Menerima Penghargaan Tupperware She can Award 2013

Tupperware SheCAN! Award 2013, penghargaan untuk 89 orang yang menginspirasi Indonesia dengan karya-karya sosial mereka

Menerima Penghargaan Indi Women Award 2013

21 Perempuan Inspiratif Menerima pengharagaan "Indi Women Award" dari PT. Telkom Indonesia, dihadiri oleh Ibu Linda Gumelar, Menteri Peranan Wanita. Bagian saya, Socio Activist untuk Save Street Child

Crowd Funding Projects

Kita bisa keroyok project-project sosial ini bersama-sama untuk masa depan yang lebih baik. Gabung sekarang! ^^

Bersama Sarah Sechan dan Keluarga Save Street Child

Talk Show di NET TV bersama Sarah Sechan. Adik-adik ternyata sudah berbakat sebelum ditraining jadi host TV!

Kumpulan Puisi

Kumpulan puisi-puisi karya sendiri atau saduran dapat dibaca disini

Minggu, 14 Juni 2015

Catatan Kehamilan: Tendangan Halilintar dan Bodi Mekar

(Gambar Dari Sini)

Memasuki trimester kedua kehamilan, adalah saat paling membahagiakan. Bagaimana tidak? Pada trimester ini, para ibu hamil biasanya sudah mampu mengendalikan diri karena sudah terbiasa dengan perubahan hormonal yang ada pada tubuhnya.

Kasus nausea, pusing, mual, sudah jarang dijumpai. Ibu hamil menjadi bahagia, dan, gawatnya, doyan makan, sampai kadang-kadang kelewatan (Oke, ini saya doang sih kayaknya).

Memasuki usia kehamilan 20 minggu, mulai bulan kelima hingga keenam, para ibu hamil sudah bisa merasakan tendangan kecil dari janinnya. Kalau saya bilang sih, tinju. Karena, rasanya seperti pop-corn yang baru dimasak, meletup-letup gitu deh. Tapi,entah kenapa, si Cempluk—panggilan sayang untuk si jabang bayi, berbeda. Tendangannya yang seharusnya masih kecil-kecil itu terasa begitu kuat, sampai ke bokong. Kadang saya sampai terkaget-kaget.

Selasa, tepat ketika usia kandungan sekitar 23-24 minggu, saya diantar Mama kontrol ke Mbak Bidan, betapa terkejutnya saya, ternyata tensi yang biasanya 90, kini jadi 120. Kondisi janin secara fisik, dilihat dari perut ibunya, juga normal. Ketika disodorkan sonogram, si Cempluk seakan habis lari marathon, detak jantungnya begitu kuat!

“Lho, keras sekali ya , bu? Jarang-jarang ada bayi yang umur lima ke enam bulan sekeras ini detaknya,”

Saya Cuma ketawa-tawa, belum tau dia kalo si cempluk lagi marathon dalam rahim :P

Tak sampai di situ, kekagetan saya juga terjadi ketika melongok ke angka timbangan. Sewaktu hamil pertama, saya seperti salah satu artis “The Walking Dead”, dengan tinggi 165 cm dan bobot hanya 49 Kg. Untung saja, lingkar lengan masih dalam kategori normal, jadi tak ada yang perlu dicemaskan.

“Berapa mbak bid, berat saya?”

“57 Kg bu,”

Whaaaat : )))))

Ternyata naik 8 Kg sejak awal kehamilan. Seperinya 1-2 Kg ada di bayi, sisanya menjalar di sekiatr bokong dan paha.

Sebetulnya, usia kehamilan menuju 6 bulan ini menyenangkan, karena, baby bump sudah tampak. Saya jadi ada kesibukan lain yakni mengelus-elus perut dan bicara sendiri atau bernyanyi, berzikir dan mendongeng untuk si Cempluk. Anak ini juga termasuk anak yang sabar, sudah bisa diajak puasa bayar hutang menjelang Ramadhan. Dasar emang males, akhirnya kena batunya deh. Bayar hutang puasa malah pas hamil begini. Tapi, alhamdulillah, anak baik-baik saja, dan kuat puasa tanpa ada keluhan kecuali lapar dan haus :p

Can’t wait to experience another phase of Cempluk’s life inside me <3

Rabu, 29 April 2015

Catatan Kehamilan: The first pregnancy ultrasound

Alhamdulillah,
Meski hari ini agak rempong jenaka, tapi, jadwal kontrol ke bidan dan senam hamil berjalan lancar.

Si cempluk-- panggilan kesayangan buat jabanh bayi-- adalah anak yang manis, jarang rewel, tidak suka merepotkan ibunya, dan doyan makan, terutama siomay dan eskrim (sama kayak ibunya).

Sudah tiga hari ini, cempluk ditinggal bapaknya dinas ke Banjarmasin.

Dari sinilah drama dimulai.

Si anak manis berubah jadi anak riwil. Bikin mual. Males makan. Sering pengen pingsan..... Karena memang, tiap hari merasa sangat disayang si bapak. Makan juga disuapin. Kalau mau tidur dielus². Tiap pagi diciumin dan diajak ngobrol.... Tapi, tiga hari ini hampa.

Ibunya emang lebay....

Tapi, memang betul, selalu ada perubahan buruk kalau suami tak ada di rumah (bisa dibayangkan kalau anak ini lahir, bakal lebih sering nyariin vapaknya kali ya?). Cempluk ngga suka ditinggal.

Hari ini, ketika kontrol ke bidan, saya masih mau ngemil. Tapi dua hari (plus hari ketiga ini) memang jarang makan benar. Ala kadar. Yang penting kemasukan nasi. Alhasil, tadi ya hampir mau pingsan. Padahal juga lagi mau senam hamil...

Agak repot memang memenangkan hati si cempluk supaya berhenti rewel, salah satu jurusnya adalah, membisiki,"abimu pulang dek, nanti malam".

Tak lama, setelah kelas hamil selesai, kami masuk ruang pemeriksaan untuk kontrol.

Cempluk minggu ini mau di-tingkepi, masuk bulan ke-5.

Eh, ternyata, waktu dicek mbak bidan, cempluk sudah kedengar detak jantungnya! Alhamdulillah (saya sampai mau nangis bahagia).

Sehat terus ya nak, yang sabar kalau bapak ngga di rumah... Jangan ambegan atuh ih...

Ayo kita bobok siang 💋

Surabaya, 30 April 2015

Selasa, 28 April 2015

Catatan Kehamilan: Sakitnya Tuh Di Mana-mana


Gambar dari sini

Kehamilan merupakan moment yang banyak ditunggu nyonya-nyonya, setidaknya di kampung saya seperti itu. Meski kini, banyak nyonya-nyonya yang masih belum menginginkan buah hati terlalu dini merujuk pada kesiapan mental, finansial, dan alasan lain.

Omong-omong soal kehamilan....

Memang menyenangkan dan bikin deg-degan.

Terutama saat minggu pertama mengalami ‘telat datang bulan’, kemudian tes kehamilan menggunakan test-pack lalu ke bidan.

Tapi, jangan dikira proses hamil ini perkara mudah.

SAMA SEKALI TIDAK!

INI SOAL PERJUANGAN BUNG! #GakSante

***

Selama sembilan bulan lamanya, seorang ibu hamil akan dihinggapi aneka macam penyakit, mulai dari migren, anemia sampai mau pingsan, mual di pagi dan sore hari, urat tegang, nyeri, kram, demam, keputihan berlebih kayak setan sampai bikin ganti celana 5-10 kali sehari, swing mood/bahkan depresi: gampang nangis, bete, cemburu, marah, senang. Dan masih banyak lagi.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel berikut ini:


Selengkapnya soal sindrom-sindrom ibu hamil, bisa dibaca di sini:

Lalu, bagaimana dengan cerita saya?

Begini, saudara-saudara *ambil mik*

*Nyeri, Kram dan Penyakit Setelah Tidur*

Gini,

Bidan di puskesmas bilang, dan ini memang scientifically proven, bahwa, tidur dengan posisi miring ke kiri akan lebih menyamankan janin dan ibunya. Iya, kalau nggak tengeng (urat tegang, red), ya gak papa. Ibu nyaman kok. Iya nyaman *nangis*

Ini karena, dengan posisi miring ke kiri, asupan oksigen ke bayi menjadi lebih banyak. Dan masih banyak alasan medis lain yang, saya lupa. Karena dengerin Mbak Bidan sambil setengah ngantuk, setengah laper.

Ibu akan nyaman tidur dengan posisi miring ke kiri.....

Tunggu dulu,

Bayangkan, sepanjang malam tidur dengan posisi miring ke kiri....

Kalau saya terlentang, biasanya agak enak, tapi panggul jadi tertekan, akibatnya, badan makin sakit (konon kalau hamil besar, ini akan mengurangi suplai oksigen ke ibu dan janin).

Kalau saya miring ke kanan, tak bertahan lama juga. Biasanya ditarik suami buat miring ke kiri, atau minimal, terlentang. Tapi, otot sudah keburu menegang. Percuma.

Jadi begitulah, pemirsa.

Posisi tidur ibu hamil sungguhlah rempong.

Makanya,kami, ibu hamil di Indonesia, akan sangat tertolong dengan bantuan bantal khusus ibu hamil yang banyak dijual di pasaran (I’m gonna have one, yey!).

*Penyakit Mual-Muntah-Anemia*

Cerita soal penyakit yang biasa disebut “morning sickness” ini menimpa saya di sore hari.

Memang agak salah paham soal waktu, ini penyakit. Tapi gak papa.

Pagi hari, bagi saya adalah hari kerja paling efektif, karena badan masih semlohe fit. Jadi, bisa masak, dan mempersiapkan kebutuhan suami sebelum berangkat kerja (lumayan, poin pengabdian istri nambah satu di bagian ini, buat tabungan suk mben di hari perhitungan :D )

Alhamdulillah, pagi hari jarang rewel perutnya, paling sesekali.

Anehnya, kalau sore, ketemu suami aja males..... Udah mual, pusing, kepengen muntah. Bukan salah suami kok, meski jarang mandi malam, bawaan bayinya emang gitu.

Dan ini berlangsung selama hampir tiga bulan.

Alhamdulillah, pada bulan ketiga, frekuensi adegan mual-muntah-migren ini secara signifikan, berkurang.

Omong-omong soal migren,

Wah, ini makanan sehari-hari kepala saya.

Tiada hari tanpa migren. Disamping itu, kadang juga hampir black-out, karena kurang darah.
Jadi, ibu hamil, sebaiknya hindari berkendara kemana-mana sendirian, terutama pada awal trimester. Selalu ajak teman, entah suami, ibu, atau teman.

*Demam dan Flu*

Alhamdulillah, selama hamil sampai trimester kedua ini, belum pernah terserang penyakit berat sampai harus ‘ngamar’ di Rumah Sakit (bahkan, seumur hidup, paling ke RS pas lahiran sama kecelakaan aja).

Ini semua berkah Rahmat Allah, Sang Pemelihara. Ibu dan janin jadi tak perlu dikhawatirkan oleh keluarga.

Kalau demam? Paling ya, sebentar, terutama kalau bangun tidur. Suhu tubuh dengan lingkungan sekitar agak susah dikondisikan. Apalagi di musim penghujan seperti ini.

Kalau flu? Meski suami dan kucing-kucing sering terserang penyakit ini, alhamdulillah, saya dan janin belum pernah terkena flu sama sekali. Padahal ini virus manja. Tapi, tadi, karena Rahmat Allah, kami cukup difungsikan sebagai perawat keluarga yang sakit tanpa harus menambahi kerepotan di rumah :D

*Penyakit Vaginal: Keputihan*

Dulu, sewaktu masih SD, saya selalu merasa jengkel sama gadis-gadis iklan yang mengeluh soal keputihan. Menurut saya kok,”Ini orang ngga bersyukur amat dikasih kulit putih!”.

Eh, keputihan ternyata penyakita vaginal, tho yo.... Ya maap. Mana tau anak SD :D

Kali ini, pas lagi hamil, jangan harap area vagina bakal bersih-mulus-wangi-bebas penyakit. Eh ya bisa sih, cuma, karena pengaruh hormonal, keputihan jadi lebih sering diderita oleh ibu hamil.

Terutama saya.

Bukan bermaksud jorok, this is very important!

Karena, keputihan ini akibatnya ke seluruh tubuh, soal sanitasi.

Setiap hari, saya sampai harus ganti celana dalam 5 hingga 10 kali! Bayangkan! Apalagi kalau sampai harus lelarian angkat jemuran pas hari lagi hujan, keputihan saya bisa meningkat sebanyak 100 persen! (kayak disurvey aja, yah). Banyak buangeeet...

Selidik punya selidik,

Ternyata, keputihan semacam ini memang biasa dialami oleh ibu hamil. Jadi, segera konsultasikan ke dokter untuk pengobatan lebih lanjut.

Sebelum ke dokter, saya biasakan mengurangi penggunaan celana dalam jika di rumah, dan segera membasuh vagina ketika dirasa ada cairan yang keluar. Yang paling utama: hindari capek. Jadi ibu hamil yang selow aja hidupnya, ngga usah ngurus-ngurusin yang gak perlu, apalagi ngurusin gosip dari tetangga.

*Swing mood/ depresi*

Meski para ahli menyatakan bahwa ibu hamil rentan mengalami depresi, namun, bagi saya, depresi ini sangat “kuat” pelabelannya. Jangan sampai, kita terbawa tren label, dan malah menyengsarakan diri sendiri. Depresi ini harus di-assesment oleh psikolog, bukan orang yang tak profesional. Depresi merupakan kategori mental illness yang cukup serius, sehingga, hati-hati ya menggunakan istilah ini.

Saya lebih senang menyebutnya ‘swing mood’, meski ini juga seharusnya ditanyakan ke pakar sih. Tapi, sepertinya, kalau mood yang berubah ini, bisa sangat terlihat dari gerak-gerik, mimik, dan sikap, sih ya?

Kalau saya, nangis adalah hal biasa. Meski gara-gara penyebab yang sepele, misal tetangga teriak-teriak ganggu banget pagi-pagi, diomelin mama, cemburu sama suami, kepentok meja, itu biasa banget. Ibu hamil (eh, saya maksudnya), juga cenderung emosian. Dalam hal ini, segala jenis emosi ya: marah, sedih, cemburu, galau, khawatir, senang, Semuanya mendadak, dan kadang ngga disangka. Perubahan mod sangat cepat sampai suami kadang serba salah :D

Maafkan istrimu ini, ya, mas suami. I just can’t help it.

Sangat penting mengerti perasaan ibu hamil, dan tenangkan dia di saat galau, khawatir, sedih..... Es krim biasanya sangat membantu, atau,belikan hape baru, gitu *evil grin*

***

Sementara, daftar penyakit yang saya ingat BARU SEGITU.

Iya, masih banyak segudang penyakit lain yang demen banget hinggap di ibu hamil. Tanya aja sama emak atawa bini kalo kagak percaya.

Tulisan ini dimaksudkan sebagai informasi terhadap semua orang, bahwa, menjadi ibu hamil tidaklah mudah.

Setiap hari adalah perjuangan, untuk diri dan janinnya. Jadi, siapapun yang punya keluarga yang sedang hamil, please be kind to her.

Daftar hal-hal yang harus diperjuangkan setiap harinya meningkat dari waktu ke waktu, bahkan soal naik-turun tangga (kamar saya ada di lantai 2, red).

Minimal, kalau tak bisa senangkan ibu hamil, jangan membuat hatinya sedih. Kalau kita memaklumi dan menolong ibu hamil melalui hari-harinya dengan suka-cita, insyaAllah, kita tak hanya berbuat baik padanya, tapi juga pada janin yang ada dalam rahimnya. Kalau ibunya bahagia, anaknya juga ikutan bahagia, dan sebaliknya.

Yuk, mulai peduli pada ibu hamil :)

Surabaya, 28 April 2015

Minggu, 12 April 2015

Catatan Kehamilan Trimester Pertama: Yey!



I'm Pregnant! 

Yey!

Diluar dugaan, kehamilan datang secepat kilat. Memang, prediksi ibuku, kehamilan akan terjadi tak lama setelah akad. Benar saja, dua minggu selepas haid terakhir, kami melangsungkan akad. Dan, Jreeeng! Alhamdulillah, Allah langsung menitipkan malaikat kecil pada rahim saya.

Bagaimana rasanya mendapat amanah seperti itu?

Rabu, 11 Februari 2015

10 Langkah Pesta Nikah Murah

Gambar diambil dari sini

Hidup itu sederhana, yang hebat hanya tafsiran-tafsirannya.
Begitulah prinsip hidup Pramoedya Ananta Toer, novelis legendaris yang pernah menjadi kandidat peraih nobel sastra dari Indonesia. Saya pun demikian. Menyukai hal-hal yang sederhana, tak berlebihan, karena begitupun yang diajarkan oleh agama Islam. Ajaran yang saya anut.
Dalam prinsip ini, tentu saja harus sejalan dengan kehidupan. Termasuk, diantaranya, dalam penyelenggaraan pesta pernikahan.

Dalam tulisan berikut, saya ingin berbagi dengan teman-teman tentang bagaimana cara meminimalisir biaya pernikahan dengan pesta yang meriah, namun, terjangkau dan menyenangkan semua pihak.

Pernikahan adalah hari yang sangat dinanti-nanti bukan?

Berikut saya rangkum, 10 LANGKAH MUDAH yang bisa teman-teman ikuti untuk menyelenggarakan pesta pernikahan murah tanpa wedding organizer.

1) Tunangan All-In
Kebetulan, saya adalah orang Jawa. Adat Jawa tidak mengenal tunangan, tapi, lamaran. Lamaran adalah proses penjajakan kedua keluarga sekaligus meminta persetujuan pihak yang akan dinikahkan. Namun, supaya lebih memudahkan ke depannya, kami memutuskan untuk tukar-cincin juga (tunangan). Cincin ini juga yang akan jadi cincin kawin di kemudian hari. Tinggal dipindahkan saja dari jari manis kiri ke jari manis kanan. Hemat nan pantas, bukan?


Gambar diambil dari sini

2) Pesta di Salah Satu Pihak
Dalam budaya Jawa, ada dua pesta, pesta pernikahan di pihak perempuan dan pesta pernikahan di pihak laki-laki, istilahnya “ngunduh mantu”. Padahal, jika pesta di salah satu pihak saja, itu cukup menghemat anggaran. Keduabelah pihak, laki-laki dan perempuan, dapat saling dukung perihal dana dan tenaga.
Kalau kami, hanya pesta di satu pihak saja, sedangkan di pihak laki-laki diadakan tasyakuran sembari pengajian saja. Kebetulan, suami memang anak terakhir yang menikah, kedua adik perempuannya sudah nikah duluan. Jadi, tidak ada masalah. Ingat, selalu musyawarah ya :)


Foto dok. pribadi

3) Atur Anggaran Pesta

Pesta tanpa anggaran ibarat maju ke medan perang tanpa senjata. Ini sangat penting. Karena segala pernak-pernik yang dibutuhkan sewaktu perencanaan kelak akan sangat menipu. Sisihkan 10%-20% dana tak terduga untuk menutup biaya.

Gambar diambil dari sini

4) Buat Ceklist dan Dateline
Sudah tau apa saja yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan pesta pernikahan? Jika belum, silakan unduh dokumen ini. Saya sempat catat apa saja yang diperlukan untuk tetek-bengek pesta pernikahan, mulai browsing-browsing maupun nanya teman-teman yang sudah nikah duluan.
Ceklist dan dateline ini sangat penting dalam mempersiapkan pesta pernikahan supaya keep in track. Saya dulu persiapan pestanya tiga bulan, dan itu rasanya cepat sekali lho! Watch your dateline, ya!
- Unduh GRATIS Ceklist Excel Di Sini
- Unduh GRATIS Label Undangan Di Sini

Gambar diambil dari sini

5) Cari Vendor
Vendor adalah jantung dari sebuah event, setelah konsep dan anggaran. Mengapa? Sekalinya kita menemukan vendor yang pas di hati, baik secara jalinan kerjasama maupun biaya, ini akan menyukseskan event.
Gambar diambil dari sini

6) Urus Surat Nikah  
Setelah mempersiapkan semuanya, selalu ingat,H-30 kalau bisa usahakan mengurus surat nikah. Bagaimana caranya? Ikuti langkah berikut ini ya-> KUA Benowo
Saya sendiri mengurus persyaratan ini tidak lebih dari 5 jam, mulai dari RT/RW dan tentu saja, GRATIS! :)

Foto dok.pribadi

7) Asah Kreativitas
Menghelat pesta pernikahan artinya harus kreatif. Untuk itulah, orang-orang yang tak mau terlalu repot dan punya dana bisa membayar wedding organizer. Jangan khawatir. Ada jutaan situs di internet yang bisa bantu kamu untuk mencari inspirasi mulai dari design cincin kawin, design undangan, cara bikin undangan online gratis, cara make up dan hair-do/ hijab-do, model gaun terkini, sampai bagaiman cara berpose dengan kamera jepretan tripod namun terasa profesional. Ini tentu sangat menghemat budget pernikahan.

Gambar diambil dari sini

8) Manajemen Event Mandiri
Kreatif artinya berdaya mandiri dan penuh ide. Kalau saya, tentu saja memanajemen event mandiri (dibantu keluarga). Silakan download ceklist pada point no. 4 dan tambahkan sesuai kebutuhan. Pesta pernikahanmu tentu dapat berjalan lancar, sesuai budget.

Gambar diambil dari sini

9) Perawatan Pranikah Di Rumah
Siapa bilang perawatan pra-nikah harus berbiaya selangit? Untuk perempuan yang sudah terbiasa dengan do-it-yourself treatment seperti saya, perawatan pranikah cukup dilakukan di rumah. Ada jutaan tips di internet untuk hal ini, salah satunya adalah: Skin Beauty Care, Crazy Indian Wedding, Style Craze dan masih banyak lagi.
Saya sendiri sudah rutin menggunakan masker dan lulur seminggu sekali, bahkan sejak kelas 2 SMP! Hehe... Jadi, jangan khawatir, perawatan di salon itu mahal di jasa kok. Bahan-bahan serupa banyak ditemukan di supermarket terdekat dan tentu saja, dengan bantuan saudara, kamu bisa melakukan perawatan ala spa di rumah. Mudah dan murah.

Gambar diambil dari sini

10) Minta Bantuan Saudara/ Sahabat
Last but not least, minta bantuan saudara dan sahabat. Tanpa mereka, kita bukanlah apa-apa. Tentu saja diiringi doa ya, supaya pesta pernikahanmu dari A-Z bisa optimal. Di Jawa, ada istilah “Rewang”. Tradisi turun temurun yang mengakrabkan sanak-saudara untuk bahu-membahu membantu segala persiapan hajatan. Dan ini sifatnya take-and-give, siapa yang sering ‘rewang’, dia juga yang akan ‘direwangi’. Menjadi makhluk sosial yang seutuhnya memang harus mengenal dan menjaga silaturahim dengan tetangga dan saudara, sehingga, kelak, kita akan dimudahkan.

Gambar diambil dari sini

Good luck untuk persiapan pernikahannya ya!
Selalu cek-ricek dan berdoa.
Semoga tulisan ini membantu!

Love,
Shei


Rabu, 21 Januari 2015

Tai Kucing Rasa Coklat

Gambar diambil dari sini

Ibarat petuah urban-legend tentang cinta yakni “tai kucing rasa coklat”, begitu pula kami menjalani hari-hari sebagai suami istri. Kalau dulu pernah ilfeel sama gebetan yang melakukan perbuatan tidak senonoh, misal, kentut sembarangan, pasti kita sudah kehilangan hasrat ingin mendekat, kan?

Ini tidak berlaku ketika menjalani kehidupan rumah tangga.

Baik-buruk pasangan sudah seperti mata koin yang menjadi satu kesatuan.

Saya yang ceroboh dan tidak sabaran ini harus bisa diterima apa adanya oleh suami yang penyabar, namun saklek dalam beberapa hal dan suka mengkritik istrinya yang, kalau sedang bad-mood, bakal ngambek, tentunya.

Namun, banyak hal istimewa setiap hari yang menjadi harta-karun tak ternilai dalam memahami pasangan lagi dan lagi. Pembelajaran tentang kehidupan disertai gesekan yang kadang menyulut bara amarah, kadang malah bikin enak #eh, sudah menjadi bumbu rumah tangga.

Yang pasti, bumbu-bumbu ini seharusnya tak mengubah cita rasa menu utama: ketakwaan dalam beribadah. Bukankah, menikah itu menyempurnakan separuh iman?

Jadi, apa yang kita lakukan setiap hari, sebagai suami-istri, sebetulnya memiliki nilai ibadah, kalau niat kita lurus karena Allah.

Sedikit cerita, pernah suatu hari, ketika suami hendak berangkat kerja, sepatunya kena tai kucing. Padahal, ia sedang terburu-buru, karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul tujuh. Satu jam lagi ia sudah harus tiba di kantor, belum kalau kena macet.

Mungkin, bagi sebagian orang, insiden kecil begini sudah bikin rusak hari. Bagaimana tidak, sudah terburu-buru kok masih harus bersihin tai kucing yang nempel di sepatu kulit yang awalnya hitam mengkilat karena disemirin istri tiap hari.

Tapi suamiku tidak.

Ia tidak marah. Hanya menunjukkan padaku, lalu dibersihkan sendiri. Kemudian ia menyemirnya, lalu menyeruput teh hingga habis setengah, kemudian pamit kerja seperti biasa.

Sesampainya di kantor, ia mengirimiku pesan sngkat yang mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai dengan selamat, hanya telat 3 menit, dan memberitahu kalau akan menelepon beberapa saat lagi.

Ketika kuangkat teleponnya, ia hanya pamit akan pergi dinas ke Banjarmasin besok, lalu sedikit mengungkit kejadian tadi pagi.

Sebagai istri, sebenarnya aku malu dan merasa lalai karena tidak memeriksa sepatunya terlebih dahulu. Biasanya, setelah membuatkan teh dan menyiapkan bekal, aku menyemir sepatunya. Aku menikmati mengabdikan diri sebagai istri seperti itu, seperti yang dilakukan ibuku. Seperti yang dianjurkan ajaranku. Fitrah istri sebagai pelengkap suami, karena, suami juga punya tanggung jawab lain kepada istrinya. Hubungan timbal balik seperti ini tidak seharusnya dihitung untung-rugi. Tapi, lagi-lagi, sebagai bentuk ketakwaan sesuai perintah agama.

Sebetulnya, aku merasa malu dan jengkel pada diri sendiri. Ini yang menyebabkan aku agak marah (karena denial) ketika suami menunjukkan ada tai kucing di sepatunya.

Apakah aku kemudian tersinggung dan mengira ia menyindirku?

Tidak (awalnya iya).

Aku meminta maaf atas kelalaianku, tentu saja setelah kejadian itu berlalu.

Akibatnya adalah, suamiku malah bilang, kalau insiden itu bukan apa-apa, dan bukan atas kelalaianku. Cuma cobaan kecil di pagi hari supaya sabar (Oh, aku sangat mencintainya). Dan benar saja, ia bisa sabar. Meski ia mengaku, awalnya ia sangat ingin marah, entah ke siapa, karena jengkel dan terburu-buru.

Betapa menyenangkan memiliki partner hidup yang bijak seperti itu. Aku sangat bersyukur.
***
Menjalani rumah tangga, ibarat, menjalani titian jembatan yang harus dilakukan berdua. Jika tidak, keseimbangan akan goyah, kita pun akan terjatuh, dan mati. Pengekangan ego dan toleransi tinggi sudah harus dijalankan sejak hari pertama mengarungi bahtera hidup bersama. Selain itu, niat awal, Lillahi ta’ala, bisa menjadi modal utama jika kelak, ada cek-cok kecil mewarnai keseharian.

Selalu ingat Allah dalam setiap langkah kita berumah tangga.

Kami pun selalu belajar setiap hari, memperbaiki niat berulang kali, dan menyempurnakannya lagi dan lagi, tiada putus.

Apapun yang dilakukan istri kepada suami dan suami kepada istri adalah bentuk ibadah, sedangkan pengingkarannya adalah pengkhianatan tak hanya ke pasangan tapi juga pada Allah.

Jika hal itu menjadi tonggak utama, niscaya, bumbu-bumbu rempah dalam membina rumah tangga benar-benar sebagai penyedap saja, tanpa mengurangi cita rasa menu utama tadi.

Senyumnya istri, ibadah. Berhiasnya istri untuk suami, ibadah. Memasak untuk keluarga, termasuk ibadah. Mengandung, melahirkan, merawat, hingga membesarkan anak, terhitung ibadah juga. Inilah mengapa, menikah memang menyempurnakan separuh iman. Ingat ya, separuh, lho. Bukan hanya sebagian saja. Betul-betul 50%, InsyaAllah. Betapa mulianya pernikahan, betapa mudahnya menegakkan ibadah dan mencintai Allah.

Sudah siap?

Menjadi Istri Ternyata Tidak Menyenangkan.....


Pikiran tentang menikah dan menjadi seorang istri, agaknya, bagi kebanyakan perempuan merupakan suatu impian sekaligus mimpi buruk yang hadir bersamaan. Betapa tidak, impian untuk jadi cinderella bisa saja terbalik 180 derajat menjadi upik abu, jika, ternyata suami yang dinikahinya tak sesuai harapan.

Ini terjadi pada saya.

Seminggu lalu, tepatnya, 10 Januari 2015, saya menikahi pria yang saya kenal selama dua tahun. Kemudian kami melanjutkan hidup masing-masing dan bertemu lagi beberapa bulan kemudian. Lalu semakin dekat, kemudian memutuskan untuk menikah enam bulan kemudian.

Bayangan saya, menjadi istri itu ngeri-ngeri sedap.

Ternyata benar saja....

Menjadi istri ternyata tidak menyenangkan..................







Tapi sungguh menakjubkan!

Setiap hari, biasanya saya bangun tidur, melakukan rutinitas harian tanpa tujuan, kemudian kembali tidur, kini memiliki alasan: membahagiakan suami dan mengharapkan Ridho Illahi.

Sekarang, setiap pagi, saya selalu terbangun dengan kecupan dan pelukan hangat, kemudian dilanjutkan dengan aktivitas harian, menyiapkan bekal suami, menyemir sepatunya, dan mendoakan supaya hari-harinya penuh berkah dalam rangka mencukupi nafkah untuk keluarga kecil kami.

Setiap hari, saya jadi punya alasan untuk berhias diri demi suami.

Setiap hari, saya merasa menjadi perempuan paling istimewa di muka bumi berkat cinta dari suami.

Rutinitas ini begitu menyenangkan bagi saya, meski kadang membuat lelah (dan berbunga-bunga). Suami saya tak pernah cerewet. Kalau saya capek, tidak masak, ya kami jadi punya alasan untuk makan malam di luar. Malah, kadang kalau otot terlanjur kaku dan butuh diurut, suami mau mengurut otot-otot dengan penuh cinta. Pernah juga, suatu malam, ketika saya masih sibuk dengan cucian, sepulang kerja, ia turut membantu menjemur cucian-cucian itu tanpa mengeluh.

Menjadi istri, ternyata menjadi perempuan yang paling dicintai suami setelah ibunya. Dan ini sangat menyenangkan! Saya malah berfikir, kenapa ya nggka menikah sejak dulu? Kalau ternyata, jadi istri tuh enak kayak gini :)

Gimana pengalamanmu jadi istri? Share yuk...
Yang belum menikah, didoakan supaya segera bertemu dengan jodohnya dan mengalami kejadian-kejadian ajaib setiap hari bersama suami ya :)

Love,
Shei

Sabtu, 10 Januari 2015

Kisah Kami, Dua Tahun Lalu, dan Enam Bulan Kini

"And of His signs is that He created for you from yourselves mates that you may find tranquillity in them; and He placed between you affection and mercy. Indeed in that are signs for a people who give thought." 
(Q.S. Ar-Rum: 21)


“Mas dimana?”

“Di kantor, jadi ke Plaza Festival?”

“Jadi kok, aku udah di sini sama pacarku. Aku tunggu ya,”

Dan telepon pun terputus. Mas Faris sampai di Plaza Festival beberapa jam kemudian, dengan beberapa lembar dokumen dalam satu map, ia kemudian menyodorkan pulpen. “Tanda tangan di sini, sini, dan sini. Maaf gak bisa lama, mau pulang,”.

Aku tersenyum dan menurutinya. Setelah tanda tangan, Mas Faris pulang. Aku dan pacarku lalu karaokean bersama teman-teman. Kami begadang hingga tengah malam. Dengan wajah agak pucat, mungkin kelelahan, Mas Faris menyetop taksi dan pulang menuju kosan. Saat itu, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Mas Faris masih semangat membantu mengurus Akta Yayasan. Ia begitu baik, tanpa pamrih. Ia selalu mendatangi kami, bahkan hanya untuk sebuah tanda tangan. Kami tak pernah membayarnya. Aku selalu merasa beruntung memiliki dia dalam organisasi.

Beberapa bulan berlalu, setelah Akta Yayasan jadi, aku jarang mendengar kabarnya. Biasanya, kami sering janjian untuk rapat organisasi, jalan-jalan, maupun bersenang-senang. Akhir-akhir ini, ia tampak menghilang. Rindu, mungkin. Karena kami sama-sama di perantauan. Aku dan Mas Faris juga berasal dari kampung halaman yang sama, Jombang, Jawa Timur. Perkenalan beberapa tahun lalu sewaktu SSC memperingati “Hari Anak” menjadi awal mulanya. Kami terkejut, mengetahui berasal dari kampung yang sama. Tapi, ia banyak menghabiskan waktu di Malang, kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang, dan aku tumbuh-besar di Surabaya. Jombang, menjadi kota yang kami rindukan. Sejak saat itu, aku menganggapnya sebagai kakak.

***
“Mas, sehat?”

“Sehat kok. Kenapa Dek?”

“Nggak, kok jarang ada kabar. Nonton yuk..”

“Walah, aku sekarang tinggal di Malang”

Bak disambar petir di siang bolong, aku terkejut. Bagaimana bisa dia pindah tanpa pamit? Padahal, kami begitu dekat, kenapa dia tak cerita? Mas Faris lalu menjelaskan bahwa kepindahannya tanpa pamit memiliki alasan, salah satunya, ia tak ingin berat berpisah dengan teman-teman di organisasi. Aku mencoba mengerti, meski sedih hati. Aku telah kehilangan sosok kakak yang membuatku nyaman. Bahkan, ada banyak hal yang tidak kuceritakan pada sahabat, maupun, pacar, tapi aku merasa nyaman cerita pada Mas Faris. Sosoknya yang teduh dan penuh wibawa, membuatku percaya bahwa dia amanah dan menyenangakan. Melihatnya, seperti melihat kegigihan adikku, dan kelembutan serta ketegasan Bapakku. Aku begitu menghormatinya. Mungkin, memang inilah ciri khas Laki-laki Jombang. Entah mengapa, aku merasa sangat nyaman.

***
Beberapa bulan sejak kepindahan Mas Faris, aku sudah melupakannya. Fokusku ke orang lain beralih ke diri sendiri. Aku memiliki banyak hal yang harus diurus, terutama semenjak putus dengan pacar terakhir. Kami sempat merencanakan untuk menikah, tapi takdir berkata lain. Akhirnya, aku sibuk menata diri kembali. Sedih dan putus asa sempat menghampiri, namun, karena kasih sayang Allah dan kelembutan serta dukungan sahabat-sahabat dekat, aku bisa tegar dan bangkit kembali. Sejak saat itu, aku tak ingin pacaran lagi. Aku memutuskan untuk mencari suami. Meski banyak yang menghampiri, aku bergeming. Aku tidak ingin lagi main-main, kemudian, aku semakin mendekatkan diri pada Illahi, meminta perlindunganNya supaya tak lagi tergoda. Supaya aku semakin matang dan dewasa. Akhirnya, aku meminta salah seorang sahabat terpercaya untuk membimbingku, secara emosional dan spiritual. Aku pun disarankan untuk membuka hati lewat proses taaruf. Beberapa orang sempat singgah dan aku jajaki, namun, ternyata kami belum berjodoh. Berbagai profesi, status sosial, umur dan tingkat ketampanan tidak menjadi tolok ukur. Semuanya kuserahkan pada Allah. Sebelum memutuskan apapun, aku selalu Istikharah. Namun sayang, gagal. Aku tidak juga diyakinkan oleh pilihan-pilihan yang datang.

Sebetulnya, episode hidupku akhir-akhir bukan hanya mencari jodoh, tapi juga menemukan jati diri. Semakin tenggelam dalam rutinitas dan kebisingan Jakarta, semakin kering kerontang hati dan jiwa. Aku merasa tersesat. Aku merasa ada sesuatu yang hilang. Setelah memperbanyak dzikir dan doa-doa, akhirnya aku merasa tenang. Lalu, pada suatu ketika di Bulan Ramadhan, alhamdulillah, aku mendapat hidayah. 

Aku pun hijrah.

Aku hijrah secara spiritual dan sosial. Aku kembali mengenakan hijab, aku juga kembali ke Surabaya. Aku kemudian membatasi diri dari pergaulan-pergaulan seperti sebelumnya. Sedikit demi sedikit, aku mulai meninggalkan kebiasaan lama.

***
“Mas, sehat? Rumah mas dimana sih?”

“Sehat alhamdulillah. Di Perak, dek, kenapa?”

“Main yuk! Aku juga lagi di rumah Mbah,”

Beberapa hari sebelum lebaran, aku dan Mas Faris kembali bertemu di kota kerinduan, Jombang. Sudah lama rasanya aku menginginkan untuk datang ke kota ini. Ngopi sambil makan bakso di alun-alun ditemani lampu temaram. Duduk-duduk merasakan angin malam hingga kepala pusing, kadang juga kehujanan. Ah. Rindu rasanya.

Aku tak mau melewatkan kerinduan ini sendirian, reuni harus terjadi! Aku harus mengajak Mas Faris, teman satu organisasi dan memamerkan kebersamaan kami ke teman-teman di Jakarta supaya bisa ikut menyusul ke Jawa Timur. Malam itu juga, aku mengajak adik dan tanteku ke Alun-alun, aku juga mengajak Mas Faris untuk ketemuan di sana.

“Assalamualaikum, Mas! Alhamdulillah, bisa ketemu.. Aaaa kangen!”

Kami bersalaman, melepas rindu sambil memesan dua cangkir kopi panas. Malam itu, cuaca di Jombang sedang dingin, gerimis juga kadang datang. Tapi kami tetap tak ingin membatalkan jadwal. Rupanya, aku baru sadar, itu adalah kali pertama Mas Faris melihatku mengenakan hijab. Awal mula berhijab, aku memasang foto di Whats App, dan ia berkomentar standar, “cantik,” katanya. Aku sudah biasa dipuji begitu, bukan hal baru. Tapi, setelah malam itu. Pujian darinya begitu berbeda. Pujiannya menggetarkan hatiku. Ada apa sebenarnya?


“Kalau aku mampu, mending aku yang ‘minta’ dedek ke orang tua dedek,”

Awal pembicaraan canggung kami dimulai setelah malam itu. Meski sempat terkena gerimis dan pusing, aku pikir, kali ini pusing di kepalaku berbeda. Perutku juga agak kram. Jantungku berbedar. Lamat-lamat aku mengamati tulisan di layar ponsel dengan gejala yang sama. Aku lalu menanyakan maksudnya. Rupanya, ia ingin melamarku.

APA? IA INGIN MELAMARKU?

SERIUSAN, DIA INGIN MELAMARKU?

“Mas, serius? Becanda ya?”

“Lho, masa yang kayak gini becanda? Ora ilok,”

“Ya Allah!”

Aku kemudian terdiam dalam waktu yang sangat lama.

***
"Nggak mampu gimana, Mas?"

"Ya, aku masih belum punya apa-apa. Hidupku sangat sederhana. Dedek lebih pantas bersanding dengan pria yang lebih mapan,"

Aku bergeming, sambil tersenyum, aku membalas pesan singkatnya.

"InsyaAllah harta bisa dicari, tapi kalau jodoh, anugerah dari langit yang harus dijemput saat ini,"

***

Kecanggungan kami kemudian berlanjut. Setelah pembicaraan lewat ponsel itu, kami memutuskan untuk istikharah bersama. Aku tak ingin terburu nafsu dan mengiyakan atau menolak tanpa meminta petunjuk. Beberapa pertimbangan rasional sudah ada, selanjutnya, tinggal menyerahkan pada Yang Maha Kuasa.

Aku begitu ingat memori lama saat kami selesai rapat kerja di Jakarta. Aku, dan beberapa teman perempuan, ditemani Mas Faris, memutuskan untuk menginap semalam di basecamp, sambil bersih-bersih. Para perempuan tidur di kamar, Mas Faris di ruang tamu beralaskan tikar. Kami begadang sampai tengah malam, lalu kelaparan. Mas Faris terlihat masih tidur. Aku dan teman-teman memutuskan untuk membeli mie goreng di warung depan. Dengan hati-hati, aku membangunkan Mas Faris. Mungkin saja ia juga ingin makan. Rupanya ia terbangun dan hanya memesan teh panas. Kami beranjak menuju warung dan makan sampai kenyang. Sepulang dari warung, kami mendapatinya sedang membaca Al-Quran. Aku begitu terharu. Belum pernah aku bertemu lelaki di Jakarta yang, setelah solat tahajud, kemudian membaca Al-Quran. Sempat aku berbisik ke teman-teman,”Lihatlah, kalau Mas Faris jadi suami, Ia pasti jadi Imam yang baik,”.

***
“Jadi, gimana dek?”

“Aku lapar, mas...”

Proses istikharah kami berdua telah berlangsung, dan baru kemarin malam, ada petunjuk untuk melangkah lebih jauh lagi. Namun, sebelum menjawab pertanyannya, aku minta izin untuk memberi hak pada lambung dulu. Hari itu, kami baru saja menghadiri peringatan setahun SSC Mojokerto. Kami begitu bahagia. Aku, terutama. Bisa melihat semangat teman-teman dalam memberikan pelayanan pendidikan pada sesamanya. Ini menjadi penghangat jiwa dan kemanusiaan. InsyaAllah barokah jika diiringi niat untuk mengabdi di Jalan Allah.

Kami makan ayam penyet.

Aku ingat, dulu waktu di Jakarta, Mas Faris sering sekali dimintai teman-teman untuk membelikan eskrim. Kali ini pun sama. Seperti adik kecilnya, aku meminta dibelikan eskrim. Es itu pun habis sebelum hidangan disajikan.

Dengan wajah tertunduk, sebelum ia menanyakan lagi, aku bercerita soal mimpi di solat istikharahku. Mas Faris tampak tersenyum malu-malu. Ia menatapku lekat-lekat dan bilang, “InsyaAllah aku akan segera melamarmu,”.

Aku pun tersedak lalu mengangguk.

Kami kemudian menghabiskan es jeruk dan bersiap untuk pulang.

"Gimana, Mbak? Sukses?" Tanya sepupuku, Ninis, setelah aku pulang. Aku mengangguk dan memberitahunya kalau kami akan lamaran.
***
Sebulan berlalu sejak Mas Faris menyatakan kesediaannya untuk melamarku. Ia kemudian ke rumah dengan keluarga besarnya. Ini sungguh lucu. Aku menghitung kedatangan Mas Faris ke rumah dalam dua bulan terakhir. Hanya tiga kali. Aku mengingat-ingat kelakuan saat remaja dulu, bolak-balik ke  rumah pacar, bolak-balik jalan berdua, bolak-balik putus cinta. Kali ini, aku akan menikahi orang yang bahkan belum pernah menjadi pacar sebelumnya.

Kedatangan Mas Faris yang pertama, adalah ketika dia mengantarkanku setelah dari Malang, kebetulan aku silaturahim ke teman-teman SSC Malang. Kedatangan Mas Faris yang kedua, adalah ketika Mas menjemputku di stasiun saat tengah malam, setelah aku melancarkan proyek #JadwalKelanaShei keliling dari Mojokerto, Malang, Dieng, Jogja, hingga Singapura dan Malaysia. Kedatangan Mas Faris yang ketiga adalah saat ia ke rumah bersama keluarga besarnya untuk melamarku. Benar-benar waktu yang sangat singkat, dan mulus. Keinginan kami disambut baik keluarga dan InsyaAllah diridhoi Allah. Acara lamaran berjalan lancar, kami pun mempersiapkan pernikahan empat bulan kemudian.
***
“Mas, nggak nyangka ya?”

“Iya ya, dek. Dulu kemana aja ya kita? Udah kenal lama, baru niat nikah sekarang-sekarang,”

“Hihi... Jodoh emang Rahasia Allah, ya mas...”

Aku menghitung, sejak awal kami bertemu kembali dan taaruf, hingga lamaran dan walimahan, ada enam bulan waktu yang terdedikasikan. Sebulan untuk taaruf, sebulan kemudian lamaran, dan empat bulan selanjutnya untuk persiapan walimahan.

Alhamdulillah, hari ini kami akan melangsungkan akad nikah. Resepsi akan dilancarkan sehari setelahnya. Berbagai sanak-famili dan sahabat sudah diundang. Doa-doa dan harapan pun dimunajatkan. InsyaAllah, kami akan menjadi pasangan berbahagia, sakinah, mawadah, warahmah dengan Ridho Allah dan doa teman-teman semuanya.

Subhanallah, Maha Suci Allah beserta segala karunia dan rahmatnya.

Cerita ini pun berakhir dengan bahagia, meski tanpa istana, gaun mewah, dan pangeran kuda putih dengan pedang baja-nya.


Surabaya, 10 Januari 2015


Shei dan Faris Mohon Doa Restu....

Minggu, 12 Oktober 2014

Cerita Hijrah #1: Keranjang Cucian


Sudah 103 hari kiranya saya berhijrah, saya sekarang memakai hijab (alhamdulillah). Ini adalah upaya untuk mematuhi perintahNya dan menunjukkan rasa syukur dan cinta saya padaNya. Nah, Cerita Hijrah ini adalah sebuah catatan kecil dari saya untuk teman-teman semua tentang bagaimana saya menjalani hidup setelah resmi berhijrah. Dalam edisi perdana Cerita Hijrah ini, saya akan berbagi soal “keranjang cucian”.

Sebelum berhijab, saya adalah penggemar celana pendek, kaos ketat, tanktop, dan baju-baju mini lainnya. Bukan apa-apa, saya ini orang yang sangat malas dan gerah-an! Seriously. Menurut saya, hidup di iklim tropis seperti Indonesia ini sungguh tak manusiawi kalau harus memakai baju-baju yang bikin gerah. Sebagai anak yang mencintai pantai, saya pun setia banget sama baju-baju terbuka yang bisa menangkan angin melalui kulit. Pori-pori yang, meski kecil tapi sangat berguna, dalam kulit, memang sudah seharusnya menangkap kesejukan angin dan mengalirkannya ke seluruh penjuru tubuh. Saya jadi kerasan dengan baju tipe-tipe begitu.

Ketika akhir pekan datang, sebagai anak kosan, tentu satu hari dalam dua hari libur didedikasikan untuk “hari bebersih sedunia”. Entah bebersih diri, kamar kosan, atau hal-hal lain yang terlantar setelah lima hari ditinggal kerja. Sepertinya, hari-hari memang ketat sekali, ya? Susah rasanya brsenang-senang selalu tanpa diburu-buru deadline.

Keranjang cucian saya tak pernah terlalu penuh dengan baju-baju berat kecuali celana jeans yang dicuci setiap dua minggu sekali. Baju kantor juga tak begitu berat, kadang hanya midi-dress, paling banter blazer, atau celana hitam panjang yang dipadukan dengan kemeja tipis-tipis yang anti-gerah. Kadang, kalau tak sempat mencuci sendiri, karena kadang lembur,saya menyerahkan keranjang cucian ke tukang cuci langganan. Senang sekali, tak pernah bengkak bayar cucian, karena memang baju saya tipis-tipis.

Beberapa bulan lalu, saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjalani hidup sebagai anak rumahan karena beberapa alasan. Dan, ternyata, alasan utama yang tak disangka-sangka adalah, saya berlatih menjaid ibu rumah tangga. Tak lama ketika saya memutuskan untuk berhijrah (baik secara domisili maupun spiritual), saya dilamar. Beberapa bulan ke depan sejak hari ini, saya menyibukkan diri dengan perencanaan pernikahan bersama keluarga saya dan calon suami.

Balik lagi ke keranjang cucian.

Kali ini tentu saja saya mencuci sendiri.

Dan, alamak!

Bisa dibayangkan? Pakaian tipis-tipis saya sudah berpindah tangan, dan kali ini, saya harus mencuci pakaian kelas berat termasuk gamis-gamis katun, rok lebar, dan aneka baju yang diklasifikasikan sesuai fungsi: baju untuk keluar, baju untuk salat, baju untuk tidur. Sekarang, saya menjadi super hati-hati karena memang, baju itu sangat rentan terkena najis. Baju yang terkena najis, tak bisa dipergunakan untuk salat. Jadilah, baju bertumpuk-tumpuk. Keranjang cucian selalu penuh. Tak hanya baju sendiri, kali ini, baju orang serumah ya harus dicuci juga. Sejak dulu selama ayah-mama saya berumah tangga, tak pernah sekalipun kami mempekerjakan pembantu.

Setiap kali mencuci, saya harus berhadapan dengan tumpukan baju yang banyaknya sekitar 2 kali lipat dari tabung mesin cuci. Oh ya, saya pakai mesin cuci. Tapi, karena sangat perfeksionis, saya kadang mengucek ulang pakaian yang kira-kira memang dipakai untuk aktivitas luar ruangan, dan tentu saja celana dalam dan bra. Ada beberapa adab dalam Islam untuk mencuci pakaian supaya bebas najis. Ini yang membuat “adegan” mencuci ini menjadi semakin dramatis dan cenderung lama. Saya biasa menghabiskan 2 hingga 3 jam untuk mencuci, mengeringkan, dan menjemur pakaian. Oh ya, tempat jemur pakaian ada di lantai 2. Biasanya saya bolak-balik 2- 3 kali hingga semua pakaian terjemur dengan sempurna.

Capek?

Super capek sekali.

Sedih? Mengeluh?

Oh tidak. Saya tadi cuma cerita, dan mudah-mudahan teman-teman punya bayangan, ya?

Saya bahagia saja dengan keranjang cucian yang kali ini meluber karena memang jenis dan bahan pakaian saya yang berbeda dengan sebelumnya. Kebahagiaan ini memang harus dibayar dengan tenaga, waktu dan deterjen :)

Tapi, insyaAllah, semua akan baik-baik saja.

Saya yang malas dan gerah-an ini saja bisa sangat berbahagia setelah berhijrah, meski banyak tantangan. Saya yakin, teman-teman juga pasti bisa, bahkan lebih baik dari saya.

Bismillah.

Tak pernah telat untuk kembali padaNya dan menjadi hamba yang bertakwa <3

Semoga harimu menyenangkan <3

Love,
S

Selasa, 09 September 2014

Mojokerto, Jawa Timur di #JadwalKelanaShei


Halo teman-teman!
Ini adalah posting pertama yang mengawali #JadwalKelanaShei, dimulai pada
kota pertama yakni Mojokerto. Ada yang tau ini di mana? Coba cek:

Gambar 1: Peta Mojokerto, Jawa Timur (Sumber: Google Maps)

Kota Mojokerto terletak 50 KM di barat daya Surabaya. Mojokerto termasuk kota terkecil di Jawa Timur, luasnya hanya 16,46 km2. Namun, kota Mojokerto ini dikelilingi oleh kabupaten yang cukup besar, dengan 18 kecamatan seluas 692,15 km2.

Tujuan saya ke sana sebenarnya dalam rangka ikut nimbrung di perayaan ulang tahun pertama Save Street Child Mojokerto. Gerakan Save Street Child yang ada di Kota Mojokerto ini sedang lucu-lucunya di usia pertama mereka.

Kembali lagi ke pembahasan tentang Mojokerto, ada beberapa tourist attraction yang wajib dikunjungi, apa sajakah?


1) Alun- alun kota:
Menjadi keniscayaan kalau mampir ke sebuah kota kecil, langsung cari alun-alun. Para pengelana (biasa disebut backpacker) memegang prinsip ini untuk menjelajah kota sejak awal. Alun-alun merupakan jantung kota tersebut, tentu saja, fasilitas di sekitarnya pun memadai untuk turis. Entah sekedar mengaso, solat, cari makanan layak, maupun numpang nge-charge piranti elektronik di beberapa bangunan publik yang menyediakan colokan listrik.

Kalau kapan-kapan mampir ke Mojokerto, jangan kaget kalau pedagan kaki lima dipindahkan ke Jalan Benteng Pancasila yang tak jauh dari kediaman walikota Mojokerto. Meski begitu, masih ada pedagang kecil-kecil yang masih nekat berjualan di sekitar alun-alun, terutama di akhir pekan.


Gambar 2: Alun- alun Kota Mojokerto

2) Situs Peribadatan Bersejarah:
Ada tiga situs peribadatan bersejarah yang layak dikunjungi, yakni Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat, Masjid Agung Al-Fattah dan Klenteng Hok Siang Kiong. Gereja dan Masjid didirikan pada masa penjajahan Belanda, sekitar tahun 1878-an, sedangkan Klenteng dibangun sekitar tahun 1895.

Gambar 3: Gereja, Masjid Agung dan Klenteng 

3) Pemandian Air Panas Pacet:
Pacet yang berhawa sejuk ini dihangatkan dengan hadirnya pemandian air panas yang cukup terkenal di sekitar Mojokerto: Padusan Air Panas Pacet. Sebetulnya, padusan ini sudah masuk ke kabupaten Mojokerto, bukan lagi di sekitar kotanya. Namun, patut dicoba! Jaraknya hanya 30 KM (lumayan yaaa). Pemandian ini termasuk salah satu dari beberapa objek wisata di Wana Wisata Pacet. Air panas yang mengandung belerang di Padusan Air Panas Pacet ini digemari turis-turis baik dalam kota maupun luar kota.

Gambar 4: Padusan Air Panas Pacet

4) Situs Trowulan:
Kalau kamu suka sejarah indonesia, pasti tau kalau Indonesia dulu punya Mighty Ruler bernama Kerajaan Majapahit. Kerajaan legendaris yang sangat berkuasa ini memiliki peninggalan di Mojokerto, bernama Trowulan. Gosip-gosipnya sih, Trowulan ini dulu ibukotanya Majapahit. Untuk mengetahui lebih lengkap informasi tentang Trowulan, silakan baca-baca di sini.


Gambar 5: Situs Trowulan

5)  Top 3 World's Largest Sleeping Buddha
Siapa sangka, kota kecil seperti Mojokerto punya patung Buddha tidur yang masuk dalam Top 3 World's Largest Sleeping Buddha? Patung Buddha tidur berukuran 22 m x 6 m x 4,5 m itu memiliki kepopuleran yang bersandingan dengan patung Buddha tidur lain di Thailand dan Nepal. Letak Patung tidur Budha ini ada di Vihara Majapahit, Jl. Candi Brahu Gang I, Desa Bejijong, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Di Indonesia sendiri, ada 2 Patung Budha tidur lainnya, selain di Mojokerto, yakni di Vihara Dhammadipa Arama, Malang dan Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong, Semarang.

Gambar 6: Sleeping Budha Statue, Mojokerto

Kota boleh kecil, tapi potensi wisata kudu besar.
Gimana?
Tertarik untuk berkelana kemari?

(Shei/2014)

Ask Me Anything:
sheilayla@yahoo.co.uk

Senin, 08 September 2014

#JadwalKelanaShei, Apakah?


Beberapa minggu terakhir, kehidupan offline saya begitu membahagiakan. Betapa tidak, dalam kurun waktu 15 hari, saya bisa menjelajahi 3 negara sekaligus. Tidak terhitung ada berapa kota yang saya singgahi, sekedar untuk check-in di path, foto-foto, maupun benar-benar bergumul dengan penduduk lokal dan menikmati keindahan alam serta keajaiban setiap detik hirupan udara di sekitar.

Keputusan saya untuk meninggalkan Ibukota dan memulai kehidupan baru di kampung halaman, Surabaya, sungguh tidak disesalkan.

Dari kehidupan baru tersebut, lahir berbagai pengalaman baru, termasuk kesempatan untuk mengarungi bab-baru yang sedang berjalan. Sungguh menyenangkan! Bagian ini akan saya ceritakan nanti jika saatnya tiba. Kali ini, saya akan cerita tentang #JadwalKelanaShei.

Jadwal ini tidak sengaja saya bikin, setelah melihat jadwal padat kelayapan dalam kurun waktu 15 hari non-stop! Melelahkan? Pasti. Tapi juga sangat ajaib! Betapa tidak, Tuhan dan semesta mengatur perjalanan menjadi berkah, baik dari segi pembiayaan yang kebanyakan dibantu teman dengan sukarela, dan lancarnya plesir tanpa mara-bahaya. Sungguh sangat bersyukur, bisa mendapat pengalaman berharga seperti itu.

Silakan dibaca di posting terpisah kisah #JadwalKelanaShei pada laman berikut:
*coming soon*


Doakan bisa berkelana di Iceland, ya, teman-teman. Supaya saya bisa menulis tentang Aurora Borealis dan dinginnya es di sana :D

See you on the next trip!
Love, Shei

Minggu, 31 Agustus 2014

Disclaimer Posting Yayasan Ponpes Mambaul Hidayah

Halo teman-teman
*bersihin sarang laba-laba di blog*
Lama banget yaa nggak update blog, ini karena kehidupan offline lebih menyenangkan ketimbang online-online. Saya menghabiskan waktu untuk berkelana selama hampir 15 hari ini ke lebih dari 5 kota dan 2 negara yang berbeda. Jadi, maafkan respon yang sangat lambat ini.

Disclaimer aja,
Setelah beberapa hari ini ramai dibicarakan, mengenai transparansi Yayasan Ponpes Mambaul Hidayah dalam blogpost saya ini http://sheilayla.blogspot.com/2013/07/yayasan-ponpes-mambaul-hidayah-butuh.html, seperti yang disebutkan dalam blogpost pengelolanya di sini: http://dimasafkar.tumblr.com/.

Tugas saya sejak awal hanya menyampaikan informasi, terutama yang berhubungan dengan Crowd-funding, tidak ada unsur lain. Saya pun selalu mencantumkan langsung sumber rekening tujuan donasi, tidak melalui akun rekening saya, cyiiin.... Jadi begitulah, tugas saya hanya sebagai penyampai informasi, dan sepertinya, tugas itu telah selesai.

Saya juga memverifikasi setiap informasi mengenai crowd-funding ini melalui relawan lokal terdekat dengan tujuan donasi. Dalam hal ini, saya dibantu beberapa teman, namun, semakin hari, banyak masyarakat yang sangsi akan kredibilitas yayasan ini. Saran saya, lebih baik langsung menginvestigasi ke lokasi dan membuktikan tuduhan-tuduhan tersebut lalu segera diproses secara hukum, kalau memang serius. Kalau tidak, lebih baik tak usah sok tau, karena akan semakin meresahkan. Marilah saling tolong menolong dalam kebaikan, bukan sebaliknya. Negara ini masih berlandaskan hukum, kok. Jadi, mari taat azas :)

Untuk keterangan mengenai penggunaan dana, kredibilitas yayasan, dan informasi lain, dapat menghubungi langsung pengurus yayasan di: Jalan Umbul sari Gang 1 No.3, Paleran- Umbulsari, Jember. Nomor telepon 0331- 7854560. 

Demikian dan,
Saya akan melanjutkan kembali #JadwalKelanaShei, menuju Islandiaaaaaaaa~

Salam sayang,


Shei Latiefah
sheilayla@yahoo.co.uk


Senin, 30 Juni 2014

Hijab Ini Tanda Aku Mencintaimu, Allah



Hari ini adalah hari istimewa, untuk menunjukkan bahwa, aku adalah orang yang bersyukur.

Dilahirkan di keluarga yang (InsyaAllah) relijius, dan kakek-nenek yang menjadi ulama lokal di Jombang, aku termasuk anak yang sangat beruntung! Belajar agama sudah dimulai sejak kecil, berbuat baik, menjadi orang yang selau murah hati, ringan tangan, untuk menolong, diajarkan sejak usia dini. Terima kasih pada Ayah, Ibu dan keluarga serta teman-teman yang selalu menginspirasi dan mengingatkan. Hal-hal itulah yang membuat hari-hariku selalu ceria (sedih dan marahnya disimpan aja, nggak usah ditunjukkin). Selama ini, Allah menyayangiku, lewat keluarga, teman, semesta yang mempermudah hidupku untuk selalu dijalani dengan semangat.

Aku sudah pernah berhijab, tepatnya 1-2 tahun waktu SMA. Hijab yang menurutku seru, aku iseng ikutan teman. Lalu, karena pindah ke Jakarta, aku lepas. Aku gerah. Aku malas. Dan aku mulai bereksperimen dengan beraneka macam pakaian yang terlihat sangat bagus, karena aku kurus (baru-baru ini).

Lalu, mengapa aku berhijab?
Tentu saja, aku sudah dengar kutipan ayat, nasihat-nasihat, hingga omelan keluarga. Waktu aku lepas jilbab, dunia serasa neraka. Jangan dikira mudah, melepas jilbab tantangan berat, aku sampai pernah disidang di rektorat karena itu! Yang pada akhirnya bikin aku sebal, dan mantap untuk tidak berhijab sebagai simbol perlawanan. Wong, hak pribadi kok di-oyok-oyok, pikirku waktu itu.

Lalu, mengapa aku berhijab?
Cuma aku dan Allah yang tau. Kami bercakap dalam sunyi, dan melewati hati. Aku tak perlu cerita. Tapi, aku nyaman dengan hijabku kali ini. Aku bersyukur. Aku dicintai. Untuk itu, hari ini, aku menunjukkan kalau aku mencintaiNya kembali. Allah Maha Baik.


Bismillah.
Semoga istiqomah :)


Djakarta, 1 Juli 2014

Rabu, 25 Juni 2014

13 Jurus Antisipasi Pedofil


(picture taken from here)

Memiliki anak memang anugerah tersendiri. Tapi, ini juga menjadi alarm para orang tua untuk selalu waspada. Pelecehan terhadap anak kian meningkat, Arist Merdeka Sirait, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyatakan bahwa jumlah kasus kekerasan seksual pada anak meningkat dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 2012 jumlahnya 124 kasus, tahun 2013 mencapai 1,937 kasus. Untuk tahun 2014, sudah mencapai 200 kasus dengan jumlah korban hampir hampir 300 anak (baca berita ini)

Apakah anak anda aman?

Jawabannya mungkin, belum tentu. Iya. Jurus antisipasi harus selalu di-upgrade seiring makin canggihnya modus kasus kejahatan terhadap anak. Salah satu yang menjadi fokus keprihatinan saya adalah tentang “kejahatan seksual”, dan sebagai antisipasi, para orang tua seharusnya memang mengajarkan 13 Jurus Antisipasi Pedofil berikut ini pada anak:

1. Ingatkan anak anda (terutama perempuan) untuk TIDAK DUDUK DIPANGKU oleh siapapun, bahkan oleh paman sendiri.

2. Hindari berganti pakaian/ telanjang dihadapan anak-anak sejak usia mereka baru 2 tahun. Bergantilah di ruang privat. Hal ini juga berlaku untuk anak-anak, hindari memandikan mereka/ mengganti pakaian di tempat umum.

3. Jangan pernah perbolehkan siapapun memanggil anak anda dengan sebutan “istriku” atau “suamiku”

4. Jika anak anda bermain dengan teman-temannya, selalu perhatikan apa yang mereka mainkan. Anak-anak sekarang pun bisa menjadi pelaku perkosaan (baca berita ini)

5. Jangan pernah memaksa anak untuk mengunjungi orang dewasa yang mereka tak sukai (kemungkinan ada hal tertentu yang buat mereka tak nyaman). Observasi, ajak anak bicara dan lakukan aksi yang perlu.

6. Curigai jika anak anda terlalu lengket dengan orang tertentu. Masih, observasi, ajak anak bicara dan lakukan aksi yang perlu.

7. Lakukan edukasi untuk anak anda tentang seksualitas. Jika tidak, maka, masyarakat yang akan berikan edukasi delusional dan nilai-nilai yang salah.

8. Selalu lakukan inspeksi terlebih dahulu terhadap bacaan/ tontonan baru anak-anak anda.

9. Yakinkan bahwa “Mode Panduan Orang Tua” selalu aktif di TV kabel/ internet anda, dan pastikan di lingkungan terdekat yang biasa anak-anak kunjungi juga.

10. Ajari anak usia 3 tahun untuk melakukan sendiri aktivitas “cebok” dan “mandi”. Beritahu mereka untuk tidak membiarkan orang dewasa lain melakukannya (bahkan anda sendiri).

11. Blacklist beberapa hal yang dapat membahayakan kejiwaan anak anda seperti musik, film, bahkan teman-teman/ keluarga yang suka membully.

12. Ajari anak untuk mengerti bahwa, sesekali mereka harus keluar dari mainstream, jika memang nilai-nilai mereka terganggu.

13. Jika anak anda mulai komplain terhadap perlakuan seseorang, lakukan aksi dan tunjukkan bahwa anda adalah orang tua yang dapat dipercaya dan diandalkan.

Silakan diteruskan ke para orang tua lainnya ya jika informasinya dirasa perlu. 
Have a nice day =)

Disadur dari: berbagai sumber

Kamis, 12 Juni 2014

SURAT TERBUKA FIFA: Lingkaran Kecil, Lingkaran Besar




“…..jangan sampai kedatangan saya di Metro TV ini juga dipolitisasi lho, ya” kata saya dengan senyum-senyum ke Mas Indra, presenter Prime Time News Metro TV. beberapa saat setelah ia menanyai motif melayangkan surat terbuka ke FIFA.  


Cerita Tentang Saya
Saya ini orang yang sangat cuek terhadap diri sendiri. Hidup saya biasa-biasa saja, ini yang membuat saya banyak mikir di luar diri saya. Karena, pada dasarnya, saya orang yang bahagia. Lahir di keluarga mampu dan utuh serta memberikan limpahan kasih sayang. Belum lagi memiliki teman-teman penggerak yang mau diajak mimpi besar untuk berkontribusi bagi negri ini melalui Save Street Child. Mereka ada di seluruh Indonesia. Iya, anak-anak muda yang sangat keren! Saya beruntung.

Tapi, saya sangat rewel terhadap hal-hal yang saya rasa tidak benar, dan kira-kira bisa diperbaiki. Nanti saya akan cerita. Ini adalah tentang lingkaran kecil, dan lingkaran besar. Lingkaran kecil, menurut saya, menyangkut tentang hal-hal remeh, yakni tentang diri sendiri dan tentu saja kelompok yang berafiliasi dengan kita. Lingkaran besar, di lain pihak, berisikan hal-hal yang menyangkut kepentingan publik, dalam ranah yang lebih luas lagi.

Akhir-akhir ini saya sedang mendapat durian runtuh atas opini saya tentang “netralitas media” yang tertuang pada Surat FIFA. Kebetulan, kasusnya adalah tentang bagaimana menjaga netralitas media selama masa kampanye, melalui siaran piala dunia. Siapa yang tidak menunggu Piala Dunia? Perhelatan sepak bola terbesar di dunia yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali ini mungkin dinantikan oleh semua orang di berbagai belahan bumi.



Surat Terbuka FIFA & Frekuensi Publik
Oya, mau tau cerita tentang Surat FIFA?
Begini ceritanya,
Saya menulis sebuah surat terbuka pada FIFA supaya momen Piala Dunia tidak dipolitisasi. Saya sebagai publik sudah jengah dengan banyaknya iklan-iklan politik manipulatf yang dibalut dalam siaran-siaran TV tanpa mengindahkan aturan kampanye. Saya rasa teman-teman bisa baca berita tentang surat KPI ke Kemkominfo mengenai pelanggaran-pelanggaran P3/SPS olehbeberapa stasiun TV.

Mengapa hal ini sampai terjadi? Ini mengingat kepemilikan stasiun TV. Sebut ada berapa pemilik Stasiun TV di Indonesia? Dia lagi, dia lagi kan? Nah itulah. Konglomerasi media ini sebetulnya tidak sehat (entah kenapa masih dibiarkan saja). Tapi, ya bisnis, teman-teman. Lagi-lagi kita akan bicara tentang kepemilikan modal. 

Tahukah kamu?
Secara bisnis, stasiun-stasiun TV memang dimiliki oleh konglomerat. Orangnya itu-itu saja. Tapi, secara perundangan, frekuensi siaran itu milik publik, lho. Iya, frekuensi itu milik kita. Dan memang seharusnya digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan kita dong yah. Baca Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3/SPS) ini yang berisi aturan-aturan tentang penyiaran. 

Pernah dengar “Kode Etik Jurnalistik”? Nah, dalam penyiaran, ada tambahan aturan. Jika Kode Etik Jurnalistik mengikat konten pemberitaan, P3/SPS ini mengikat tentang teknis dan bagaimana seharusnya sebuah stasiun televisi mengudara dalam kanal informasi kita. 

Teman-teman harus tau kalau frekuensi itu jumlahnya terbatas, dan kabar baiknya adalah, itu dikelola oleh negara dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk publik. Terdengar klise? Ya begitulah norma, memang normatif. Tapi, bagaimana mungkin kita “bermain” tanpa adanya “aturan”? Nanti malah saling tabok lho =D

Nah, kembali lagi ke topik Surat FIFA.

Jika ditarik motif utama saya menulis surat terbuka untuk FIFA, tentu saja, antisipasi terhadap politisasi sepak bola, atas nama keadilan dan merebut kembali frekuensi publik yang selama ini dijajah. 

Kenapa menulis surat ke FIFA? Ya karena FIFA-lah yang punya lisensi penayangan Piala Dunia, dan 2 TV terbesar di Indonesia itulah yang punya hak siarnya. Mbak Soraya Hylmi juga sudah membahas kan? Lisensi tersebut memiliki aturan-aturan dan penayangannya tidak boleh merusak konten yang seharusnya (lihat video).



Rebut Kembali Frekuensi Publik
Kita juga tahu, 2 TV pemegang hak siar itu cenderung memihak ke capres tertentu. Dalam momentum Piala Dunia ini, saya kehabisan kesabaran dan akhirnya mencoba merebut perhatian publik dengan menuliskan surat terbuka, yang, alhamdulilah, mendapat animo luar biasa.

Ini baru awal, teman. Kalau teman-teman mau ikut berjuang MEREBUT KEMBALI FREKUENSI PUBLIK, mari kita sama-sama bikin petisi nanti. Kita bantu KPI dan Bawaslu supaya betul-betul bekerja dengan giat, menyingkirkan sampah-sampah politik yang tak berimbang dan melanggar aturan kampanye (kampanye harus adil kan? Tidak berat sebelah? Hehe....)

Lagi-lagi ngomongin netralitas media ya?

Iya.

Ini penting.

Karena, tidak banyak orang yang sepintar teman-teman ini. Eksposur konten yang berisi kampanye berat sebelah bisa jadi mempengaruhi opini publik, dan yang pasti, sangat menganggu. Atau, teman-teman mungkin tidak keberatan ya misal ada capres tertentu yang mendadak jadi komentator pertandingan atau bahkan mengeblok layar TV dengan iklan politik? Hehe....

Media seharusnya netral. 

Benarkah?

Oh tentu tidak. Media seharusnya MEMIHAK. Keberpihakannya itu tentu harus pada KEPENTINGAN PUBLIK. Harus diperbesar ya, supaya kita mengerti. Asal teman-teman tahu, Politisasi ini sudah terjadi sejak jaman dulu kala. Sejak jaman TVRI masih dikuasai Orba pun. Kita tak akan dengar adanya berita tentang pemerintah yang korup. Tidak akan pernah. 

Namun, di era keterbukaan informasi seperti sekarang, ketika siaran TV menjadi lebih bebas, blunder terjadi dimana-mana. Para konglomerat sekarang saling gontok-gontokan. Ehehe... Saya masih ingat penyebutan musibah lumpur sebagai “LUSI” (Lumpur Sidoarjo) di beberapa stasiun TV yang dimiliki oleh orang yang berkasus itu. I know, right?
 



Bedakan Hak Berpolitik dengan Merebut Kembali Ruang Publik
Banyak yang menyangka, saya menulis Surat FIFA itu karena motif pribadi saya mendukung capres tertentu. “Coba kalau yang punya hak siar itu Metro, Mbak Shei pasti gak akan nulis,” semprot seseorang di media sosial, tepat ketika saya memutuskan untuk menyiarkan surat tersebut di blog. Saya cuma senyum dan mencoba mengerti. Wajar saja muncul opini seperti ini karena dalam postingan lain di blog, saya jelaskan saya mendukung salah satu capres. 

Saya tidak masalah dengan dugaan seperti itu, asal bisa dibuktikan. Soalnya, ketika saya mendapat slot untuk menjelaskan mengenai kekhawatiran politisasi piala dunia di Metro TV malam lalu (11/06), saya juga menegur Metro TV (lihat video). 

Saya minta, Metro TV dapat menjaga independensi selama masa kampanye ini, supaya dapat memberikan informasi secara berimbang. Tahu tidak? Metro TV mendukung siapa? Mereka dukung capres pilihan saya lho, hehe.... Saya tidak peduli. Metro TV itu instansi media. Ia harus adil juga, tanpa terkecuali.

Pembawa acara diskusi malam itu senyum-senyum mendengar celotehan saya, karena, kita semua tahu, bagaimana media-media itu bermain selama masa kampanye. Memuakkan sekali, ya? Itulah, for the sake of fairness, saya memilih untuk menanggalkan kepentingan politik pribadi demi kepentingan yang lebih besar (saya bisa saja kampanye untuk mendukung calon presiden saya, kebetulan acaranya LIVE jadi tak mungkin ada CUT dari produser).

Saya sudah jelaskan di atas. Ada lingkaran kecil, ada lingkaran besar. Hak politik pribadi termasuk lingkaran kecil. Hak untuk mendapatkan informasi mengenai siapa nanti yang akan dipilih, merupakan lingkaran besar.

Kalau teman-teman menonton acara diskusi “Prime Tme News” di Metro TV semalam, teman-teman dapat melihat fokus dari Surat FIFA saya. Dan tenang saja, saya cuma gadis kecil yang sedang gelisah terhadap ketidakadilan. Dan saya adalah bagian dari kamu semua (senyum).

Jadi, mau hidup di lingkaran mana?

Selamat beraktivitas.

Salam sayang,
Shei


  


P.S:
Tayangan Prime Time News Metro TV kemarin berlangsung LIVE, tapi sudah direkam oleh web resmi dan dapat dilihat per segmen disini, disini, dan disini.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More