil mengusap kepalaku dan segera menyuruhku pulang sebelum dilihat Pak Mandor. Orangnya galak, katanya, dan nggak suka anak-anak.
“Aku buatin teh, ya. Ibu kali ini mau manis apa tetap tawar?”

“Manis aja, ibu mau mandi lalu minum teh buatanmu, Lis. Nanti kita omongin lagi masalah ini ya. Ibu akan pikirin. Oya, Lis. Ibu tadi beliin kamu ini”

Aku mendelik melihat dua buah kutang kecil yang disodorkannya kepadaku.

“IBU! APA INI??!!”

Ia tertawa dan beringsut ke kamar mandi.

“Kau harus pakai mulai besok. Ini perintah, sayang. Tidak ada tapi-tapian lagi. Demi kebaikanmu”

Aku pikir, aku akan memainkan layang-layang warna biruku dengan kutang kecil itu, mulai besok pagi.


Sial.

Rabu, 02 April 2014

Saya, Pernikahan dan Krisis Perempat Baya


Sebenarnya, saya paling malas membahas tentang pernikahan, karena, pernikahan ini secara logika masih jauh dari perencanaan (dasar jomblo!). Dan, pernikahan ini pembahasan yang cukup menyakitkan, karena, gara-gara isu ini, saya sering terlalu berharap dan akhirnya menjadi perempuan penuntut yang membuat lari pasangan (bah!). Tapi gara-gara mampir ke blog-nyaKimi, saya jadi tertarik untuk berbagi tentang pandangan mengenai pernikahan ini :p

Entah kenapa, karena saya tak pernah belajar tentang psikologi secara formal, maka saya tidak begitu paham pengupasan hal tersebut secara psikologis. Namun, karena banyak berdiskusi dengan psikolog dan sering membaca artikel, saya jadi mengerti mengapa pernikahan ini menjadi hal yang ngeri-ngeri sedap.
Umur saya di tahun ini, dua puluh lima tahun. Sudah masuk prasyarat sebagai young adult, alias, perempuan perempat baya. Tentu saja, secara normal, saya memikirkan tentang pernikahan. Bahkan, ini menjadi bahasan utama dalam setiap saya menjalin hubungan, yang entah, kebanyakan dari mereka tampak ketakutan.

Wajar sih,

Karena, perkembangan mental tiap orang berbeda. Selain membicarakan soal gender (tanggung jawab sosial laki-laki dan perempuan), perkembangan mental juga isu utama dalam suatu hubungan romantis. Perkembangan ini yang kemudian membawa pada sikap dalam membuat keputusan.

Dua kali, perencanaan ini gagal di tengah jalan, haha. Yang pertama tidak terlalu serius, yang kedua cukup serius, yang ketiga.... ternyata serius udah bubar #eh.

Menarik sekali membicarakan tentang krisis paruh baya ini. Beberapa waktu lalu, saya sempat mampir ke blog ini, dan penulisnya, menceritakan bagaimana krisis paruh baya-nya membuntuti hingga ke umur 31 tahun. Menurutnya, ini adalah hal yang sangaaaat wajar. Coba saja baca blog-nya. Karena, banyak pelajaran yang bisa diambil. Kalau saya, jadi lebih berhati-hati dalam memilih pasangan untuk dinikahi (teteup).

Krisis ini saya langsung kaitkan ke “wedding dream”, ilusi tentang pernikahan. Mengapa ilusi? Karena, secara logika, menikah artinya menautkan diri kita ke pasangan dan bersumpah untuk menjalani hubungan permanen baik suka-duka dankemudian membesarkan anak bersama, lalu menanggung beban hidup berdua. Kenapa ada orang sebodoh ini? Kenapa ada orang yang mau menautkan diri ketika pergi dan menggoda sana-sini lebih menyenangkan? Kenapa ada orang yang mau menanggung beban hidp orang lain padahal ia bisa bersenang-senang dengan uangnya sendiri?

Di masyarakat patriarkal seperti ini, kesadaran tentang pernikahan ditanamkan sebagai semua tentang “menjadi perempuan, menikah, kemudian melayani keluarga”. Kesadaran ini, lamat-lamat mulai saya rasakan.

Sejak umur 20-an awal, pernikahan sudah menjadi tujuan utama setelah menyelesaikan studi, dan bekerja nantinya. Tapi saya juga takut, karena punya mimpi sampai ke antariksa, bagaimana mungkin saya bisa memaknai hidup kalau cuma menjadi ibu rumah tangga? Meski begitu, saya punya target absurd menikah usia 25 tahun. Ini juga ikut-ikutan. Karena, secara sosial, teman-teman lain yang umur segitu sudah beranak dua (Ohya, tentang menjadi ibu rumah tangga, banyak home-based working yang bisa jadi alternatif, dan ini sudah terbukti serta efektif dan efisien).

Pernikahan jadi hal absurd dan merupakan tujuan hidup. Saya melupakan bahwa, setelah pernikahan, kalau masih dikasih umur, ya tetap hidup. Tentu saja dengan peran sosial yang berbeda, menjadi istri, dan kemudian menjadi ibu, dan sudah terhitung sensus mejadi 1 keluraga baru yang menambahi beban kependudukan Indonesia.

Pernikahan ini menjadi krisis paruh baya saya. Karena, saya tidak mengalami banyak masalah dalam bekerja (Saya belum memikirkan karier), bersosialisasi, bekerja sosial menjadi relawan, berinteraksi dengan keluarga inti dan keluarga besar. Hidup saya sangat jauh dari masalah, kecuali tentang hubungan romantis dan ide pernikahan.

Memiliki teman hidup bersama tentu menyenangkan, tapi, untuk mencapai kesana, banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi. Menyamakan persepsi menjadi penting. Semua orang tau kalau ikan saja motif siripnya berbeda, padahal, perasaan semua ikan sama saja, kan? Apalagi manusia. Tentu tidak ada manusia yang seratus persen sama, tapi, bukan berarti perbedaan itu tak dicari lingkaran irisan. Dalam hal ini, belum ada yang se-irisan.

Beberapa waktu berkontemplasi dan memahami tentang diri sendiri, ekspektasi, dan cara berhubungan dengan orang lain (halah, mantan maksudnya), saya jadi menemukan beberapa pola yang merugikan baik bagi diri saya maupun pasangan. Dan, perpisahan memang pilihan yang tepat. Bukan berarti (hanya) saling benci, tidak cocok, tapi, lebih kepada pengamanan diri sendiri terhadap orang lain. Tadi sempat disinggung bukan? Perkembangan mental masing-masing orang berbeda. Nah, apabila hubungan dipaksakan, entah kita menjadi pembunuh dia, atau kita yang dibunuh. Trek perkembangan mental yang tidak lagi sinkron menjadi alasan mengapa perpisahan itu harus terjadi.

Lalu, dalam menyikapi krisis paruh baya ini, saya melakukan empat hal:
1) Curhat dengan orang yang tepat
2)  Meditasi dan mendekatkan diri pada Tuhan
3) Menulis dan membaca
4) Bepergian

Keempat hal diatas, ternyata sangat membuat rileks tubuh dan pikiran. Saya jadi menemukan kembali kepingan-kepingan diri yang hilang. Kadang, kita menjadi begitu bodoh dan menjadi orang yang kita sendiri tak kenal hanya karena menyesuaikan dengan keadaan absurd yang entah kemana dibawa pergi.


Kalau krisis perempat-bayamu, apa?

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More