Menerima Penghargaan Tupperware She can Award 2013

Tupperware SheCAN! Award 2013, penghargaan untuk 89 orang yang menginspirasi Indonesia dengan karya-karya sosial mereka

Menerima Penghargaan Indi Women Award 2013

21 Perempuan Inspiratif Menerima pengharagaan "Indi Women Award" dari PT. Telkom Indonesia, dihadiri oleh Ibu Linda Gumelar, Menteri Peranan Wanita. Bagian saya, Socio Activist untuk Save Street Child

Crowd Funding Projects

Kita bisa keroyok project-project sosial ini bersama-sama untuk masa depan yang lebih baik. Gabung sekarang! ^^

Bersama Sarah Sechan dan Keluarga Save Street Child

Talk Show di NET TV bersama Sarah Sechan. Adik-adik ternyata sudah berbakat sebelum ditraining jadi host TV!

Kumpulan Puisi

Kumpulan puisi-puisi karya sendiri atau saduran dapat dibaca disini

Senin, 30 Juni 2014

Hijab Ini Tanda Aku Mencintaimu, Allah



Hari ini adalah hari istimewa, untuk menunjukkan bahwa, aku adalah orang yang bersyukur.

Dilahirkan di keluarga yang (InsyaAllah) relijius, dan kakek-nenek yang menjadi ulama lokal di Jombang, aku termasuk anak yang sangat beruntung! Belajar agama sudah dimulai sejak kecil, berbuat baik, menjadi orang yang selau murah hati, ringan tangan, untuk menolong, diajarkan sejak usia dini. Terima kasih pada Ayah, Ibu dan keluarga serta teman-teman yang selalu menginspirasi dan mengingatkan. Hal-hal itulah yang membuat hari-hariku selalu ceria (sedih dan marahnya disimpan aja, nggak usah ditunjukkin). Selama ini, Allah menyayangiku, lewat keluarga, teman, semesta yang mempermudah hidupku untuk selalu dijalani dengan semangat.

Aku sudah pernah berhijab, tepatnya 1-2 tahun waktu SMA. Hijab yang menurutku seru, aku iseng ikutan teman. Lalu, karena pindah ke Jakarta, aku lepas. Aku gerah. Aku malas. Dan aku mulai bereksperimen dengan beraneka macam pakaian yang terlihat sangat bagus, karena aku kurus (baru-baru ini).

Lalu, mengapa aku berhijab?
Tentu saja, aku sudah dengar kutipan ayat, nasihat-nasihat, hingga omelan keluarga. Waktu aku lepas jilbab, dunia serasa neraka. Jangan dikira mudah, melepas jilbab tantangan berat, aku sampai pernah disidang di rektorat karena itu! Yang pada akhirnya bikin aku sebal, dan mantap untuk tidak berhijab sebagai simbol perlawanan. Wong, hak pribadi kok di-oyok-oyok, pikirku waktu itu.

Lalu, mengapa aku berhijab?
Cuma aku dan Allah yang tau. Kami bercakap dalam sunyi, dan melewati hati. Aku tak perlu cerita. Tapi, aku nyaman dengan hijabku kali ini. Aku bersyukur. Aku dicintai. Untuk itu, hari ini, aku menunjukkan kalau aku mencintaiNya kembali. Allah Maha Baik.


Bismillah.
Semoga istiqomah :)


Djakarta, 1 Juli 2014

Rabu, 25 Juni 2014

13 Jurus Antisipasi Pedofil


(picture taken from here)

Memiliki anak memang anugerah tersendiri. Tapi, ini juga menjadi alarm para orang tua untuk selalu waspada. Pelecehan terhadap anak kian meningkat, Arist Merdeka Sirait, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyatakan bahwa jumlah kasus kekerasan seksual pada anak meningkat dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 2012 jumlahnya 124 kasus, tahun 2013 mencapai 1,937 kasus. Untuk tahun 2014, sudah mencapai 200 kasus dengan jumlah korban hampir hampir 300 anak (baca berita ini)

Apakah anak anda aman?

Jawabannya mungkin, belum tentu. Iya. Jurus antisipasi harus selalu di-upgrade seiring makin canggihnya modus kasus kejahatan terhadap anak. Salah satu yang menjadi fokus keprihatinan saya adalah tentang “kejahatan seksual”, dan sebagai antisipasi, para orang tua seharusnya memang mengajarkan 13 Jurus Antisipasi Pedofil berikut ini pada anak:

1. Ingatkan anak anda (terutama perempuan) untuk TIDAK DUDUK DIPANGKU oleh siapapun, bahkan oleh paman sendiri.

2. Hindari berganti pakaian/ telanjang dihadapan anak-anak sejak usia mereka baru 2 tahun. Bergantilah di ruang privat. Hal ini juga berlaku untuk anak-anak, hindari memandikan mereka/ mengganti pakaian di tempat umum.

3. Jangan pernah perbolehkan siapapun memanggil anak anda dengan sebutan “istriku” atau “suamiku”

4. Jika anak anda bermain dengan teman-temannya, selalu perhatikan apa yang mereka mainkan. Anak-anak sekarang pun bisa menjadi pelaku perkosaan (baca berita ini)

5. Jangan pernah memaksa anak untuk mengunjungi orang dewasa yang mereka tak sukai (kemungkinan ada hal tertentu yang buat mereka tak nyaman). Observasi, ajak anak bicara dan lakukan aksi yang perlu.

6. Curigai jika anak anda terlalu lengket dengan orang tertentu. Masih, observasi, ajak anak bicara dan lakukan aksi yang perlu.

7. Lakukan edukasi untuk anak anda tentang seksualitas. Jika tidak, maka, masyarakat yang akan berikan edukasi delusional dan nilai-nilai yang salah.

8. Selalu lakukan inspeksi terlebih dahulu terhadap bacaan/ tontonan baru anak-anak anda.

9. Yakinkan bahwa “Mode Panduan Orang Tua” selalu aktif di TV kabel/ internet anda, dan pastikan di lingkungan terdekat yang biasa anak-anak kunjungi juga.

10. Ajari anak usia 3 tahun untuk melakukan sendiri aktivitas “cebok” dan “mandi”. Beritahu mereka untuk tidak membiarkan orang dewasa lain melakukannya (bahkan anda sendiri).

11. Blacklist beberapa hal yang dapat membahayakan kejiwaan anak anda seperti musik, film, bahkan teman-teman/ keluarga yang suka membully.

12. Ajari anak untuk mengerti bahwa, sesekali mereka harus keluar dari mainstream, jika memang nilai-nilai mereka terganggu.

13. Jika anak anda mulai komplain terhadap perlakuan seseorang, lakukan aksi dan tunjukkan bahwa anda adalah orang tua yang dapat dipercaya dan diandalkan.

Silakan diteruskan ke para orang tua lainnya ya jika informasinya dirasa perlu. 
Have a nice day =)

Disadur dari: berbagai sumber

Kamis, 12 Juni 2014

SURAT TERBUKA FIFA: Lingkaran Kecil, Lingkaran Besar




“…..jangan sampai kedatangan saya di Metro TV ini juga dipolitisasi lho, ya” kata saya dengan senyum-senyum ke Mas Indra, presenter Prime Time News Metro TV. beberapa saat setelah ia menanyai motif melayangkan surat terbuka ke FIFA.  


Cerita Tentang Saya
Saya ini orang yang sangat cuek terhadap diri sendiri. Hidup saya biasa-biasa saja, ini yang membuat saya banyak mikir di luar diri saya. Karena, pada dasarnya, saya orang yang bahagia. Lahir di keluarga mampu dan utuh serta memberikan limpahan kasih sayang. Belum lagi memiliki teman-teman penggerak yang mau diajak mimpi besar untuk berkontribusi bagi negri ini melalui Save Street Child. Mereka ada di seluruh Indonesia. Iya, anak-anak muda yang sangat keren! Saya beruntung.

Tapi, saya sangat rewel terhadap hal-hal yang saya rasa tidak benar, dan kira-kira bisa diperbaiki. Nanti saya akan cerita. Ini adalah tentang lingkaran kecil, dan lingkaran besar. Lingkaran kecil, menurut saya, menyangkut tentang hal-hal remeh, yakni tentang diri sendiri dan tentu saja kelompok yang berafiliasi dengan kita. Lingkaran besar, di lain pihak, berisikan hal-hal yang menyangkut kepentingan publik, dalam ranah yang lebih luas lagi.

Akhir-akhir ini saya sedang mendapat durian runtuh atas opini saya tentang “netralitas media” yang tertuang pada Surat FIFA. Kebetulan, kasusnya adalah tentang bagaimana menjaga netralitas media selama masa kampanye, melalui siaran piala dunia. Siapa yang tidak menunggu Piala Dunia? Perhelatan sepak bola terbesar di dunia yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali ini mungkin dinantikan oleh semua orang di berbagai belahan bumi.



Surat Terbuka FIFA & Frekuensi Publik
Oya, mau tau cerita tentang Surat FIFA?
Begini ceritanya,
Saya menulis sebuah surat terbuka pada FIFA supaya momen Piala Dunia tidak dipolitisasi. Saya sebagai publik sudah jengah dengan banyaknya iklan-iklan politik manipulatf yang dibalut dalam siaran-siaran TV tanpa mengindahkan aturan kampanye. Saya rasa teman-teman bisa baca berita tentang surat KPI ke Kemkominfo mengenai pelanggaran-pelanggaran P3/SPS olehbeberapa stasiun TV.

Mengapa hal ini sampai terjadi? Ini mengingat kepemilikan stasiun TV. Sebut ada berapa pemilik Stasiun TV di Indonesia? Dia lagi, dia lagi kan? Nah itulah. Konglomerasi media ini sebetulnya tidak sehat (entah kenapa masih dibiarkan saja). Tapi, ya bisnis, teman-teman. Lagi-lagi kita akan bicara tentang kepemilikan modal. 

Tahukah kamu?
Secara bisnis, stasiun-stasiun TV memang dimiliki oleh konglomerat. Orangnya itu-itu saja. Tapi, secara perundangan, frekuensi siaran itu milik publik, lho. Iya, frekuensi itu milik kita. Dan memang seharusnya digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan kita dong yah. Baca Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3/SPS) ini yang berisi aturan-aturan tentang penyiaran. 

Pernah dengar “Kode Etik Jurnalistik”? Nah, dalam penyiaran, ada tambahan aturan. Jika Kode Etik Jurnalistik mengikat konten pemberitaan, P3/SPS ini mengikat tentang teknis dan bagaimana seharusnya sebuah stasiun televisi mengudara dalam kanal informasi kita. 

Teman-teman harus tau kalau frekuensi itu jumlahnya terbatas, dan kabar baiknya adalah, itu dikelola oleh negara dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk publik. Terdengar klise? Ya begitulah norma, memang normatif. Tapi, bagaimana mungkin kita “bermain” tanpa adanya “aturan”? Nanti malah saling tabok lho =D

Nah, kembali lagi ke topik Surat FIFA.

Jika ditarik motif utama saya menulis surat terbuka untuk FIFA, tentu saja, antisipasi terhadap politisasi sepak bola, atas nama keadilan dan merebut kembali frekuensi publik yang selama ini dijajah. 

Kenapa menulis surat ke FIFA? Ya karena FIFA-lah yang punya lisensi penayangan Piala Dunia, dan 2 TV terbesar di Indonesia itulah yang punya hak siarnya. Mbak Soraya Hylmi juga sudah membahas kan? Lisensi tersebut memiliki aturan-aturan dan penayangannya tidak boleh merusak konten yang seharusnya (lihat video).



Rebut Kembali Frekuensi Publik
Kita juga tahu, 2 TV pemegang hak siar itu cenderung memihak ke capres tertentu. Dalam momentum Piala Dunia ini, saya kehabisan kesabaran dan akhirnya mencoba merebut perhatian publik dengan menuliskan surat terbuka, yang, alhamdulilah, mendapat animo luar biasa.

Ini baru awal, teman. Kalau teman-teman mau ikut berjuang MEREBUT KEMBALI FREKUENSI PUBLIK, mari kita sama-sama bikin petisi nanti. Kita bantu KPI dan Bawaslu supaya betul-betul bekerja dengan giat, menyingkirkan sampah-sampah politik yang tak berimbang dan melanggar aturan kampanye (kampanye harus adil kan? Tidak berat sebelah? Hehe....)

Lagi-lagi ngomongin netralitas media ya?

Iya.

Ini penting.

Karena, tidak banyak orang yang sepintar teman-teman ini. Eksposur konten yang berisi kampanye berat sebelah bisa jadi mempengaruhi opini publik, dan yang pasti, sangat menganggu. Atau, teman-teman mungkin tidak keberatan ya misal ada capres tertentu yang mendadak jadi komentator pertandingan atau bahkan mengeblok layar TV dengan iklan politik? Hehe....

Media seharusnya netral. 

Benarkah?

Oh tentu tidak. Media seharusnya MEMIHAK. Keberpihakannya itu tentu harus pada KEPENTINGAN PUBLIK. Harus diperbesar ya, supaya kita mengerti. Asal teman-teman tahu, Politisasi ini sudah terjadi sejak jaman dulu kala. Sejak jaman TVRI masih dikuasai Orba pun. Kita tak akan dengar adanya berita tentang pemerintah yang korup. Tidak akan pernah. 

Namun, di era keterbukaan informasi seperti sekarang, ketika siaran TV menjadi lebih bebas, blunder terjadi dimana-mana. Para konglomerat sekarang saling gontok-gontokan. Ehehe... Saya masih ingat penyebutan musibah lumpur sebagai “LUSI” (Lumpur Sidoarjo) di beberapa stasiun TV yang dimiliki oleh orang yang berkasus itu. I know, right?
 



Bedakan Hak Berpolitik dengan Merebut Kembali Ruang Publik
Banyak yang menyangka, saya menulis Surat FIFA itu karena motif pribadi saya mendukung capres tertentu. “Coba kalau yang punya hak siar itu Metro, Mbak Shei pasti gak akan nulis,” semprot seseorang di media sosial, tepat ketika saya memutuskan untuk menyiarkan surat tersebut di blog. Saya cuma senyum dan mencoba mengerti. Wajar saja muncul opini seperti ini karena dalam postingan lain di blog, saya jelaskan saya mendukung salah satu capres. 

Saya tidak masalah dengan dugaan seperti itu, asal bisa dibuktikan. Soalnya, ketika saya mendapat slot untuk menjelaskan mengenai kekhawatiran politisasi piala dunia di Metro TV malam lalu (11/06), saya juga menegur Metro TV (lihat video). 

Saya minta, Metro TV dapat menjaga independensi selama masa kampanye ini, supaya dapat memberikan informasi secara berimbang. Tahu tidak? Metro TV mendukung siapa? Mereka dukung capres pilihan saya lho, hehe.... Saya tidak peduli. Metro TV itu instansi media. Ia harus adil juga, tanpa terkecuali.

Pembawa acara diskusi malam itu senyum-senyum mendengar celotehan saya, karena, kita semua tahu, bagaimana media-media itu bermain selama masa kampanye. Memuakkan sekali, ya? Itulah, for the sake of fairness, saya memilih untuk menanggalkan kepentingan politik pribadi demi kepentingan yang lebih besar (saya bisa saja kampanye untuk mendukung calon presiden saya, kebetulan acaranya LIVE jadi tak mungkin ada CUT dari produser).

Saya sudah jelaskan di atas. Ada lingkaran kecil, ada lingkaran besar. Hak politik pribadi termasuk lingkaran kecil. Hak untuk mendapatkan informasi mengenai siapa nanti yang akan dipilih, merupakan lingkaran besar.

Kalau teman-teman menonton acara diskusi “Prime Tme News” di Metro TV semalam, teman-teman dapat melihat fokus dari Surat FIFA saya. Dan tenang saja, saya cuma gadis kecil yang sedang gelisah terhadap ketidakadilan. Dan saya adalah bagian dari kamu semua (senyum).

Jadi, mau hidup di lingkaran mana?

Selamat beraktivitas.

Salam sayang,
Shei


  


P.S:
Tayangan Prime Time News Metro TV kemarin berlangsung LIVE, tapi sudah direkam oleh web resmi dan dapat dilihat per segmen disini, disini, dan disini.

Selasa, 10 Juni 2014

Kulkas Kosong




Apakah kau pernah merasa sendirian dan merana?

Aku hampir tiap malam.

Sebetulnya aku tidak takut sendiri, tapi ketika dingin menyergap, dan kulkas kosong lalu perutku lapar... Aku takut aku akan mati.

Aku tidak begitu menakuti kematian. Hanya saja, aku tidak suka membayangkan rohku tercabut dari raga, katanya sih sakit. Aku pernah menanyai Nenek Grasia yang tinggal di seberang jalan, katanya ia pernah mengalami kematian. Ia kini menjalani hidup kedua. Oleh karena itu, ia berganti kelamin. Katanya, “Seharusnya, aku tak dilahirkan sebagai laki-laki, namun, perempuan”. Nama sebenernya adalah Gerson.

Lagian, kenapa takut mati? 

Aku cuma manusia yang kebetulan lahir saja. Ibuku pernah bilang aku ini bayi yang nggak disengaja lahirnya. Menurutku itu baik, menurutnya tidak. Tapi, entahlah. Kalau tidak baik, bagaimana mungkin aku menyukai diriku, kan? 

Hal lain yang kuingat adalah... ada semacam kebotakan berbentuk lingkaran di beberapa jengkal jari setelah jidat. “Kau dulu divakum” cerita Ibuku. Dulu, aku berpikir kalau aku ini adalah debu. Aku lihat di televisi, mereka menyebut penyedot debu sebagai vakum. Ternyata aku manusia. “Ada-ada saja kau ini,” suatu hari ibuku tertawa, dikiranya aku melucu. Padahal aku memang belum tahu perbedaan antara bayi dengan debu. Aku pikir mereka sama, toh, sama-sama di-vakum.

“Bu, apakah yang dilakukan orang-orang di liang lahat?” aku pernah bertanya. Aku ini sangat takut akan gelap. Katanya sih, liang lahat itu gelap.

“Kuburan, maksudmu?”

“Iya...”

“Entahlah, mereka sudah mati. Orang mati mana bisa gerak?” ujarnya sambil menenggak bir dingin. Aku tidak suka baunya. Terutama kalau ibu sudah capek kerja sepanjang malam dan pulang dalam keadaan mabuk. Ia pasti mengira aku ini maling dan mengejarku kesana-kesini sambil memukuli pantatku. Aku sering cemas kalau mendapatinya mabuk. Biasanya di akhir bulan. Ketika gajinya menipis, dan aku harus makan indomi tiap malam. 

“Brengsek ayahmu! Kau mirip dengannya, maling kau pasti. Bajingan!” begitu yang biasa ia katakan. Dan aku akan terjaga sepanjang malam sambil berlarian dan melihat-lihat apakah ibuku akan melukai dirinya sendiri dengan pisau yang ia bawa untuk mengejarku. Setelah capek, biasanya ibu akan tergeletak di lantai dan tidur. Keesokan paginya, aku harus menyiram mukanya dengan air dingin supaya bangun dan mengingatkannya untuk mandi, lalu sarapan (aku pernah mencoba mencipratinya saja, tapi tidak berhasil, jadi aku mulai terbiasa untuk mengguyur seember). Setelah ia bangun dan sarapan, ia akan bergegas kerja shift pagi sebelum lanjut shift malam. Ia hampir tak pernah libur. Makanya, aku juga tak pernah marah meski sering dipukuli ketika ibu mabuk. Ia menyayangiku, kok.

“Dua hari lagi kau ulang tahun, Ibu akan kasih hadiah ya... Sudah ibu siapkan," katanya setelah mendapati dirinya basah kuyup karena guyuran air seember. Sambil mengepel bekas air yang masih merembes hingga ke karpet ruang tamu, aku mengangguk pelan. Aku cuma ingin ketemu ayahku. Tapi Ibu bilang itu tak mungkin, ayahku sudah pergi dan tidak mungkin kembali. Aku pikir ia sudah mati. Tapi ibu menggeleng. Ia bilang ayahku masih hidup, hanya saja tinggal dengan keluarga lain. Ia juga mengingatkanku untuk menggunakan kata “meninggal”, bukan “mati”. Kata “mati” itu cuma buat tikus. Misal, tikus mati di got, atau tikus mati kejepit pintu.

“Nanti kau akan menyesal, lho.... Ibu udah kasih tau, ya...”

“Kalau ayah meninggal, aku lebih senang....” desisku sambil meneruskan mengepel. Ibu tersenyum sambil menggumam kalau kepalanya sakit terantuk lantai. Sepertinya ia tidak ingat kalau terpeleset semalam.
***
“Bu, kau mau apa?”

“Diamlah, demi kebaikanmu” ia meneruskan mengikatkan lilitan kawat, metal, dan kaca melingkari tubuhku. Aku tau itu sebuah bom. Ia ingin kami mati. Kau tau kan? Aku takut mati. Tapi, tidak di hari terik seperti ini, apalagi sedang bersama ibu. Aku sangat menyayanginya. Aku tau ia pun begitu. 

“Sakit tidak?” tanyaku penasaran, sambil tetap diam sampai ibu selesai mengikatku, lalu mengikat dirinya sendiri.

“Enggak” jawabnya singkat.

Menurutnya, bunuh diri menggunakan bom tidak akan sakit. “Aku membacanya di internet,” dengusnya sambil kesulitan melingkarkan kawat ke badannya sendiri. Seharusnya ia tak perlu membawa dua bom sekaligus. Ia harus menyimpan salah satu. Jaga-jaga kalau percobaan bunuh diri pertama kami tidak berhasil. “Ini pasti berhasil, Joe memberitahuku,” jawabnya ketika kutanyai kenapa dia harus repot memasang keduanya pada masing-masing kami.

“Tetangga bakal kena juga, bu?”

“Nggak, radiusnya kecil kok. Lagian kan cuma kita yang ingin mati, bukan mereka,”

“Bagaimana kalau mereka juga ingin mati seperti kita?”

“Nggak mungkin, Ndre... Hidup kita yang merana, bukan mereka” lanjutnya. Sebelum menekan tombol pemicu, ia mendesis, "Selamat ulang tahun, Ndre. Kau tak perlu hidup susah lagi sekarang."

Aku terkesiap oleh dentuman kencang dan hamburan metal, kaca, besi dalam hitungan detik. Aku sedikit sadar sebelum menemukan potongan tanganku dan beberapa cacah daging yang berserak diantaranya.

***

Dua hari sebelum ibu memutuskan untuk mengakhiri hidup kami menggunakan bom, aku sering melihatnya dan laki-laki itu bertengkar. Kali ini hebat sekali, sampai tetangga mengunci rapat-rapat rumah mereka. Tidak ada yang mau berurusan dengan laki-laki itu dan ibuku. Mereka takut. 

Laki-laki itu adalah pacar ibu. Ia sering diantar laki-laki itu sepulang kerja, karena hari terlalu larut. Mungkin, ini hal yang wajar ketika dua orang yang memiliki hubungan spesial saling menjaga. Entahlah. Biasanya, setelah sampai di rumah, mereka ciuman dan tidur di ranjang. Aku memergoki mereka ketika ingin mengambil air minum tengah malam. Sudah kali ketiga aku melihat mereka seperti itu, dan sepertinya, setelah di ranjang, mereka akan berhubungan seksual (aku pernah melihat video seperti itu di ponsel Thomas, tetanggaku, kelas 3 SMP). 

Keesokan paginya, mereka terlihat mesra, aku berangkat ke sekolah dan tidak tahu apa-apa lagi. Aku lupa nama laki-laki itu. Kami tidak mengobrol banyak. Lagian dia kayaknya nggak suka sama aku. Menurutnya aku ini cuma tikus kecil pengganggu. “Kalau nggak ada dia, lebih enak” ujarnya suatu ketika, dan aku tidak peduli. Ibu menyikutnya pelan dan bilang kalau cuma aku yang dia punyai dalam hidupnya yang sangat menyedihkan. “Jual aja nanti kau dapat duit,” dengusnya sambil terseok memakai sepatu kumal warna coklat. Bau anyir menyebar cepat ke seluruh penjuru ruang tamu ketika ia mencopot sepatu itu, hampir tiap malam. Ibu terlihat cemberut dan tidak berkata apa-apa, sambil sesekali melihatku. Aku tersenyum mencoba menenangkannya, aku tidak apa-apa. Aku tidak peduli padanya. Aku cuma peduli pada Ibuku.

Terima kasih ya, Ndre, kau sudah manis sama dia. Dia bosku. Aku punya hutang banyak sama dia,” kata ibuku sembari berbisik. Aku mengangguk dan pamit untuk pergi ke sekolah tanpa sarapan.

Djakarta, 11 Juni 2014

Minggu, 08 Juni 2014

An Open Letter for President of FIFA



Photo Source: Tribun
Jakarta, June 3rd 2014
To:
Mr. Joseph S. Blatter
President of FIFA
In Zurich, Switzerland

Dear Sir,
I hope this letter find you well.
My name is Shei from Indonesia, a country with 250 million populations in which most of them are fans of football like I do. I could not wait to enjoy the world cup this year. I’m so excited! 

However, I have some concerns to share with you. The World Cup will happen at the same time with the presidential election in our country on July 9 2014. As always, during the election, our television will be dominated by tons of political campaigns. Unfortunately, the TV networks that hold exclusive right to broadcast the World Cup, TV-One and ANTV, are belong to a businessman who strongly support one of the presidential candidate. We heard some rumors that he would use the World Cup to conduct massive political campaign. And it's not fair.

I do concern to the presidential election. I also have decided whom to vote, but, of course, it is beyond that personal political right. I don’t care. What I care the most is, we have swing voters here, mostly youths. So, can you imagine? How the election rule would be violated here? There’s a media mogul whom would do anything to success one particular candidate (which we only have two candidates here). So, I hope, FIFA do concern to supervise things out here. I mean, the spirit of “true competition” should be implemented well. 

Football should be a very fun yet competitive game. That’s why I love soccer. The spirit to keep on the right track, keep on the rule, is what define a healthy game. I believe, politic should be the same. If it’s not, why do they have such rules, right?

I believe you guys have some rule so the legal broadcasting right not to be misused.
It would be great and highly appreciated if you could take any necessary and possible action to ensure that world cup broadcast would not be used as a political tool to gain voters. Remember the spirit of a healthy game, sir :)
Bunch of thanks for your kind consideration and help.  
Have a lovely day!
Best regards,


[Shei Latiefah, Chairperson of Sekarya Sobat Cinta Indonesia Foundation @SaveStreetChild


P.S:
The news regarding to this letter can be read at:
1) Kabar 24 
2) Portal KBR   

3) TribunNews
4) Yahoo Indonesia




Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More