Minggu, 14 Juni 2015

Catatan Kehamilan: Tendangan Halilintar dan Bodi Mekar

(Gambar Dari Sini)

Memasuki trimester kedua kehamilan, adalah saat paling membahagiakan. Bagaimana tidak? Pada trimester ini, para ibu hamil biasanya sudah mampu mengendalikan diri karena sudah terbiasa dengan perubahan hormonal yang ada pada tubuhnya.

Kasus nausea, pusing, mual, sudah jarang dijumpai. Ibu hamil menjadi bahagia, dan, gawatnya, doyan makan, sampai kadang-kadang kelewatan (Oke, ini saya doang sih kayaknya).

Memasuki usia kehamilan 20 minggu, mulai bulan kelima hingga keenam, para ibu hamil sudah bisa merasakan tendangan kecil dari janinnya. Kalau saya bilang sih, tinju. Karena, rasanya seperti pop-corn yang baru dimasak, meletup-letup gitu deh. Tapi,entah kenapa, si Cempluk—panggilan sayang untuk si jabang bayi, berbeda. Tendangannya yang seharusnya masih kecil-kecil itu terasa begitu kuat, sampai ke bokong. Kadang saya sampai terkaget-kaget.

Selasa, tepat ketika usia kandungan sekitar 23-24 minggu, saya diantar Mama kontrol ke Mbak Bidan, betapa terkejutnya saya, ternyata tensi yang biasanya 90, kini jadi 120. Kondisi janin secara fisik, dilihat dari perut ibunya, juga normal. Ketika disodorkan sonogram, si Cempluk seakan habis lari marathon, detak jantungnya begitu kuat!

“Lho, keras sekali ya , bu? Jarang-jarang ada bayi yang umur lima ke enam bulan sekeras ini detaknya,”

Saya Cuma ketawa-tawa, belum tau dia kalo si cempluk lagi marathon dalam rahim :P

Tak sampai di situ, kekagetan saya juga terjadi ketika melongok ke angka timbangan. Sewaktu hamil pertama, saya seperti salah satu artis “The Walking Dead”, dengan tinggi 165 cm dan bobot hanya 49 Kg. Untung saja, lingkar lengan masih dalam kategori normal, jadi tak ada yang perlu dicemaskan.

“Berapa mbak bid, berat saya?”

“57 Kg bu,”

Whaaaat : )))))

Ternyata naik 8 Kg sejak awal kehamilan. Seperinya 1-2 Kg ada di bayi, sisanya menjalar di sekiatr bokong dan paha.

Sebetulnya, usia kehamilan menuju 6 bulan ini menyenangkan, karena, baby bump sudah tampak. Saya jadi ada kesibukan lain yakni mengelus-elus perut dan bicara sendiri atau bernyanyi, berzikir dan mendongeng untuk si Cempluk. Anak ini juga termasuk anak yang sabar, sudah bisa diajak puasa bayar hutang menjelang Ramadhan. Dasar emang males, akhirnya kena batunya deh. Bayar hutang puasa malah pas hamil begini. Tapi, alhamdulillah, anak baik-baik saja, dan kuat puasa tanpa ada keluhan kecuali lapar dan haus :p

Can’t wait to experience another phase of Cempluk’s life inside me <3

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More